Kepemimpinan NU Dituntut Mampu Satukan dan Kuatkan Peran Masyarakat Sipil

6 jam yang lalu 2

Jakarta, NU Online

Pembina Presidium Nasional Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (Ikapete) KH Ma’ruf Amin menegaskan dua unsur yang harus dimiliki pemimpin NU yakni kemampuan al-Ishlah wal Ishlah. Dua kriteria berbeda tersebut ia sampaikan dalam acara Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung Nusantara V, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Ia memaknai ishlah pertama sebagai kemampuan meredam dan mendamaikan pihak-pihak yang tengah berkonflik, mengingat beragam potensi yang dimiliki. Spirit kesatuan ini menjadi kunci dari perjuangan Nahdlatul Ulama. 

"Jadi mendahulukan maslahat jam'iyah NU daripada maslahat pribadi atau kelompok. Kalau kepentingan pribadi, kepentingan kelompok itu didahulukan, maka tidak akan ada kesatuan," kata Kiai Ma'ruf.

Ishlah kedua, jelasnya, yakni pergerakan untuk memperbaiki keadaan. Pemimpin NU dituntut untuk mampu memperbaiki gerakan agar sejalan dengan fikrah dan manhaj nahdliyyah. Tindakan ini ia istilahkan dengan tashihul harakah (meluruskan gerakan).

"Tapi kalau fikrahnya (pemikiran), fikrah fulaniyyah (perorangan), manhajnya (metodologi), manhaj fulaniyyah, maka harakahnya jadi harakah fulaniyyah. Kacau itu! Itu tidak sesuai dengan Qanun Asasi, sudah keluar dari Khittah," ujar Mustasyar PBNU itu.

Selain itu, kepemimpinan NU disebut harus mampu memperbesar dampak manfaat di semua tingkatan (tabshitul harakah). Gerakan ini dalam rangka menjangkau pengabdian NU di semua dimensi, mulai dari keagamaan, kemasyarakatan, politik, ekonomi hingga budaya.

Ia juga menekankan pentingnya mengubah kepemimpinan yang mengejar kuantitas, tetapi harus meningkatkan kualitas. Untuk itu, ia menegaskan pentingnya berorganisasi dengan landasan pemahaman terhadap pemikiran dan metodologi yang kuat.

"Ke depan kita harus membangun ber-NU 'ala bashirah (atas ketetapan hati), bukan 'ala bisyarah (atas keuntungan materi)," ajak Kiai Ma'ruf dilanjutkan dengan mengutip Al-Qur'an surat Yusuf ayat 8 berikut penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani.

 "Jadi, NU-nya bukan hanya karena dia ikut guru, ikut orang tua, ikut teman. Jadi ikut-ikutan saja. Kalau ikut-ikutan ini, ketika yang diikuti itu belok, ikut juga belok dia. Itu kualitas. Maka minimal pengurus dari PB, wilayah, cabang-cabang, semuanya harus ber-NU 'ala bashirah, jangan ala bisyarah," imbuh Kiai Ma'ruf.

Sementara itu, Cendekiawan Muslim Komaruddin Hidayat menilai bahwa organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam memiliki peran penting sebagai kekuatan masyarakat sipil. Peran mengingatkan, mengkritik, sekaligus membantu negara menjalankan amanatnya kepada masyarakat. 

Menurutnya, peran tersebut harus diperkuat dengan kemampuan melakukan amar ma'ruf nahi mungkar terhadap kebijakan dan penyelenggaraan negara.

“Tugas umat Islam itu adalah mengingatkan negara, menegur negara, menagih kepada negara,” ujar Komaruddin.

Ia menilai, selama ini umat Islam lebih banyak menjalankan amar ma'ruf, sementara aspek nahi mungkar masih perlu dirumuskan secara lebih konkret. Sebab, dampak kemungkaran yang dilakukan oleh penyelenggara negara jauh lebih luas dibandingkan jika terjadi pada lingkup individu.

“Kalau yang melakukan kemungkaran itu hanya ulama, kiai, itu dampaknya enggak seberapa. Tapi kalau kemungkaran itu terjadi pada negara, dampaknya besar sekali,” katanya.

Dengan demikian, ia mendorong pengembangan fiqih siyasi untuk menjawab bagaimana umat Islam menjalankan fungsi kontrol terhadap negara dalam konteks kehidupan bernegara modern.

Ia juga mengkritisi mahalnya biaya politik yang berpotensi membuat partai politik bergantung kepada pemodal. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi independensi partai dalam memperjuangkan aspirasi rakyat.

Menurutnya, kritik tentang pentingnya bashirah tidak hanya ditujukan kepada NU, tetapi juga partai politik sebagai representasi suara rakyat.

Ia kemudian organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah memperkuat posisi sebagai civil society yang kritis sekaligus konstruktif terhadap negara.

“Ketika kita bergabung pada negara, harus dengan sikap kritis, amar ma'ruf dan mungkar, tidak semata mengejar bisyarah, tapi ke sana dengan mata hati bashirah,” tuturnya.

Baca Artikel Selengkapnya