Jakarta, CNN Indonesia --
Sebanyak 200 penumpang kapal pesiar mewah Villa Vie Odyssey terdampar di Kamboja setelah operator kapal menghentikan sementara operasional akibat lonjakan biaya bahan bakar.
Perusahaan asal Amerika Serikat itu kini berupaya menyusun rencana penurunan penumpang dan menyediakan akomodasi sementara bagi mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapal yang tengah menjalani pelayaran keliling dunia selama bertahun-tahun itu memerintahkan penumpangnya turun di Sihanoukville, kota pelabuhan di Kamboja. Para penumpang kini menginap di sejumlah hotel sambil menunggu kepastian apakah pelayaran akan kembali beroperasi.
Operator Villa Vie Odyssey menyatakan kenaikan biaya bahan bakar yang luar biasa membuat perusahaan kesulitan mempertahankan operasional. Biaya bahan bakar bulanan per kabin di sejumlah wilayah Asia dilaporkan melonjak dari US$1.800 menjadi US$8.000.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah lonjakan harga bahan bakar global sejak perang Iran dimulai pada awal tahun ini.
Perusahaan mengatakan telah mengambil sejumlah langkah untuk menekan pengeluaran, termasuk memperlambat perjalanan kapal dan memperpanjang waktu singgah di pelabuhan. Namun, upaya itu belum mampu mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar.
"Menerapkan kenaikan penuh kepada warga bukanlah solusi yang realistis," demikian pernyataan perusahaan, seperti dilaporkan BBC.
Villa Vie Odyssey menyatakan akan menggunakan 60 hari ke depan untuk melakukan "restrukturisasi dan rekapitalisasi". Meski demikian, perusahaan mengingatkan belum ada kepastian mengenai hasil dari proses tersebut.
Jumlah penumpang yang berada di kapal ketika operasional dihentikan belum diketahui secara pasti. Namun, kapal sepanjang hampir 200 meter itu mampu menampung hingga 650 penumpang.
Salah satu penumpang, Holly Hennessey, mengatakan bahwa dirinya bertahan di Kamboja sambil menunggu perkembangan terbaru dari perusahaan.
"Negara itu bukanlah salah satu tempat yang saya pertimbangkan untuk menghabiskan banyak waktu," kata Hennessey kepada BBC.
Ia mengatakan para penumpang kini tinggal di hotel yang berbeda-beda. Sejumlah penumpang juga menginap di hotel yang sama dengannya.
"Kami semua menginap di hotel yang berbeda; ada beberapa rekan pelaut di hotel tempat saya menginap. Kami hanya menunggu," ujarnya.
Villa Vie Odyssey sebelumnya berangkat dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024 untuk menjalani pelayaran keliling dunia selama sekitar 3,5 tahun. Berdasarkan situs resmi perusahaan, perjalanan tersebut dirancang mencakup hampir 150 negara.
Namun, perjalanan kapal sempat mengalami penundaan sejak awal akibat perbaikan. Kondisi itu membuat sejumlah penumpang terlantar di Belfast selama berbulan-bulan dan menyebabkan perusahaan mengalami kerugian jutaan pound sterling.
Sebelum menangguhkan operasionalnya, kapal tersebut telah berlayar keliling dunia selama lebih dari 750 hari.
Villa Vie Odyssey menawarkan fasilitas kapal pesiar, termasuk sejumlah bar dan restoran, dek kolam renang, serta lapangan pickleball. Perusahaan juga menawarkan kabin untuk penghuni yang ingin menjalani kehidupan dalam jangka panjang di laut.
Harga kabin untuk hunian permanen berkisar antara US$120.000 hingga US$440.000. Sementara itu, penumpang yang ingin menyewa kabin dapat membayar mulai dari US$3.500 per bulan.
Pada tahun lalu, perusahaan meluncurkan program hunian seumur hidup yang menyasar orang-orang yang ingin menghabiskan masa pensiun mereka di laut.
Pada 2024, beberapa hari setelah Donald Trump memenangkan masa jabatan keduanya sebagai Presiden AS, Villa Vie Residences juga memperkenalkan paket perjalanan selama empat tahun bernama "Skip Forward".
Saat itu, CEO perusahaan mengatakan kepada Fox Business bahwa paket tersebut dirancang bagi orang-orang yang pernah menyatakan ingin meninggalkan AS jika kandidat tertentu memenangkan pemilihan presiden.
Hennessey mengatakan para penghuni kapal sebelumnya telah diminta mempertimbangkan pembayaran biaya tambahan bahan bakar seiring kenaikan harga global. Ia juga menyebut rencana perjalanan kapal "sangat dipersingkat".
Menurut Hennessey, beberapa penumpang memilih meninggalkan kapal dan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat. Namun, ia memutuskan tetap tinggal di Kamboja dengan harapan kapal tersebut dapat kembali berlayar.
"Sampai mereka bilang kita sudah selesai - benar-benar selesai - saya tidak akan menyerah. Saya tidak akan pernah bisa meniru gaya hidup ini. Gagasan untuk pulang? Itu akan sangat klise," katanya.
Meski harus menghadapi ketidakpastian, Hennessey menilai situasinya masih bisa diterima selama ia menunggu kepastian dari perusahaan.
"Kamboja bukanlah tempat terburuk untuk dikunjungi," ujarnya.
(rds)

56 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·