Kajian Hadits: Menjaga Kesetiaan Saat LDR di Tengah Godaan Zaman

6 jam yang lalu 2

Hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship (LDR) hari ini bukan sekadar kisah romantika anak muda yang dipisahkan kota dan waktu. Ia telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat modern. Banyak pasangan suami-istri yang harus menahan rindu karena keadaan memaksa mereka berjalan di dua tempat berbeda demi satu tujuan: mempertahankan kehidupan.

Ada yang harus pergi merantau demi nafkah keluarga, ada yang menempuh pendidikan agar masa depan lebih layak, dan ada pula yang menjalankan tugas negara atau amanah pekerjaan yang tak bisa ditolak begitu saja. Dalam situasi seperti ini, jarak bukan lagi pilihan, melainkan konsekuensi dari perjuangan hidup.

Islam memandang persoalan ini dengan cara yang realistis dan manusiawi. Agama tidak memaksa umatnya hidup dalam romantisme tanpa beban. Sebaliknya, Islam memahami bahwa terkadang seseorang harus meninggalkan keluarganya sementara waktu demi kemaslahatan yang lebih besar. Karena itu, hubungan jarak jauh dalam rumah tangga tidak otomatis dianggap sebagai sesuatu yang tercela, selama dilandasi tujuan yang benar dan tetap menjaga batas-batas syariat.

Dalam sejarah Islam, para sahabat Nabi juga pernah mengalami keadaan serupa. Ada yang meninggalkan keluarga untuk berdagang, berjihad, menuntut ilmu, atau menjalankan tugas pemerintahan. Namun, yang selalu dijaga bukan sekadar komunikasi, melainkan amanah dan kepercayaan

Lebih jauh, terdapat salah satu pesan Nabi saw ketika melakakukan bepergian atau hubungan jarak jauh. Nabi bersabda:

فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ وُجْهَتِهِ فَلْيُعَجِّلْ إلَى أَهْلِهِ

Artinya, “Maka apabila salah seorang di antara kalian telah menyelesaikan urusannya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Melalui hadist ini, Nabi saw memberi pesan bahwa sejauh apa pun kita pergi atau LDR, kita harus tetap ingat ada keluarga di rumah yang menunggu kapanpun kita pulang. Oleh karena itu, bila keperluan sudah selesai, maka hendaklah segera kembali.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits tersebut juga menunjukkan kemakruhan meninggalkan keluarga tanpa suatu keperluan. Ia menjelaskan bahwa perpisahan yang terlalu lama tanpa alasan yang jelas dapat mendatangkan mudarat, terutama risiko terlantarnya keluarga yang ditinggalkan.

Sebaliknya, berkumpulnya kembali seorang suami atau istri dengan keluarganya akan memberikan ketenangan batin yang menjadi modal utama dalam memperbaiki kualitas ibadah dan urusan kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan:

 وَفِي الْحَدِيثِ كَرَاهَةُ التَّغَرُّبِ عَنِ الْأَهْلِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ، وَاسْتِحْبَابُ اسْتِعْجَالِ الرُّجُوعِ وَلَا سِيَّمَا مَنْ يُخْشَى عَلَيْهِمُ الضَّيْعَةُ بِالْغَيْبَةِ، وَلِمَا فِي الْإِقَامَةِ فِي الْأَهْلِ مِنَ الرَّاحَةِ الْمُعِينَةِ عَلَى صَلَاحِ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَلِمَا فِي الْإِقَامَةِ مِنْ تَحْصِيلِ الْجَمَاعَاتِ وَالْقُوَّةِ عَلَى الْعِبَادَةِ

Artinya, “Dalam hadits ini terdapat makruhnya merantau meninggalkan keluarga tanpa adanya keperluan, dan sunnahnya menyegerakan pulang, terutama bagi orang yang dikhawatirkan keluarganya terlantar dengan kepergiannya. Hal itu karena berdiam bersama keluarga memberikan ketenangan yang membantu perbaikan urusan agama maupun dunia, serta dengan bermukim (di rumah), seseorang lebih mudah mendapatkan shalat berjamaah dan memiliki kekuatan untuk beribadah.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, [Mesir, Maktabah Salafiyah: 139], Jilid III, halaman 623).

Menjaga Kesetiaan Saat Menjalin Hubungan Jarak Jauh

Ujian terberat dalam LDR adalah menjaga hati saat mata tak lagi saling memandang. Di sinilah konsep Taqwa memainkan peran kunci. Seseorang yang merasa diawasi oleh Allah (Muraqabah) tidak akan berani mengkhianati pasangannya, meskipun pasangannya tidak berada di sampingnya. Menjaga kepercayaan adalah bentuk ketakwaan kepada Allah di mana pun kita berada.

Rasulullah saw berpesan:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Artinya, "Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Tirmidzi).

Dalam hadits lain, Rasulullah saw menjelaskan bahwa salah satu ciri pasangan terbaik ialah mampu menjaga kesetiaannya ketika pasangannya tidak berada di sampingnya. Rasulullah saw bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرٍ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ

Artinya; “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik simpanan seorang lelaki, yaitu istri salehah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Daud)

Makna "menjaga diri" dalam hadits di atas dijelaskan secara panjang lebar oleh Imam Mazharuddin Az-Zaidani dalam kitab Al-Mafatih fi Syarh al-Masabih. Menurutnya, inti dari menjaga diri ialah  menjaga kehormatan dan amanah yang dititipkan pasangan. 

Simak penjelasan berikut ini;

أي: حفظت حقَّه وإنعامه عليها، فلم تَخُنْه بأنْ تُسْلِم نفسَها إلى أجنبي، بل تدوم على عفَّتها وصلاحها، وحفظِ بيت زوجها ومالِه وأولاده، فهذه أيضًا منفعةٌ كثيرة

Artinya; “Maksudnya adalah: Istri tersebut menjaga hak suami dan kebaikan suami atas dirinya. Ia tidak mengkhianatinya dengan menyerahkan dirinya kepada orang asing (lelaki lain), melainkan ia terus menjaga kesucian diri (iffah) dan kesalehannya, serta menjaga rumah suaminya, hartanya, dan anak-anaknya. Ini adalah manfaat yang sangat besar.” (Lihat Al-Mafatih fi Syarh al-Masabih, [Kuwait; Darun Nawadir: 2012], jilid II, halaman 486).

Meski hadits tersebut secara eksplisit berbicara tentang istri, tetapi prinsip menjaga amanah dan kesetiaan juga berlaku timbal balik bagi suami maupun istri. Dalam hubungan jarak jauh, suami juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kehormatan dirinya, menjaga pandangan, serta tidak mengkhianati kepercayaan istrinya selama berada di tempat lain.

Selain menjaga kesetiaan dan amanah, hubungan jarak jauh juga menuntut kemampuan komunikasi yang baik antara pasangan. Sebab, banyak persoalan dalam LDR bukan semata-mata disebabkan oleh jarak fisik, melainkan lemahnya komunikasi yang memicu kesalahpahaman, kecurigaan, dan renggangnya kedekatan emosional.

Dalam hubungan jarak jauh, komunikasi interpersonal menjadi salah satu kunci utama dalam mempertahankan keharmonisan rumah tangga. Keterbukaan, kejujuran, dan intensitas komunikasi menjadi faktor penting dalam menjaga hubungan tetap sehat dan harmonis.

Sebab, tantangan utama dalam LDR sering kali bukan sekadar persoalan jarak, melainkan munculnya rasa curiga, cemburu, kesepian, hingga menurunnya kedekatan emosional akibat minimnya interaksi.

Karena itu, komunikasi yang baik menjadi sarana penting untuk menjaga rasa saling percaya dan menghindari kesalahpahaman. Dengan komunikasi yang sehat, pasangan dapat saling menguatkan, menyelesaikan konflik dengan lebih dewasa, serta tetap menghadirkan rasa kedekatan meskipun terpisah oleh jarak dan waktu. (Armeta Armeta, Peran Bahasa Dalam Mempertahankan Kedekatan Dalam LDR: Strategi Komunikasi Dalam Mempertahankan Kedekatan Pada Hubungan LDR,” [Jurnal Teknik Informatika, Sains dan Ilmu Komunikasi, Vol. 2, No. 3, Juli 2024], halaman 55-66).

Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa Islam tidak melarang hubungan jarak jauh selama dilandasi kebutuhan dan tujuan yang dibenarkan syariat. Namun, hubungan semacam ini menuntut tanggung jawab yang lebih besar dari kedua belah pihak, baik suami maupun istri, untuk sama-sama menjaga amanah, kesetiaan, dan kepercayaan pasangan.

Dalam hubungan jarak jauh, menjaga kepercayaan bukan hanya diwujudkan dengan menjaga diri dari pengkhianatan, tetapi juga dengan membangun komunikasi yang sehat, jujur, dan terbuka. Sebab, komunikasi merupakan salah satu sarana utama untuk menjaga kedekatan emosional, menghindari kesalahpahaman, serta menumbuhkan rasa tenang dan saling percaya meskipun terpisah oleh jarak dan waktu. Wallahu a’lam

------------
Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan

Baca Artikel Selengkapnya