KAAN Belum Siap, Turki Buru 24 Eurofighter dari Qatar dan Oman

1 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Turki mempercepat upaya memperkuat armada jet tempurnya dengan memburu tambahan 24 pesawat Eurofighter Typhoon dari Qatar dan Oman. Langkah tersebut ditempuh ketika Ankara sedang mengembangkan jet tempur generasi kelima buatan sendiri, KAAN, yang diproyeksikan menjadi tulang punggung kekuatan udara Turki pada masa mendatang.

Keputusan mengejar pesawat tempur buatan konsorsium Eropa itu memperlihatkan tantangan yang dihadapi Turki dalam menjaga kesiapan militernya. Di satu sisi, Ankara berambisi membangun kemandirian teknologi pertahanan melalui KAAN. Di sisi lain, angkatan udaranya membutuhkan pesawat tempur modern yang dapat dioperasikan sebelum program nasional tersebut mencapai kesiapan tempur penuh.

Kementerian Pertahanan Turki menyatakan pihaknya masih menunggu rancangan kontrak penjualan dan program pelatihan dari Qatar. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pengarahan rutin kementerian pada Kamis (22/10/2026), sebagaimana dilaporkan Reuters.

Turki sebelumnya telah menandatangani kesepakatan pembelian 20 Eurofighter Typhoon baru dari Inggris pada Oktober 2025. Namun, Ankara juga mengincar 24 pesawat tambahan dari Qatar dan Oman, yang diharapkan dapat diperoleh lebih cepat melalui pengalihan pesawat yang sudah dimiliki kedua negara.

Apabila seluruh rencana terealisasi, Turki berpotensi mengoperasikan 44 Eurofighter Typhoon. Jumlah itu akan memberikan tambahan kekuatan signifikan bagi angkatan udara yang selama beberapa dekade sangat bergantung pada jet tempur F-16 buatan Amerika Serikat.

Namun, pengadaan tambahan 24 pesawat tersebut belum rampung. Negosiasi masih berlangsung dan memerlukan kontrak terpisah dengan negara pemilik pesawat.

Dalam keterangannya, Kementerian Pertahanan Turki menyebut delegasi Ankara dan Doha telah menggelar pertemuan pada Agustus dan September 2026.

Pembicaraan mencakup jenis pesawat dan amunisi yang akan diperoleh, serta pelatihan bagi pilot dan personel pemeliharaan.

Qatar diharapkan menyiapkan rancangan program pelatihan dan kontrak penjualan untuk disampaikan kepada pemerintah Turki.

Perkembangan ini menegaskan bahwa pembelian pesawat tempur tidak berhenti pada penyerahan unit. Pengadaan juga membutuhkan kesiapan pilot, teknisi, fasilitas perawatan, persenjataan, serta sistem pendukung agar pesawat dapat digunakan secara efektif.

F-16 menua, KAAN belum siap menggantikan

Persoalan utama yang dihadapi Turki adalah kebutuhan memperbarui armada tempur dalam waktu relatif dekat.

Selama puluhan tahun, F-16 menjadi tulang punggung kekuatan udara Ankara. Pesawat tersebut digunakan untuk patroli wilayah udara, pertahanan nasional, hingga berbagai operasi militer.

Namun, sebagian armada F-16 Turki merupakan varian lama yang telah digunakan sejak dekade 1980-an dan 1990-an.

Lembaga kajian Centre for Eastern Studies (OSW) yang berbasis di Polandia, dalam analisis pada 3 April 2026, memperkirakan Turki memiliki sekitar 230 hingga 240 unit F-16, dengan sekitar 150 pesawat berada dalam kondisi operasional.

Angka tersebut merupakan estimasi lembaga kajian, bukan pengumuman resmi terbaru Angkatan Udara Turki.

Menurut OSW, sebagian besar pesawat merupakan varian Block 30, Block 40, dan Block 50. Turki juga memiliki F-16 Block 50+ yang diterima pada 2011 hingga 2012.

Kondisi tersebut menimbulkan tantangan dalam mempertahankan kemampuan tempur ketika negara-negara lain mulai mengoperasikan pesawat dengan radar, persenjataan, dan sistem peperangan elektronik yang lebih maju.

Turki sebenarnya sedang mengembangkan KAAN untuk menggantikan sebagian armada F-16 dalam jangka panjang.

Namun, pengembangan pesawat tempur generasi kelima membutuhkan waktu panjang, mulai dari pengujian struktur, mesin, sistem kendali penerbangan, radar, perangkat lunak, hingga integrasi persenjataan.

Keberhasilan sebuah pesawat melakukan penerbangan perdana juga tidak otomatis berarti pesawat tersebut telah siap menjalankan misi tempur.

Sebelum dapat digunakan secara luas oleh angkatan udara, pesawat harus melewati pengujian, sertifikasi, pembentukan kemampuan produksi, dan pengembangan sistem pendukung operasional.

Karena itu, Eurofighter Typhoon dipandang sebagai salah satu solusi untuk mengisi kesenjangan kemampuan selama KAAN masih dikembangkan.

Mengapa memilih Eurofighter?

Eurofighter Typhoon merupakan pesawat tempur multiguna yang dikembangkan melalui kerja sama Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol.

Pesawat ini dirancang untuk menjalankan misi superioritas udara sekaligus serangan terhadap sasaran darat, bergantung pada konfigurasi dan persenjataan yang digunakan.

Bagi Turki, Eurofighter menawarkan kemampuan tempur yang sudah tersedia secara operasional, berbeda dengan KAAN yang masih berada dalam tahap pengembangan.

Kontrak pembelian 20 pesawat baru dari Inggris memiliki nilai hingga 8 miliar pound sterling, atau sekitar 10,7 miliar dolar AS berdasarkan nilai yang diumumkan ketika kesepakatan ditandatangani pada Oktober 2025.

Namun, nilai tersebut tidak hanya mencerminkan harga badan pesawat.

Reuters melaporkan bahwa paket pengadaan mencakup persenjataan, termasuk rudal udara-ke-udara jarak jauh Meteor dan rudal serangan presisi Brimstone, menurut sumber yang mengetahui isi kesepakatan.

Rudal Meteor memungkinkan pesawat tempur menyerang sasaran udara dari jarak jauh, sedangkan Brimstone dirancang untuk menghantam sasaran permukaan secara presisi.

Kehadiran persenjataan tersebut dapat meningkatkan kemampuan Eurofighter dalam berbagai skenario pertempuran.

Meski demikian, kemampuan operasional pesawat tetap bergantung pada konfigurasi radar, sensor, sistem komunikasi, integrasi persenjataan, dan pelatihan awak.

Menurut OSW, pengiriman 20 Eurofighter baru dijadwalkan berlangsung pada 2030 hingga 2033.

Jadwal itu menjelaskan mengapa Ankara tidak hanya mengandalkan pesawat baru dari Inggris.

Dengan memperoleh pesawat bekas dari Qatar dan Oman, Turki berharap dapat mempercepat pembentukan armada Eurofighter tanpa harus menunggu seluruh pesawat baru selesai diproduksi.

Akan tetapi, percepatan tersebut tetap bergantung pada kesepakatan penjualan, izin pengalihan, pemeriksaan kondisi pesawat, serta kesiapan pelatihan dan logistik.

Baca Artikel Selengkapnya