Rahasia Rudal Rusia yang Mengacak-acak Pertahanan Udara Ukraina

1 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rusia meningkatkan tekanan terhadap pertahanan udara Ukraina melalui serangan berlapis yang menggabungkan rudal balistik Iskander-M, rudal Zircon, dan berbagai jenis pesawat nirawak. Serangan tersebut tidak hanya menguji kemampuan Kyiv menghancurkan sasaran di udara, tetapi juga menguras persediaan rudal pencegat yang semakin sulit diperoleh.

Tekanan terbaru terlihat dalam serangan terhadap ibu kota Ukraina pada Rabu (21/10/2026) malam hingga Kamis (22/10/2026) dini hari. Rusia meluncurkan sedikitnya 21 rudal balistik dalam tiga gelombang serangan ke Kyiv, menurut keterangan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang dilaporkan Reuters.

Serangan tersebut terjadi ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri perang kembali dibicarakan. Namun, intensitas operasi udara kedua pihak belum menunjukkan penurunan.

Associated Press melaporkan serangan rudal Rusia di Kyiv menewaskan sedikitnya empat warga sipil dan melukai puluhan orang, termasuk anak-anak. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan akibat hantaman rudal dan pecahan proyektil.

Serangan terhadap Kyiv menjadi gambaran tantangan yang semakin berat bagi pertahanan udara Ukraina. Meski negara tersebut telah menerima sistem pertahanan canggih dari negara-negara Barat, kemampuan menghadapi serangan balistik dalam jumlah besar masih sangat bergantung pada ketersediaan rudal pencegat.

Masalahnya, Rusia tidak hanya mengandalkan satu jenis senjata. Dalam serangan-serangan sepanjang Oktober, Moskow menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, rudal antikapal yang diarahkan ke sasaran darat, serta drone serang dan drone pengecoh.

Strategi tersebut memaksa Ukraina menghadapi ancaman dengan kecepatan, ketinggian, dan pola penerbangan berbeda dalam waktu hampir bersamaan.

Iskander dan Zircon dalam serangan besar

Salah satu serangan yang memperlihatkan kompleksitas ancaman itu berlangsung pada 14 Oktober 2026. Menurut laporan media Ukraina, The New Voice of Ukraine, yang mengutip Angkatan Udara Ukraina, Rusia meluncurkan 167 sarana serangan udara dalam satu malam.

Jumlah tersebut mencakup 128 drone dan 39 rudal dari sejumlah kategori, termasuk Iskander-M, KN-23, S-400 yang digunakan dalam peran serangan, Zircon, dan Onyx.

Pertahanan udara Ukraina dilaporkan berhasil menetralisasi 119 sasaran. Namun, angka itu merupakan gabungan berbagai jenis ancaman, sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan tingkat keberhasilan pencegatan rudal balistik secara khusus.

Perbedaan tersebut penting karena kemampuan menghancurkan drone tidak sama dengan kemampuan mencegat rudal balistik.

Drone serang umumnya terbang jauh lebih lambat dan dapat dihadapi dengan kombinasi senjata antipesawat, sistem peperangan elektronik, serta drone pencegat.

Sebaliknya, rudal balistik bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan memberikan waktu reaksi yang jauh lebih singkat kepada operator pertahanan udara.

Rudal Iskander-M menjadi salah satu senjata utama Rusia dalam serangan terhadap sasaran bernilai tinggi di Ukraina.

Sistem rudal balistik jarak pendek tersebut dirancang untuk menyerang sasaran darat dengan lintasan yang menyulitkan pencegatan. Rudal ini dapat melakukan manuver selama penerbangan dan menggunakan berbagai langkah untuk mengurangi efektivitas pertahanan lawan.

Karakteristik tersebut membuat Iskander-M menjadi ancaman serius bagi fasilitas militer, infrastruktur energi, dan sasaran strategis lainnya.

Sementara itu, Zircon atau 3M22 merupakan rudal yang oleh Rusia dikategorikan sebagai senjata hipersonik.

Rudal yang awalnya dikembangkan untuk menyerang sasaran maritim itu juga dilaporkan digunakan terhadap sasaran di daratan Ukraina.

Zircon memiliki profil penerbangan dan kecepatan yang berbeda dari rudal jelajah subsonik. Kombinasi kecepatan tinggi dan karakteristik lintasannya dapat mempersempit kesempatan pertahanan udara untuk mendeteksi, melacak, dan mencegat sasaran.

Namun, klaim mengenai kecepatan maksimum maupun kemampuan manuver Zircon perlu dibedakan dari hasil pengujian dan pertempuran yang dapat diverifikasi secara independen.

Penggunaan rudal hipersonik juga tidak berarti senjata tersebut mustahil dihancurkan. Ukraina telah melaporkan keberhasilan mencegat sejumlah Zircon.

Kementerian Pertahanan Ukraina menyebut delapan rudal Zircon berhasil dicegat sepanjang September 2026. Angka itu merupakan laporan resmi Ukraina dan belum dapat diverifikasi secara independen untuk setiap pencegatan.

Mengapa Patriot menjadi sangat penting?

Persoalan utama Ukraina bukan semata-mata kekurangan sistem pertahanan udara, melainkan keterbatasan senjata yang mampu menghadapi ancaman balistik.

Kyiv mengoperasikan sejumlah sistem pertahanan udara dari berbagai negara, termasuk Patriot, NASAMS, IRIS-T, dan perangkat pertahanan jarak pendek.

Masing-masing memiliki peran dan kemampuan berbeda.

Sistem seperti NASAMS dan IRIS-T sangat penting untuk menghadapi pesawat, drone, dan sejumlah jenis rudal jelajah. Namun, kemampuan tersebut tidak otomatis menjadikannya pengganti Patriot dalam menghadapi rudal balistik taktis seperti Iskander-M.

Untuk menghadapi ancaman balistik berkecepatan tinggi, Ukraina sangat bergantung pada sistem Patriot dengan rudal pencegat yang sesuai.

Ketergantungan itu menjadi masalah ketika Rusia mampu meluncurkan banyak rudal dalam satu gelombang, sementara persediaan pencegat Ukraina terbatas.

Reuters dalam laporan investigasi pada 18 September 2026 mengungkapkan bahwa Ukraina menghadapi kekurangan serius rudal pencegat Patriot.

Kondisi tersebut terjadi ketika permintaan terhadap persenjataan pertahanan udara meningkat di berbagai kawasan dunia.

Amerika Serikat harus memenuhi kebutuhan militernya sendiri sekaligus permintaan sekutu di Timur Tengah dan kawasan lainnya.

Akibatnya, pasokan rudal pencegat bagi Ukraina menghadapi persaingan prioritas dan keterbatasan kapasitas produksi.

Kekurangan amunisi ini dapat menimbulkan konsekuensi langsung di medan perang.

Sistem pertahanan udara yang secara teknis mampu menghancurkan rudal balistik tidak dapat menjalankan tugasnya secara optimal apabila rudal pencegat yang diperlukan tidak tersedia dalam jumlah memadai.

Dengan demikian, persoalan pertahanan udara Ukraina tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah radar atau peluncur rudal.

Kyiv juga membutuhkan pasokan amunisi yang konsisten, kemampuan pemeliharaan, dan jaringan pendeteksian dini yang dapat bekerja secara terpadu.

Baca Artikel Selengkapnya