Hampir semua orang pernah berkata, "Nanti saja."
Nanti mengerjakan tugas. Nanti membalas pesan penting. Nanti belajar. Bahkan, tidak sedikit yang berkata, "Nanti shalatnya, masih ada waktu."
Sekilas kalimat itu terdengar biasa. Tidak ada yang tampak berbahaya. Namun, tanpa disadari, dari kata "nanti" itulah banyak kesempatan hilang, pekerjaan terbengkalai, ibadah kehilangan kualitasnya, bahkan penyesalan sering kali bermula.
Kebiasaan menunda bukan sekadar persoalan malas. Dalam psikologi, ia dikenal dengan istilah prokrastinasi, yaitu kecenderungan menunda pekerjaan yang sebenarnya sudah diketahui harus segera dilakukan. Menariknya, para ahli menjelaskan bahwa penyebabnya tidak sesederhana kemauan yang lemah.
Di dalam otak manusia terdapat dua kecenderungan yang saling berhadapan. Di satu sisi ada sistem limbik, bagian otak yang selalu mengejar kenyamanan, kesenangan instan, dan menghindari rasa tidak nyaman. Di sisi lain ada korteks prefrontal, pusat pengambilan keputusan, perencanaan, serta kemampuan mempertimbangkan akibat jangka panjang.
Ketika seseorang memilih menggulir media sosial daripada menyelesaikan laporan, menunda belajar meski ujian semakin dekat, atau menangguhkan pekerjaan yang sebenarnya mampu diselesaikan hari itu juga, sesungguhnya sedang terjadi pertarungan di dalam dirinya. Dan tidak jarang, sistem limbik keluar sebagai pemenang.
Karena itu, prokrastinasi tidak selalu identik dengan kemalasan. Ia sering kali merupakan persoalan pengendalian diri dan pengelolaan emosi. Ada orang yang menunda karena takut gagal. Ada yang menunda karena ingin hasilnya sempurna sehingga tak kunjung memulai.
Ada pula yang terus mencari pelarian ketika rasa bosan, cemas, atau frustrasi datang menghampiri. Bahkan, pada sebagian orang dengan kondisi medis tertentu seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), kesulitan memulai pekerjaan memang berkaitan dengan cara kerja otak.
Apa pun penyebabnya, satu hal tetap sama: kebiasaan menunda hampir selalu meninggalkan kerugian. Kerugian itu tidak hanya berupa pekerjaan yang menumpuk. Lebih dari itu, prokrastinasi sering melahirkan stres, kecemasan, rasa bersalah, kelelahan mental, menurunnya rasa percaya diri, hingga gangguan tidur. Ironisnya, semakin lama pekerjaan ditunda, semakin berat pula beban psikologis yang harus ditanggung.
Islam pun memandang kebiasaan menunda sebagai sesuatu yang patut diwaspadai. Sebab, dampaknya tidak hanya menyentuh urusan dunia, tetapi juga kehidupan spiritual, perkembangan intelektual, dan hubungan sosial.
Dampak Menunda Ibadah, Mengurangi Nilai Ibadah dan Membuka Pintu Dosa
Tidak semua ibadah yang tampak sama memiliki nilai yang sama di hadapan Allah SWT. Dua orang bisa melaksanakan shalat dengan jumlah rakaat yang sama, bacaan yang sama, bahkan di masjid yang sama. Namun, keduanya belum tentu memperoleh kualitas pahala yang sama. Sebab, ibadah tidak hanya dinilai dari apakah ia dikerjakan atau tidak, tetapi juga dari bagaimana seorang hamba menyambut panggilan Tuhannya.
Di antara faktor yang memengaruhi kualitas ibadah adalah waktu pelaksanaannya. Islam tidak sekadar memerintahkan agar shalat dilakukan di dalam waktunya, tetapi juga menganjurkan agar ia ditunaikan sesegera mungkin. Ada perbedaan makna antara seorang hamba yang bergegas memenuhi panggilan Allah dengan seorang hamba yang terus berkata, "Nanti saja, waktunya masih panjang."
Karena itu, setiap penundaan sesungguhnya mengandung konsekuensi. Mungkin shalatnya tetap sah, tetapi kualitas penghambaan tidak lagi sama. Menunda shalat tanpa alasan syar'i berarti menunda perjumpaan dengan Allah, menunda memenuhi panggilan-Nya, dan menunda kesempatan meraih keutamaan yang telah dijanjikan.
Lebih jauh lagi, kebiasaan menunda dapat menjadi pintu masuk bagi kelalaian. Hari ini ditunda beberapa menit, esok ditunda lebih lama, hingga akhirnya hati terbiasa merasa aman meskipun panggilan azan telah lama berkumandang. Penundaan yang pada awalnya tampak ringan perlahan berubah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itulah yang sering kali menyeret seseorang kepada dosa.
Isyarat ini dapat ditemukan dalam penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain. Ia menjelaskan bahwa ketika waktu shalat telah masuk, kewajiban shalat berlaku hingga akhir waktunya.
Namun, apabila seseorang memilih mengakhirkan pelaksanaannya, maka menurut pendapat yang paling kuat (qaul ashah), ia wajib memiliki 'azm, yakni tekad yang sungguh-sungguh untuk tetap menunaikan shalat sebelum waktunya berakhir.
Ia menulis;
وبدخول الْوَقْت تجب الصَّلَاة وجوبا موسعا إِلَى أَن يبْقى من الْوَقْت مَا يَسعهَا لَكِن إِذا أَرَادَ تَأْخِير فعلهَا عَن أول الْوَقْت لزم الْعَزْم على فعلهَا فِي الْوَقْت على الْأَصَح فَإِن أَخّرهَا عَن أول وَقتهَا مَعَ الْعَزْم على ذَلِك وَمَات فِي أثْنَاء الْوَقْت قبل فعلهَا لم يكن عَاصِيا بِخِلَاف مَا إِذا لم يعزم الْعَزْم الْمَذْكُور فَإِنَّهُ إِذا مَاتَ فِي أثْنَاء الْوَقْت قبل فعلهَا كَانَ عَاصِيا وَالْأَفْضَل أَن يُصليهَا فِي أول الْوَقْت لِأَنَّهُ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم سُئِلَ أَي الْأَعْمَال أفضل فَقَالَ الصَّلَاة فِي أول وَقتهَا
Artinya, "Saat waktu masuk, shalat wajib dilaksanakan, dengan kewajiban yang masih diperpanjang sampai akhir waktu yang hanya cukup melaksanakan shalat. Akan tetapi, jika ingin mengakhirkan shalat, versi qaul ashah, kita wajib ber-azm (berkomitmen) saat waktu shalat masuk untuk melaksanakannya di dalam waktu shalat (yang ditetapkan syariat)."
"Sehingga, jika kita mengakhirkan shalat dan sudah ber-azm, andaikan kita wafat di pertengahan waktu dan belum melaksanakannya, maka kita tidak berstatus maksiat (karena meninggalkan shalat).
Sebaliknya, jika tidak ber-azm maka dianggap bermaksiat. Oleh karena itu, yang paling utama adalah shalat di awal waktu karena Nabi SAW pernah ditanya soal amal apa yang paling utama, jawaban beliau adalah shalat di awal waktu." (Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut: Darul Fiqr, t.t.], halaman 51).
Menunda Belajar: Musuh Sunyi Pertumbuhan Intelektual
Ada satu jenis penyesalan yang hampir pernah dirasakan setiap pelajar. Penyesalan itu biasanya tidak datang ketika masih duduk di bangku sekolah atau di ruang-ruang pengajian. Ia justru muncul setelah semuanya berlalu.
Ketika sudah lulus kuliah. Ketika sudah meninggalkan pondok pesantren. Atau ketika dunia kerja menuntut kemampuan yang dahulu pernah diajarkan, tetapi kini terasa asing karena tidak pernah benar-benar dipelajari.
Saat itulah kalimat-kalimat seperti ini sering terdengar, "Seandainya dulu aku lebih serius belajar." Atau, "Mengapa dulu bab ini aku anggap remeh? Sekarang justru harus belajar dari awal."
Penyesalan itu sesungguhnya bukan lahir karena kurangnya kesempatan, melainkan karena kesempatan yang dulu dimiliki tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
Waktu luang yang seharusnya menjadi ladang menanam ilmu justru habis untuk hal-hal yang tidak memberi manfaat. Ketika kesempatan itu berlalu, ilmu yang seharusnya mudah dipelajari akhirnya harus ditebus dengan usaha yang jauh lebih berat.
Inilah salah satu dampak paling nyata dari kebiasaan menunda. Ia tidak langsung menghilangkan kecerdasan seseorang, tetapi perlahan mencuri kesempatan untuk bertumbuh. Yang hilang bukan hanya waktu, melainkan juga kedalaman ilmu yang seharusnya dapat dimiliki.
Para ulama sejak dahulu telah mengingatkan bahaya sikap ini. Sayyid Alawi dalam Al-Fawa'id al-Makkiyyah menyebutkan bahwa salah satu penghalang terbesar keberhasilan menuntut ilmu adalah terlalu percaya bahwa masa depan masih panjang.
Ia menulis:
واعلم أن للاشتغال بالعلم آفات كثيرة..... فمنها: الوثوق بالزمن المستقبل فتَرْكُ التعلم حالا ؛ إذ اليوم في التعلم والتعليم أفضل من غيه، وأفضل منه أمسه، والإنسانُ كُلَّمَا كَبِرَ كَثُرَتْ عوائقه. ومنها: الوثوق بالذكاء؛ فكثيرٌ مَنْ فاته العلم بركونه إلى ذكائه وتسويفه أيام الاشتغال
Artinya, "Ketahuilah! Bahwa perusak atau penghambat (keberhasilan dalam) proses intelektual sangat banyak. Di antaranya adalah:
Terlalu percaya dengan masa yang akan datang. Sehingga mereka tidak belajar pada saat itu juga. Padahal, belajar di hari ini lebih baik dari pada belajar besok atau lusa. Dan (perlu diingat) bahwa ketika min sudah tua, kelak akan banyak kesibukan;
Terlalu percaya dengan kecerdasannya. Padahal, banyak sekali kejadian orang yang kehilangan banyak ilmu disebabkan terlalu percaya pada kecerdasannya. Dia selalu mengatakan di sela-sela mencari ilmu, 'Saya akan belajar besok, lusa atau minggu depan'." (Sayyid Alawi, Al-Fawa'idul Makkiyah, [Mesir: Darul Faruq, 2011], hlm. 29).
Nasihat ini tetap relevan hingga hari ini. Banyak orang gagal bukan karena tidak memiliki kemampuan, melainkan karena terlalu yakin masih ada hari esok untuk memulai. Mereka merasa waktu akan selalu menunggu, padahal usia terus berjalan, tanggung jawab terus bertambah, dan kesempatan tidak selalu datang untuk kedua kalinya.
Ilmu adalah cahaya yang harus segera dijemput, bukan sesuatu yang dapat ditunda sesuka hati. Sebab, setiap hari yang dilewati tanpa belajar bukan sekadar kehilangan waktu, tetapi juga kehilangan kesempatan menjadi pribadi yang lebih baik. Dan sering kali, harga dari sebuah penundaan baru kita sadari ketika kesempatan itu telah lama pergi.
Menunda Kewajiban: Awal Rusaknya Kepercayaan
Kebiasaan menunda tidak hanya berdampak negatif pada diri sendiri, tapi juga akan dirasakan orang lain. Dampak paling nyata adalah merugikan orang lain. Dalam hal banyak sekali contoh nyatanya di kehidupan sehari-hari.
Penundaan melunasi hutang yang sebenarnya, mampu dibayar, misalnya. Ia tidak hanya berdampak dosa bagi si penunda, tapi ada orang lain yang terdampak dari penundaan tersebut. Rasulullah SAW bersabda:
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
Artinya, “Menunda-nunda membayar hutang bagi orang yang mampu (membayar) adalah kezaliman,” (HR. Imam Bukhari).
Secara tegas penundaan melunasi hutang bagi orang yang mampu membayar merupakan sebuah kezaliman. Artinya apa? Dampaknya tidak hanya dosa bagi yang bersangkutan tapi juga terhadap unsur kezaliman terhadap orang dihutangi. Ini hanyalah satu contoh dari banyaknya dampak negatif prokrastinasi terhadap aspek sosial.
Demikianlah uraian bahaya prokrastinasi perspektif Islam terhadap aspek spiritual, intelektual, dan sosial. Semoga kita tidak terjebak dalam siklus berbahaya ini. Wallāhu a'lam bi al-shawāb.
-----
Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, Sekarang Aktif Menjadi Perumus LBM PP Nurul Cholil dan Editor Website PCNU Bangkalan.

2 jam yang lalu
5




English (US) ·
Indonesian (ID) ·