Israel Kembali Gempur Kota Lebanon Selatan Usai Suruh Warga Evakuasi

2 jam yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Militer Israel (IDF) memperingatkan perihal serangan yang kembali dilakukan di wilayah Lebanon selatan, Sabtu (13/6).

IDF pun meminta penduduk di 20 kota dan desa, termasuk banyak yang dekat dengan kota Nabatieh, untuk mengungsi meskipun ada gencatan senjata dalam perang mereka dengan kelompok milisi Lebanon, Hizbullah.

"Demi keselamatan Anda, Anda harus segera mengungsi dari rumah Anda dan pindah ke utara Sungai Zahrani," kata juru bicara militer Israel yang berbahasa Arab, Avichay Adraee, dalam sebuah unggahan di X, dikutip dari AFP.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, kantor berita negara Lebanon, National News Agency (NNA), mewartakan serangan Israel telah terjadi di wilayah Lebanon selatan, tak berapa lama setelah peringatan evakuasi dikirimkan IDF.

Serangan udara Israel itu dilaporkan menghantam beberapa daerah yang tercakup dalam peringatan sebelumnya, termasuk desa Rihan dan Sujud, yang terletak tidak jauh dari Nabatieh.

Peringatan tentara Israel mendesak penduduk untuk "segera mengosongkan rumah Anda dan pindah ke utara Sungai Zahrani", sekitar 45 kilometer (28 mil) dari perbatasan selatan dengan Israel.

Sebelumnya, pada Jumat (12/6) malam, NNA melaporkan terjadi ledakan dan penembakan artileri di dekat perbukitan Ali Taher yang menghadap Nabatieh.

Selain itu, pada Jumat kemarin, milisi Hizbullah juga terus melancarkan serangan terhadap pasukan Israel yang telah menginvasi Lebanon selatan. Hizbullah menyatakan para pejuangnya telah menghadapi pasukan Israel yang maju menuju kota Majdal Zoun.

Israel dan Hizbullah telah berperang sejak awal Maret lalu. Israel menggempur Hizbullah di Lebanon selatan pascaserangan kolaborasi dengan Amerika Serikat (AS) menggempur Iran, dan berhasil menewaskan pemimpin tertinggi negara itu, Ayatullah Ali Khamenei.

Hizbullah di Lebanon selatan pun membalas mengirim serangan roket ke Israel.

Pemerintah Lebanon menyatakan akibat pertempuran Israel-Hizbullah itu, setidaknya telah lebih dari 3.700 orang terbunuh di Lebanon.

Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan negerinya menghadapi "ujian yang menentukan".

"Rakyatnya harus bersatu di sekitar negara berdaulat yang memonopoli senjata, menegakkan hukum, dan melindungi warga negara tanpa memandang afiliasi atau kedudukan mereka, atau tetap menjadi sandera logika milisi," bunyi pernyataan itu yang dirilis pada Sabtu ini, dikutip dari AFP.

Bulan lalu, tentara Israel menyatakan semua daerah di selatan sungai sebagai "zona tempur". Dan, sejak saat itu, militer Zionis terus menyerang daerah tersebut.

Baik Israel maupun Hizbullah tidak menghormati gencatan senjata April, dan kesepakatan gencatan senjata bersyarat yang diumumkan bulan ini setelah putaran keempat negosiasi langsung Lebanon-Israel di Washington, Amerika Serikat (AS) juga gagal menghentikan pertempuran.

Hezbollah telah menolak pembicaraan langsung dan perjanjian bersyarat, yang mengharuskan mereka untuk menghentikan serangan tetapi tidak menyebutkan Israel melakukan hal yang sama atau menarik pasukan dari Lebanon.

Iran bersikeras bahwa Lebanon harus menjadi bagian dari setiap perjanjian untuk mengakhiri perang Timur Tengah yang lebih luas, dan seorang pejabat senior AS mengatakan pada Jumat kemarin, bahwa kesepakatan damai dengan Iran 'termasuk Lebanon'.

Namun para pemimpin Lebanon menuduh Teheran memperlakukan negaranya sebagai 'alat tawar-menawar'.

Anggota parlemen dari Hezbollah, Ali Fayyad, pada Sabtu ini mendesak Lebanon ntuk memanfaatkan setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran yang mencakup negara tersebut.

"Kami ingin negara Lebanon bernegosiasi sendiri, dan tidak ada yang menyarankan untuk melepaskan peran ini," kata Fayyad, "namun, negara harus meninggalkan kebijakan dihancurkan di hadapan Israel dan tunduk kepada Amerika [Serikat]."

(afp/kid)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya