Iran Mulai Siapkan Rencana Pemotongan Kabel Internet Bawah Laut di Wilayah Teluk

57 menit yang lalu 1

TEHERAN — Dua pejabat senior keamanan Iran, kepada Reuters, dilaporkan telah menyiapkan rencana terperinci untuk menargetkan kabel komunikasi bawah laut di Teluk jika Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali menyerang Iran. 

Pernyataan tersebut keluar menyusul peringatan dari para pejabat Iran bahwa kabel bawah laut di wilayah itu dapat menjadi sasaran dalam konflik baru jika diplomasi dengan Washington mengalami kebuntuan.

Dua pejabat keamanan Iran, yang berbicara dengan syarat anonim, memberikan sedikit rincian dan tidak menyebutkan secara pasti bagaimana atau di mana Teheran akan melancarkan serangan semacam itu. Namun, salah satu pejabat menyatakan Iran berupaya mencegah upaya perbaikan pascaserangan guna memperpanjang gangguan komunikasi, termasuk koneksi internet.

"Jika Iran diserang, tidak ada lagi garis merah... mulai dari kabel bawah laut hingga pangkalan militer, termasuk yang rahasia," kata salah satu pejabat.

Pejabat tersebut memperingatkan Washington agar tidak "bermain api". Dia menegaskan bahwa Iran memiliki akses penuh ke kabel bawah laut serta dapat dengan mudah menghancurkannya.

Wakil Kepala Urusan Politik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Yadollah Javani, pada Rabu(21/10/2026) lalu mengatakan bahwa Iran dapat menargetkan tujuh kabel internet utama di bawah Selat Hormuz jika infrastruktur Iran diserang.

Menurut data Badan Telekomunikasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (ITU), kabel bawah laut membawa sekitar 99 persen lalu lintas internet global. Kendati demikian, direktur penelitian di firma riset telekomunikasi TeleGeography, Alan Mauldin, menilai dampak global dari serangan Iran mungkin terbatas karena kurang dari satu persen bandwidth internasional melewati Selat Hormuz. Selat tersebut memisahkan Iran dan Oman, menghubungkan Teluk ke Teluk Oman dan Laut Arab.

Departemen Luar Negeri AS dan Kementerian Luar Negeri Iran tidak menanggapi permintaan konfirmasi dari Reuters mengenai pernyataan para pejabat keamanan Iran tersebut. Belum ada pernyataan resmi dari negara-negara Teluk.

Baca Artikel Selengkapnya