Ribuan Warga Albania Demo Jengah Biaya Hidup Tinggi, Tuntut PM Mundur

55 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Ribuan warga Albania menggelar unjuk rasa di ibu kota Tirana pada Sabtu (24/10). Demonstrasi yang menyoroti semakin tingginya biaya hidup dan dugaan korupsi itu berujung bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi.

Polisi mengerahkan gas air mata, meriam air, hingga peluru karet untuk membubarkan massa. Otoritas Albania menyebut sejumlah gedung pemerintah diserang, puluhan demonstran ditangkap, dan lebih dari 300 demonstran serta polisi terluka.

Mengutip Al Jazeera, bentrokan antara demonstran dan polisi berulang kali terjadi sejak gelombang besar unjuk rasa dimulai pada pertengahan Oktober. Aksi tersebut dipicu oleh buruknya kondisi sekolah dan tingginya biaya hidup di negara kawasan Balkan itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demonstrasi di Tirana sempat mereda dalam beberapa hari terakhir. Namun, aksi pada Sabtu (24/10) kembali meningkatkan ketegangan setelah ribuan orang memenuhi seruan penyelenggara agar mahasiswa dan masyarakat dari berbagai wilayah Albania ikut berunjuk rasa.

Sejumlah kelompok, termasuk profesor universitas, seniman, dan partai oposisi, turut menyatakan dukungan dan mengumumkan kehadiran mereka dalam aksi tersebut.

Kementerian Pendidikan Albania menjadi salah satu titik utama demonstrasi. Sejumlah pengunjuk rasa terlihat melemparkan batu dan menggulingkan tempat sampah yang terbakar ke arah gedung kementerian.

Polisi turut meningkatkan pengamanan di sekitar ibu kota. Menurut laporan media lokal, aparat juga memeriksa kendaraan yang hendak memasuki Tirana.

Demonstrasi antipemerintah di Albania sendiri telah berlangsung secara berkala sejak Mei, ketika kabar mengenai proyek hotel mewah yang berkaitan dengan keluarga Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencuat.

Proyek tersebut dikaitkan dengan Jared Kushner, menantu Trump. Sejak saat itu, kemarahan publik berkembang menjadi gerakan yang lebih luas untuk menentang korupsi dan tingginya biaya hidup.

Demonstran tuntut Perdana Menteri mundur

Para demonstran turut menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Albania Edi Rama dari Partai Sosialis. Mereka menyalahkan elite politik atas krisis yang terjadi di negara tersebut.

"Kami di sini untuk melawan kediktatoran yang ada di Albania. Namun sebagian besar dari kami menderita akibat tahun-tahun sebelumnya," ujar salah satu pengunjuk rasa, Orgeta Likaj, seperti diberitakan The New York Times, Minggu (25/10).

"Kami ingin memberitahu [Perdana Menteri Albania Edi] Rama bahwa rakyat Albania sudah tidak menginginkannya lagi," sambungnya.

PM Rama tuding 'aktor asing'

Rama telah menolak seruan tersebut, dan melimpahkan kesalahan atas aksi protes itu kepada kelompok-kelompok anti-Uni Eropa.

Ia kemudian menuding "aktor asing" atas kekerasan dalam demonstrasi. Ia juga menuduh Rusia dan Iran mendorong penyebaran informasi keliru di internet.

Di tengah ketegangan tersebut, Rama menyerukan dialog dengan para demonstran. Pada Sabtu, bantal-bantal berwarna merah diletakkan di luar kantor pusat pemerintahan sebagai simbol ajakan berdialog.

Namun, para demonstran kemudian membakar bantal-bantal tersebut.

Selain mengecam pemerintah, sejumlah peserta aksi juga terlihat membawa poster yang mengkritik Sali Berisha, pemimpin Partai Demokrat berhaluan kanan-tengah yang menjadi tokoh oposisi Rama.

[Gambas:Instagram]

(van/dal)

Baca Artikel Selengkapnya