REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan telah menargetkan pusat data milik raksasa teknologi AS, Amazon, di Bahrain. Ini serangan kedua terhadap pusat data tersebut.
Pasukan tersebut "menargetkan dan menghancurkan gedung pusat data intelijen milik perusahaan Amerika, Amazon, yang berperan besar dalam melengkapi informasi bagi militer Amerika yang membunuh anak-anak," demikian pernyataan mereka yang disiarkan oleh televisi pemerintah.
Baik Amazon maupun pihak berwenang Bahrain belum memberikan komentar terkait klaim Iran tersebut. Sebelumnya pada hari Rabu, IRGC juga telah menyatakan bahwa mereka menargetkan pusat data tersebut.
Selain serangan Iran terhadap Yordania, Bahrain, dan Erbil, Kuwait juga menjadi sasaran dalam gelombang serangan lainnya. Militer Kuwait menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya sedang aktif mencegat pesawat nirawak (drone) dan rudal Iran.
Angkatan bersenjata Iran menyatakan telah meluncurkan proyektil ke arah Pangkalan Udara Ali Al Salem, yang digunakan oleh pasukan AS.
Militer Iran mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa mereka telah meluncurkan pesawat nirawak (drone) ke arah pangkalan AS di Yordania dan Bahrain sebagai tanggapan atas serangan AS terhadap sejumlah target di Iran.
Di Bahrain, sasaran serangan meliputi tangki penyimpanan bahan bakar, gudang peralatan besar, hanggar, dan kompleks hunian di Pangkalan Udara Sheikh Isa—sebuah lokasi yang disebut Iran sebagai pangkalan militer AS yang "teroris".
Iran juga menyerang tempat perlindungan pesawat, hanggar pemeliharaan, dan kompleks hunian di Pangkalan Udara AS Al-Azraq di Yordania.
Pihak Iran menyatakan bahwa serangan-serangan ini dilancarkan sebagai balasan atas serangan AS yang terjadi pada malam sebelumnya. AS telah menargetkan tujuh provinsi di Iran, termasuk provinsi di wilayah selatan seperti Sistan-Baluchestan dan Khuzestan. Empat orang juga dilaporkan tewas di kota Ahvaz, Provinsi Khuzestan.
AS memperluas cakupan serangannya hingga ke luar wilayah selatan, dengan menyasar provinsi-provinsi di wilayah tengah—yaitu Markazi, Yazd, dan Isfahan—serta provinsi Lorestan di barat dan Fars di selatan.
Pada dasarnya, pihak AS sedang mengalihkan fokus serangan dari wilayah selatan negara itu menuju kawasan tengah dan pedalaman Iran.
Jumlah korban luka akibat serangan militer AS baru-baru ini di Iran telah meningkat menjadi 645 orang, dengan 55 orang dipastikan meninggal; demikian disampaikan juru bicara Kementerian Kesehatan Iran kepada kantor berita Fars.
Provinsi Khuzestan di bagian barat daya mencatat jumlah korban terbanyak, disusul oleh provinsi Hormozgan dan Sistan-Baluchestan di wilayah selatan, ujar juru bicara tersebut. Ketiga provinsi itu juga mencakup sebagian besar korban jiwa.
Dari total korban luka, 586 orang telah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan, sementara sejumlah lainnya menerima perawatan jalan. Delapan pasien masih dirawat di rumah sakit, dengan beberapa di antaranya memerlukan tindakan bedah lebih lanjut, tambah pejabat tersebut.

2 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·