Iran Bantah Serang Tanker Gas AS di Mesir, Tuduh Israel Biang Kerok

2 jam yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalang di balik serangan terhadap kapal tanker milik Amerika Serikat di Mesir.

Araghchi bahkan menyebut serangan itu sebagai Operasi "False Flag" atau Operasi Bendera Palsu yang dilakukan Israel. Operasi "False Flag" merupakan aksi rahasia untuk menuduh pihak lain sebagai pelaku, guna menciptakan perang atau membentuk opini publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami semua harus waspada terhadap skema-skema Israel dan Operasi Bendera Palsu yang bertujuan merusak perdamaian regional," tulis Menlu Araghchi di X, Jumat (31/7).

"Ancaman itu nyata, bersifat timbal balik, dan mengkhawatirkan solidaritas Muslim," imbuhnya. 

Araghchi juga menegaskan Mesir adalah sahabat dan mitra penting di kawasan Timur Tengah. "Dan keamanannya memiliki kepentingan utama bagi kami," kata dia.

Sebelumnya, perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, melaporkan kapal tanker yang mengangkut gas dihantam drone pada Rabu (29/7). Mereka menilai serangan ini bisa menjadi tanda konflik yang meluas di Timur Tengah.

Perusahaan jasa pelabuhan Inchcape juga menyatakan dua kapal tanker gas terbakar di Pelabuhan Damietta, Mesir.

Sementara itu, tiga sumber membeberkan drone menghantam kapal tanker penyimpanan gas Energos Winter, dan menyebabkan kebakaran. Api kemudian menyebar ke kapal lainnya yakni Gaslog Salem.

Menanggapi kejadian itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Iran di balik insiden. Dia bahkan memerintahkan serangan ke Iran usai kapal tanker terbakar dan pangkalan militer AS di Yordania dirudal.

Serangan ke kapal tanker AS di Mesir berlangsung kala perang AS dan Iran kembali berkobar pekan ini. Kedua negara padahal telah menyepakati gencatan senjata dan telah menandatangani Nota Kesepahaman untuk memulai pembicaraan menuju negosiasi damai.

(isa/dna)

Baca Artikel Selengkapnya