Inilah Sifat yang Dibenci Allah Tapi Sering Kita Lakukan

4 minggu yang lalu 32

Ada satu sifat yang sangat dibenci dalam Islam. Begitu tercelanya hingga Nabi Muhammad pun memperingatkan umatnya agar menjauhinya dengan sungguh-sungguh.

Dalam Islam, sikap seperti itu dikenal dengan istilah Syamatah. Secara sederhana, pengertian Syamatah adalah perasaan senang saat melihat orang lain tertimpa musibah atau kesulitan. Hati merasa puas, lega, atau diam-diam bahagia ketika orang lain mengalami penderitaan, baik orang yang dikenal maupun orang yang tidak disukai.

Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, mengingatkan kita semua agar tak terjatuh dalam penyakit hati. Pasalnya, sikap ini akan membawa dampak yang buruk bagi si penderita. Nabi bersabda;

 تعوذوا بالله من جهد البلاء ، ودرك الشقاء ، وسوء القضاء وشماتة الأعداء

Artinya; “Berlindunglah kalian kepada Allah dari beratnya cobaan, keterpurukan celaka, buruknya takdir, dan Syamatah musuh.”  (HR. Imam Bukhari)

Begitu pun dalam riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW juga mengingatkan agar seseorang tidak merasa senang atas musibah yang menimpa orang lain. Nabi bersabda:

 لا تظهر الشماتة لأخيك، فيعافيه الله ويبتليك

Artinya; “Janganlah kau tunjukkan kegembiraan atas masalah orang lain, (kalau demikian) maka Allah akan membebaskannya dan memberikan cobaan kepadamu.”( HR Tirmidzi)

Sejatinya, hadis ini memberikan peringatan yang cukup jelas bahwa jangan sampai kita memperlihatkan kebahagiaan atas kesulitan orang lain, sekalipun terhadap orang yang tidak kita sukai. Sebab keadaan manusia bisa berubah dengan cepat; seseorang yang hari ini diuji, bisa saja esok hari dipulihkan oleh Allah. Di sisi lain, orang yang merasa unggul, tak tertutup kemungkinan justru diuji dengan hal serupa atau lebih berat.

Keterangan ini termaktub dalam Al-Qur'an, Allah mengingatkan lewat surat Al-Hujarat ayat 11. Allah berfirman;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ

Artinya; "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok)."

Lebih jauh, Imam Al-Ghazali memandang syamatah sebagai penyakit hati yang berbahaya. Sikap ini, katanya dalam kitab Mizanul 'Amal, menunjukkan rusaknya kepekaan moral dan lemahnya empati seorang hamba terhadap sesama.

Ia menjelaskan:

الشَّماتةُ: الفَرَحُ بالشَّرِّ الواصِلِ إلى غيرِ المُستَحِقِّ، ممَّن يَعرِفُه الشَّامِتُ

Artinya, "Syamatah (الشَّماتةُ) adalah rasa senang atau gembira atas keburukan atau musibah yang menimpa orang lain yang sebenarnya tidak pantas mendapatkannya, yaitu orang yang dikenal oleh si pencela (orang yang bersyukur atas musibah tersebut)." (Mizanul 'Amal, (Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1971 M), halaman, 91).

Begitu pula dengan Imam Al-Qurthubi dalam kitab Jami’ li Ahkam al-Qur’an, ia menyebut bahwa merasa senang atas musibah yang menimpa sesama Muslim, baik dalam urusan agama maupun kehidupan dunia, merupakan sikap yang terlarang. Sebab, perilaku seperti itu bertentangan dengan nilai dasar persaudaraan dalam Islam.

Dalam semangat ukhuwah, seorang Muslim seharusnya tidak membiarkan hatinya dipenuhi rasa puas atau gembira atas kesulitan orang lain. Sebaliknya, ia dianjurkan untuk menjaga hati tetap lembut, menumbuhkan empati, dan merawat kepedulian sosial.

Simak keterangan Imam Qurthubi berikut;

والشماتة السرور بما يصيب أخاك من المصائب في الدين والدنيا. وهي محرمة منهي عنها

Artinya, “Syamatah adalah rasa senang atas musibah yang menimpa saudaramu, baik dalam urusan agama maupun dunia. Perbuatan ini diharamkan dan dilarang." (Imam Qurthubi, Jami' li Ahkami Al-Qur'an, [Beirut: Darul Fikr, 1971 M], Jilid IV, halaman 185).

Kenapa Sifat Syamathah Muncul dalam Diri Manusia?

Menjawab pertanyaan ini, Muhammad al-Tahir Ibn Ashur dalam kitab At-Tahrir wat Tanwir memberikan jawaban menarik. Ia mengatakan bahwa rasa senang ketika orang lain tertimpa musibah lahir dari sikap permusuhan dan dengki yang tersimpan di dalam hati. Perasaan itu muncul karena seseorang tidak rela melihat orang lain hidup dalam kebahagiaan, kebaikan, atau keberhasilan.

Simak penjelasan Ibnu Asyur berikut;

والشماتة : سرور النفس بما يصيب غيرها من الأضرار ، وإنما تحصل من العداوة والحسد

Artinya, “Syamathah adalah kegembiraan jiwa atas bahaya atau musibah yang menimpa orang lain. Hal ini biasanya timbul dari permusuhan dan kedengkian," (Ibnu Asyur, Tafsir Tahrir wa Tanwir, (Tunisia: Darus Sahnun, tt) Jilid X, halaman 114).

Berdasarkan keterangan Ibnu Asyur ini, terlihat jelas, syamatah berkaitan erat dengan hasad (dengki). Al-Qur’an juga sudah mengingatkan tentang bahaya kedengkian, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Falaq ayat 5:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَࣖ ۝٥

Artinya, "Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.

Syekh Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Ad-Durr al-Mantsur, dengan mengutip Ibnu Abbas, menjelaskan bahwa firman Allah tersebut merujuk pada kejahatan jiwa serta pandangan iri manusia. Sementara itu, Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menerangkan bahwa ayat tersebut berisi permohonan perlindungan dari kejahatan pandangan orang yang iri dan keburukan jiwa pendengki.

Peringatan mengenai bahaya dengki juga disampaikan oleh Rasulullah. Nabi mengingatkan bahwa sifat hasad dapat menghapus amal kebaikan seseorang. Nabi bersabda:

 إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Artinya: “Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.

Dalam psikologi, sifat yang merasa rasa senang di atas penderitaan orang lain, dikenal dengan istilah schadenfreude. Istilah ini berasal dari bahasa Jerman, yang tersusun dari dua kata, yaitu schaden yang berarti kerugian, bahaya, atau penderitaan, dan kata Freude yang berarti kegembiraan atau kesenangan.

Jika disingkat, Schadenfreude berarti, bergembira atas penderitaan orang lain. (Van Dijk, W. W., et al. (2011). Towards understanding pleasure at the misfortunes of others: The impact of self-evaluation threat on schadenfreude. Cognition and Emotion, 25(2), 360-368.

Sejatinya, fenomena psikologi ini cukup sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik disadari maupun tidak. Kadang seseorang merasa sedikit puas ketika melihat orang yang dianggap sebagai rivalnya mengalami kegagalan, atau tanpa sengaja “terhibur” oleh kesulitan orang lain.

Dalam buku Mengenal Schadenfreude dan Glücksschmerz yang ditulis para peneliti dari Fakultas Psikologi UIN Jakarta, disebutkan schadenfreude bisa muncul dari pelbagai faktor yang melatarbelakanginya.

Misalnya, rasa merasa lebih unggul, iri, atau persaingan yang belum terselesaikan. Kondisi ini dapat membuat seseorang menjadi kurang berempati. Sebab, perasaan seperti ini bukanlah bentuk kebahagiaan yang sehat, melainkan luapan emosi negatif. (Achmad Syahid dkk., Mengenal Schadenfreude dan Glücksschmerz, [Tangerang Selatan: Penerbit Haja Mandiri, 2021], halaman 3).

Lebih jauh, sifat Schadenfreude juga bisa muncul dengan kebiasaan manusia yang sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Saat melihat orang lain lebih sukses atau lebih bahagia, bisa muncul rasa iri. Lalu ketika orang tersebut jatuh atau gagal, sebagian orang tanpa sadar merasa dirinya “lebih baik” dan ikut bergembira hati. Dari proses inilah Schadenfreude dapat muncul dalam kehidupan sosial.

Pada akhirnya, syamatah maupun schadenfreude sama-sama berakar dari penyakit hati yang perlu diwaspadai. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga hati tetap bersih, menumbuhkan empati, dan mendoakan kebaikan bagi orang lain, bukan sebaliknya.

Sebab kebahagiaan sejati bukanlah ketika orang lain jatuh, melainkan ketika kita mampu ikut mendoakan, bahkan saat mereka sedang diuji. Dengan hati yang bersih dari iri dan dengki, hubungan sesama manusia akan lebih damai, dan keberkahan hidup pun lebih mudah diraih. Wallahu a'lam.

--------------
Zainuddin Lubis, Redaktur Keislaman NU Online.

Baca Artikel Selengkapnya