Inggris Bangun Rudal Balistik Pertama dalam 50 Tahun, Akan Dikirim ke Ukraina

8 jam yang lalu 3

Ilustrasi meluncurkan rudal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Inggris dilaporkan tengah mengembangkan rudal balistik baru yang ditargetkan mulai dipasok ke Ukraina pada 2027 sebagai bagian dari dukungan militer terhadap Kyiv di tengah perang dengan Rusia.

Laporan Bloomberg pada Kamis menyebutkan pemerintah Inggris telah menandatangani kontrak dengan sejumlah perusahaan pertahanan untuk mengembangkan rudal balistik pertama negara itu dalam lebih dari lima dekade terakhir. Informasi tersebut diperoleh dari sejumlah sumber yang mengetahui proyek tersebut.

Program pengembangan rudal itu diberi nama sandi Nightfall dan ditargetkan selesai pada akhir 2026. Uji coba perdana dijadwalkan berlangsung dalam 12 bulan ke depan, sementara pengiriman pertama ke Ukraina direncanakan pada akhir 2027.

Menurut Bloomberg, Kementerian Pertahanan Inggris telah merevisi spesifikasi teknis rudal tersebut guna mempercepat proses pengembangannya. Langkah itu diambil agar sistem persenjataan baru dapat segera diproduksi dan dikirim ke Ukraina sesuai target waktu.

Berdasarkan spesifikasi terbaru, rudal Nightfall akan memiliki jangkauan hingga 500 kilometer, membawa hulu ledak seberat 200 kilogram, dan diproyeksikan menelan biaya maksimal 800 ribu poundsterling atau sekitar Rp19,4 miliar per unit.

Selain itu, rudal tersebut dirancang dapat diluncurkan dari berbagai jenis kendaraan peluncur, mampu menembakkan beberapa rudal secara berurutan, serta tetap beroperasi dalam kondisi peperangan elektronik yang mengganggu sistem navigasi dan komunikasi.

Laporan itu muncul ketika negara-negara Barat terus meningkatkan dukungan militer kepada Ukraina sejak invasi Rusia pada Februari 2022. Inggris menjadi salah satu negara yang secara konsisten memasok berbagai sistem persenjataan, termasuk rudal jelajah Storm Shadow, tank tempur, kendaraan lapis baja, serta sistem pertahanan udara.

Di sisi lain, Rusia kembali menegaskan penolakannya terhadap pengiriman senjata Barat ke Ukraina. Moskow berulang kali menyatakan bahwa pasokan persenjataan hanya akan memperpanjang konflik dan meningkatkan keterlibatan langsung negara-negara NATO dalam perang.

sumber : Antara

Baca Artikel Selengkapnya