Inflasi Myanmar Tembus 25 Persen, Warga Kian Tercekik Krisis

2 jam yang lalu 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Inflasi di Myanmar melonjak mendekati 25 persen setelah gejolak pasokan energi akibat konflik Amerika Serikat dan Iran memperparah dampak perang saudara yang telah berlangsung bertahun-tahun di negara tersebut.

Dalam laporan Myanmar Economic Monitor yang dirilis Selasa (16/6), Bank Dunia mencatat tingkat inflasi tahunan Myanmar mencapai 24,6 persen pada April lalu. Kenaikan harga yang tajam itu dipicu oleh lonjakan biaya energi dan lemahnya kondisi ekonomi domestik yang telah tertekan sejak kudeta militer pada 2021.

Bank Dunia juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Myanmar untuk tahun fiskal 2026-2027 menjadi 2 persen, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 3 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Myanmar masih bergulat dengan konflik bersenjata yang pecah setelah militer merebut kekuasaan dari pemerintah sipil pada Februari 2021. Ketidakstabilan politik yang berkepanjangan telah menyeret jutaan warga ke dalam kemiskinan dan memperlambat aktivitas ekonomi nasional.

Melansir AFP, situasi semakin memburuk karena Myanmar sangat bergantung pada impor bahan bakar. Data pemerintah menunjukkan sekitar 90 persen kebutuhan minyak bahan bakar negara itu dipenuhi dari impor, membuatnya rentan terhadap gangguan pasokan global.

Penutupan Selat Hormuz akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran sejak akhir Februari lalu menjadi pukulan tambahan bagi perekonomian Myanmar. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.

Bank Dunia menyebut ekonomi Myanmar saat ini memang mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, namun masih berada pada level yang sangat rendah.

"Ekonomi Myanmar sedang stabil pada tingkat yang rendah, tetapi guncangan bahan bakar terbaru memperbesar kelemahan struktural yang telah lama ada dan membuat prospek ekonomi sangat rentan terhadap gangguan lebih lanjut," tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Ekonom senior Bank Dunia, Kemoh Mansaray, mengatakan lonjakan harga energi kembali memicu tekanan inflasi yang berat bagi masyarakat.

"Guncangan harga bahan bakar telah menghidupkan kembali tekanan inflasi. Daya beli rumah tangga menurun, sementara banyak keluarga sebelumnya sudah hidup dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas dan tingkat kemiskinan yang tinggi," ujarnya kepada wartawan.

Sebelumnya, inflasi Myanmar untuk periode 12 bulan hingga akhir Maret tercatat sebesar 21,1 persen. Sementara itu, tingkat kemiskinan pada 2025 mencapai 29,9 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan tren sebelum kudeta 2021.

Dampak krisis tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. Seorang ayah berusia 28 tahun di Yangon mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.

"Karena kami kesulitan membeli makanan, ada anak-anak yang tidak bisa kami sekolahkan. Kami memiliki tiga anak usia sekolah di rumah," katanya yang meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.

Keluhan serupa disampaikan seorang pemilik toko perempuan berusia 45 tahun di Yangon. Menurut dia, lonjakan harga telah menggerus keuntungan usaha sekaligus menekan kondisi keuangan keluarganya.

"Pendapatan dan pengeluaran kami tidak seimbang. Kami hanya bertahan dari hari ke hari," ujarnya.

Ia menambahkan harga barang terus meningkat tanpa pernah benar-benar turun.

"Sekarang berapa pun penghasilan yang kami dapatkan, tetap tidak cukup," katanya.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya