Jakarta (ANTARA) - Perusahaan gadai PT Lesca Gadai Premier menyebut terdapat tren peningkatan layanan gadai barang mewah pada kuartal kedua 2026 di tengah volatilitas pasar keuangan global dan meningkatnya kebutuhan likuiditas nasabah premium.
Direktur Lesca Gadai Premier Bastian Purnama mengatakan kondisi fluktuasi pasar modal, penyesuaian suku bunga, dan ketidakpastian geopolitik mendorong sebagian investor serta individu beraset tinggi menyesuaikan portofolionya.
“Mereka membutuhkan likuiditas cepat untuk menangkap peluang bisnis atau menjaga arus kas, tetapi tidak ingin melepas aset yang berpotensi terus mengalami apresiasi,” kata Bastian dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, barang mewah kini tidak lagi hanya dipandang sebagai simbol status, tetapi juga sebagai instrumen penyimpan nilai atau safe haven.
“Banyak pengusaha dan kolektor yang menyadari bahwa menjual aset mewah mereka saat ini bukanlah langkah yang bijak, karena potensi kenaikan harganya di masa depan sangat tinggi,” ujarnya.
Lesca mengaku telah berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta menjadi perusahaan pegadaian swasta pertama di Indonesia yang memiliki sertifikasi ISO 9001 untuk sistem manajemen mutu dan ISO 27001 untuk keamanan informasi secara bersamaan.
Untuk mendukung layanan penilaian aset, perusahaan menggunakan instrumen dan akses basis data pasar global guna menentukan nilai pasar wajar sebagai dasar plafon pinjaman.
Selain itu, perusahaan menyediakan layanan white glove service, yakni proses transaksi mulai dari penilaian hingga pencairan dana yang dilakukan di lokasi nasabah tanpa perlu mendatangi gerai.
Layanan tersebut menyasar kalangan profesional dengan mobilitas tinggi yang mengutamakan privasi, keamanan, dan efisiensi transaksi.
Lebih lanjut, Bastian menyebut perseroan berencana memperluas jangkauan layanan ke Surabaya, Medan, dan sejumlah kota besar lain dalam satu hingga dua tahun ke depan.
“Kami optimistis dapat terus memberikan kontribusi positif bagi stabilitas finansial personal para nasabah di tahun 2026,” ucapnya.
Baca juga: Transaksi gadai meningkat, masyarakat Ambalawi manfaatkan emas sebagai sumber likuiditas
Baca juga: OJK Bali limpahkan 18 gadai ilegal ke Satgas Pasti
Baca juga: Pegadaian catat piutang gadai Rp124 triliun jelang Lebaran
Sementara itu, berdasarkan data OJK, pembiayaan industri pergadaian mencapai Rp153,49 triliun per Maret 2026 atau tumbuh 60,27 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Nilai aset industri pergadaian pada periode yang sama tercatat mencapai Rp182,84 triliun atau meningkat 58,77 persen dibandingkan posisi Maret 2025 sebesar Rp115,16 triliun.
Baca juga: OJK Sumut beri kesempatan pelaku usaha gadai swasta ajukan izin usaha
Baca juga: PPGI sebut tren pengajuan dan pelunasan gadai seimbang jelang Lebaran
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·