Indodax: Meredanya ketegangan AS - Iran dorong pemulihan pasar kripto

2 jam yang lalu 1

Jakarta (ANTARA) - Sentimen pasar global kembali membaik setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz.

Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian, mengungkapkan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberikan ruang bagi investor untuk kembali meningkatkan eksposur terhadap aset yang memiliki karakteristik volatilitas tinggi setelah beberapa pekan pasar dibayangi sentimen kehati-hatian.

Meredanya ketidakpastian geopolitik tersebut, lanjut dia dalam keterangannya di Jakarta, Selasa mendorong investor kembali masuk ke aset dengan volatilitas tinggi, termasuk aset kripto, sehingga harga Bitcoin sempat menembus level 65.900 dolar AS pada Senin (15/6).

“Pasar kripto saat ini merespons membaiknya sentimen global setelah ketidakpastian geopolitik mulai mereda. Ketika risiko global menurun, investor cenderung kembali meningkatkan eksposur terhadap aset dengan volatilitas tinggi, termasuk Bitcoin dan aset kripto lainnya. Hal tersebut yang saat ini turut mendorong pemulihan harga di pasar,” ujarnya.

Baca juga: COIN tahan laba 2025 untuk perkuat fundamental bisnis

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Senin (15/6), Bitcoin diperdagangkan di kisaran 63.900 - 65.900 dolar AS, atau naik sekitar 2 persen dalam 24 jam terakhir.

Penguatan tersebut juga menempatkan Bitcoin hampir 8 persen di atas level terendah pekan lalu yang sempat berada di bawah 60.900 dolar AS.

Menurut dia, selain Bitcoin, mayoritas aset kripto utama juga mencatatkan penguatan, seperti Ethereum naik sekitar 5,1 persen ke level 1.758 dolar AS, Solana menguat 6,6 persen menjadi 72,6 dolar AS.

Sementara XRP bertambah 7,1 persen ke 1,2 dolar AS. Di antara aset kripto berkapitalisasi besar, Hyperliquid (HYPE) menjadi salah satu aset dengan kenaikan tertinggi setelah menguat sekitar 11,6 persen ke level 67,8 dolar AS.

Pewarta: Subagyo
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya