Jakarta, CNN Indonesia --
Dana perang yang sudah dihabiskan Amerika Serikat di Iran mencapai angka US$37,5 miliar atau setara Rp672 triliun.
Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam dengar pendapat dengan legislatif AS di Washington DC, Selasa (21/7).
Sebelumnya, Pete Hegseth juga minta tambahan dana sebesar US$67 miliar untuk membantu menutupi biaya konflik Iran dan mengisi kembali persediaan militer, serta permintaan sebesar US$1,5 triliun untuk mendanai Departemen Perang pada tahun fiskal berikutnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk benar-benar mengalahkan Iran, Presiden Donald Trump bahkan terus-menerus menggempur selama sebelas hari berturut-turut. Bahkan, dia mengancam akan melakukan serangan besar-besaran.
Dalam pernyataan kepada Axios pada Kamis (23/7), Trump mengaku sedang mempertimbangkan "serangan besar-besaran" yang akan jauh "lebih besar dari sebelumnya".
"Saya hampir mengambil keputusan. Kami semua sudah siap," kata Trump.
Trump tidak menyebutkan tenggat soal itu. Ia hanya menambahkan bahwa Israel kapan pun siap jika diminta bergabung dalam operasi.
"Israel akan bergabung dalam dua menit jika saya meminta mereka. Tapi kami tidak butuh siapa pun," tambahnya.
Mengapa belum menang?
Menurut Ahli strategi dari CSIS & Lowy Institute Australia Mick Ryan, teori kemenangan Amerika Serikat saat ini semakin kabur.
Saat AS berperang melawan Iran, mereka sudah punya keyakinan sedang melakukan kampanye militer regional bersama mitra Israelnya. Sehingga, kemenangan yang mereka harapkan bisa menjadi jalan mulus untuk regional.
Pengakuan menang ini penting untuk sekutunya, Israel, dan sejumlah kecil mitra pangkalan yang diizinkan. Kemenangan itu akan berdampak bukan saja pada militer tapi juga ekonomi dan politik di masa depan.
"Konsep kemenangan harus mencakup tujuan di luar aktivitas militer. Kini, gagasan kemenangan harus mencakup kebutuhan jangka panjang ekonomi, diplomatik, dan sosial, serta hasil militer jangka pendek dan menengah. Dengan demikian, teori kemenangan harus mencakup memenangkan perang serta memenangkan perdamaian," kata Ryan yang juga pensiunan Mayor Jenderal Angkatan Darat Australia dikutip dari laman Mickryan Substack.
Logika strategisnya, setidaknya sebagaimana dapat direkonstruksi dari pernyataan publik dan video dari pemerintahan Trump bahwa penerapan intelijen dan persenjataan Barat secara tepat akan menghancurkan infrastruktur nuklir Iran, menghilangkan produksi rudal balistiknya, menurunkan kapasitas angkatan lautnya, melumpuhkan kepemimpinan seniornya, dan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk bangkit dan memaksa perubahan rezim.
Meski demikian, Iran belum juga berhasil ditaklukkan. Bahkan, militer Iran menegaskan mulai memasuki perang fase baru melawan AS dan akan mengubah strategi dalam peperangan.
Pernyataan itu disampaikan juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia pada Rabu (22/7).
Ia mengatakan operasi pembalasan Angkatan Bersenjata Iran akan berlanjut selama serangan AS terhadap infrastruktur dan daerah pesisir Iran masih berlangsung.
Akraminia menegaskan arena peperangan fase baru bisa menjadi salah satu pilihan strategis Iran dan strategi lain juga ada yang akan diungkapkan pada waktu yang tepat.
Ia mengatakan bahwa Angkatan Darat Iran telah menggunakan masa gencatan senjata untuk meningkatkan kesiapan tempurnya.
"Yang penting adalah moral, motivasi, dan kemauan yang tinggi dari rekan-rekan saya di angkatan udara dan pertahanan udara untuk menghadapi agresi musuh. Untungnya, hari ini kita berada dalam kondisi kesiapan yang lebih baik daripada sebelumnya," ujar Akriminia.
(imf/bac)
Add
as a preferred source on Google

2 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·