Gelar Konfercab X, PCINU Australia-New Zealand Tegaskan Wajah Diaspora NU yang Inklusif dan Bermanfaat

5 jam yang lalu 3

Melbourne, NU Online 

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) X di Melbourne pada Sabtu-Ahad (6-7/6/2026). Konfercab ini menegaskan bahwa diaspora NU di Australia dan Selandia Baru tidak hanya hadir sebagai komunitas, tetapi sebagai gerakan yang merawat tradisi, memperkuat moderasi, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat global.


Dalam sambutan pembuka, Ketua Panitia Rifqi Bachtiar menegaskan bahwa konfercab ini dirancang bukan sekadar untuk melanjutkan tradisi organisasi, melainkan untuk memperkuat daya hidup diaspora NU agar semakin memberi dampak.


“Tujuan diaspora Nahdlatul Ulama adalah memiliki kemampuan untuk berkembang dan memberi manfaat bagi warga Australia-New Zealand, sekaligus mempererat ukhuwah,” ujarnya.


Senada, Ketua PCINU Australia-New Zealand Arief Syamsulaksana menyoroti perjalanan NU di Australia selama sekitar dua dekade. Menurutnya, NU telah hadir di seluruh negara bagian dan bergerak di tengah masyarakat.


“NU sudah hadir di Australia selama 20 tahun dan ada di seluruh state. Mungkin belum high profile, tapi kerja-kerja kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat terus berjalan,” kata Bapak Arief.


Ia menambahkan, selama beberapa bulan awal kepengurusan, PCINU banyak mendengar aspirasi dari berbagai negara bagian untuk membaca kebutuhan yang benar-benar hidup di lapangan, mulai dari persoalan sosial, pendidikan, hingga tata kelola organisasi.


Sementara itu, Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand Ustadz Emil Idad menekankan bahwa PCINU harus tampil sebagai tradisi yang hidup, kontekstual, dan berdaya guna. Baginya, diaspora NU tidak cukup hanya menjaga simbol atau rutinitas, tetapi harus mampu menerjemahkan dan mengkontetualisasikan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah ke dalam realitas masyarakat Australia yang majemuk.


“Eksistensi PCINU luar biasa, dari tradisi dan kebermanfaatan kepada masyarakat di Australia. Kita merawat tradisi NU dengan kontekstual, mengedepankan sinergi, dan menjadikan moderasi sebagai jalan,” ujarnya.


Ustadz Emil juga menyinggung pentingnya memastikan generasi kedua dan ketiga warga NU yang lahir dan tumbuh di Australia-New Zealand tetap terkoneksi dengan tradisi ke-NU-an. Menurutnya, keberlanjutan diaspora tidak boleh berhenti pada generasi pendiri, melainkan harus diwariskan dalam bentuk pendidikan, tradisi, dan ruang sosial yang ramah bagi anak muda.


Di forum tersebut, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan apresiasi terhadap semangat PCINU Australia-New Zealand. Ia menegaskan bahwa NU sejak awal bukan hanya wadah berkumpulnya kelompok sosial tertentu, tetapi sebuah gerakan peradaban yang lahir dari kesadaran sejarah dan tanggung jawab kemanusiaan yang luas.


“NU didirikan bukan hanya sebagai wadah komunitas, tetapi gerakan peradaban untuk kemaslahatan seluruh umat manusia,” kata Kiai Yahya.


Ia menilai diaspora NU di Australia-New Zealand memiliki peluang untuk membangun organisasi yang lebih kokoh dan mampu berbicara dalam skala internasional. Dalam kerangka itu, kata dia, NU perlu terus mengembangkan visi transformasi organisasi agar tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan akar nilai.


Dalam kesempatan itu, Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo juga memberi apresiasi atas kiprah PCINU Australia-New Zealand. Menurutnya, PCINU Australia-New Zealand telah menjadi rumah yang hangat bagi masyarakat diaspora. Ia menilai NU tampil dengan wajah ramah, terbuka, dan menyejukkan di tengah masyarakat Australia yang sangat beragam.


“NU bertahan dan berkembang dengan semangat melayani, bukan berebut jabatan,” ujarnya. 


Hasil komisi

Dalam Konfercab X PCINU Australia-New Zealand, Komisi Organisasi menyoroti perlunya struktur yang lebih jelas hingga level state dan ranting, termasuk pertimbangan keterlibatan anggota yang telah menjadi citizen Australia namun tetap aktif dalam kegiatan NU. Sementara Komisi Program Kerja menajamkan kelanjutan program-program yang selama ini sudah berjalan, seperti NU Care-LAZISNU, Islamic Literacy School, pengajian, madrasah, Safari Ramadan, serta program sosial lintas state.


Adapun Komisi Rekomendasi merumuskan sejumlah arah strategis untuk dua tahun kepengurusan mendatang, terutama soal kaderisasi, legalitas organisasi, dan penguatan diplomasi diaspora. Sementara komisi Bahtsul Masail menyoroti kebutuhan fiqh minoritas untuk masyarakat diaspora khususnya dalam konteks masyarakat Australia-New Zealand.


Emil-Arief kembali terpilih

Masing-masing state, dalam sidang pleno IV, mengusulkan calon anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Setelah tabulasi suara dilakukan, forum menetapkan tujuh nama anggota Ahwa yang kemudian bermusyawarah untuk memilih rais syuriyah.


Dalam suasana yang tenang dan penuh kekeluargaan, musyawarah Ahwa yang berlangsung sekitar 10 menit itu menetapkan Ustadz Emil Idad untuk melanjutkan khidmahnya sebagai Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand periode 2026–2028. Sementara ketua tanfidziyah kembali diamanahkan kepada Arief Syamsulaksana setelah memperoleh 17 suara dari 52 pemilih.


Usai penetapan, Arief menyampaikan bahwa kepengurusan dua tahun ke depan tidak akan mudah, tetapi masih sangat mungkin dijalankan melalui kerja kolektif.


“Ini tidak mudah, tetapi dengan kerja sama, saran, dan arahan dari berbagai pihak, kita bisa mensukseskan kepengurusan dua tahun ke depan,” ujarnya.


Dari sisi lain, Arief menegaskan bahwa keberhasilan kepengurusan mendatang sangat ditentukan oleh kerja sama seluruh unsur, mulai dari pengurus, state, hingga jejaring komunitas yang selama ini menopang gerakan NU di diaspora.


Sementara itu, Ustadz Emil Idad, Rais Syuriyah terpilih, menekankan bahwa pekerjaan terbesar PCINU Australia-New Zealand ke depan adalah mendekatkan tradisi NU kepada generasi muda, memperkuat sanad keilmuan, dan mengembangkan program-program yang meneguhkan moderasi serta harmoni sosial.


Perhelatan ini juga dihadiri PCI Muhammadiyah Australia, PCI Aisiyah Australia, Indonesian Muslim Community of Victoria (IMCV), Takmir Masjid, dan beberapa organisasi diaspora di negara bagian Victoria.


Kontributor: Arian Prasetiyawan

Baca Artikel Selengkapnya