JAKARTA — Uni Eropa mempercepat pengembangan teknologi persenjataan dan sistem tempur tanpa awak yang dirancang tetap beroperasi ketika sinyal GPS terganggu atau tidak tersedia. Badan Pertahanan Eropa atau European Defence Agency (EDA) memilih empat teknologi pertahanan dari Polandia, Finlandia, Prancis, dan Estonia setelah serangkaian pengujian bersama militer Portugal, termasuk sistem misi berbasis kecerdasan buatan dan roket berbiaya rendah yang peluncurnya dapat dipasang pada drone.
Dalam pengumuman resminya pada 14 Oktober 2026, EDA menyatakan keempat perusahaan terpilih memperoleh dukungan pendanaan gabungan sebesar 1,2 juta euro atau sekitar Rp24,32 miliar. Masing-masing perusahaan mendapatkan 300 ribu euro atau sekitar Rp6,08 miliar untuk melanjutkan pengembangan teknologi sebelum kembali menjalani pengujian lapangan pada 2027.
Dana yang diberikan merupakan dukungan pengembangan teknologi melalui program BraveTech EU, bukan kontrak pembelian senjata maupun keputusan pengadaan oleh angkatan bersenjata negara anggota Uni Eropa.
Pemilihan tersebut merupakan hasil kampanye pengujian operasional EU OPEX 2026 yang berlangsung di kawasan latihan militer Santa Margarida, Portugal, pada 21 September hingga 14 Oktober. Program yang diselenggarakan bersama Angkatan Darat Portugal itu mempertemukan pengembang teknologi pertahanan dengan pengguna militer untuk menguji kemampuan sistem dalam skenario yang menyerupai kondisi medan perang.
Empat perusahaan yang terpilih adalah EdgeX Robotics dari Polandia, Kova Labs dari Finlandia, Soraccel dari Prancis, dan Tempterno Defence dari Estonia. Teknologi yang mereka kembangkan mencakup kendaraan darat tanpa awak, navigasi otonom di medan sulit, sistem misi berbasis kecerdasan buatan tanpa GPS, serta peluncur roket berbiaya rendah yang dapat dipasang pada kendaraan atau drone.
Keputusan tersebut memperlihatkan arah baru pengembangan teknologi pertahanan Eropa di tengah perubahan karakter peperangan modern. Sistem militer tidak lagi cukup hanya memiliki kemampuan serangan, tetapi juga dituntut mampu beroperasi ketika komunikasi terganggu, navigasi satelit tidak tersedia, atau medan pertempuran terlalu berbahaya untuk dimasuki personel.
Namun, EDA menegaskan bahwa keempat teknologi masih memerlukan pengembangan dan pengujian lanjutan. Pemilihan perusahaan pemenang tidak berarti seluruh sistem tersebut sudah menjadi persenjataan operasional atau telah memenuhi semua persyaratan penggunaan tempur.
Empat Teknologi Dipilih dari Enam Perusahaan
Pemilihan empat teknologi dilakukan melalui program BraveTech EU, inisiatif kerja sama antara Uni Eropa dan Ukraina untuk mempercepat pengembangan teknologi pertahanan berdasarkan kebutuhan nyata di medan perang. Program tersebut didanai Komisi Eropa dan dilaksanakan dengan melibatkan EDA serta platform inovasi pertahanan Ukraina, Brave1.
Sebelum menjalani pengujian di Portugal, enam perusahaan terlebih dahulu dipilih untuk mengikuti fase kedua BraveTech EU. Keenamnya dinilai mempunyai teknologi yang berpotensi menjawab kebutuhan militer, mulai dari komunikasi tahan gangguan hingga sistem persenjataan tanpa awak.
Pada 14 Juli 2026, EDA mengumumkan enam peserta yang lolos ke tahap eksperimen operasional. Selain empat perusahaan yang akhirnya terpilih pada Oktober, terdapat Smaesh GmbH dari Jerman yang mengembangkan sistem komunikasi berbasis beberapa teknologi radio dan Rannon dari Latvia yang menawarkan amunisi berpendorong roket untuk pertempuran antardrone.
Dari enam perusahaan tersebut, empat dipilih setelah menjalani evaluasi selama kampanye pengujian di Portugal. Penilaian melibatkan pakar EDA, Komisi Eropa, Brave1, perwakilan negara anggota Uni Eropa, dan Angkatan Bersenjata Portugal.
EDA tidak mengumumkan pemeringkatan terperinci antara keempat pemenang dalam siaran pers 14 Oktober. Lembaga tersebut juga tidak menyatakan dua perusahaan yang tidak terpilih gagal secara teknis pada seluruh aspek pengujian.
Tujuan evaluasi adalah mengidentifikasi solusi yang paling menjanjikan untuk dilanjutkan menuju tingkat kematangan teknologi lebih tinggi. Dengan demikian, penghargaan tersebut merupakan keputusan pendanaan dan pengembangan lanjutan, bukan penetapan pemenang kontrak persenjataan.
Teknologi Pertama: AI Prancis Tetap Bernavigasi Tanpa GPS
Salah satu teknologi yang mendapat perhatian berasal dari Soraccel, perusahaan Prancis yang mengembangkan sistem misi berbasis kecerdasan buatan. EDA menjelaskan sistem tersebut dirancang untuk memungkinkan navigasi ketika sinyal GPS tidak tersedia.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena navigasi satelit merupakan salah satu komponen yang banyak digunakan drone modern. Ketika sinyal terganggu atau tidak dapat dipercaya, pesawat tanpa awak yang terlalu bergantung pada navigasi satelit berisiko kehilangan ketepatan posisi dan kemampuan menyelesaikan misi.
Gangguan tersebut dapat terjadi melalui jamming, yakni pemancaran sinyal pengganggu yang menghambat penerimaan navigasi satelit. Ancaman lainnya adalah spoofing, yaitu penyampaian sinyal atau informasi navigasi palsu yang dapat membuat perangkat memperkirakan posisi secara keliru.
Sistem yang dikembangkan Soraccel diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada GPS melalui kemampuan otonom berbasis perangkat lunak. Perusahaan tersebut juga mengembangkan sistem robotika dan koordinasi sejumlah drone yang memungkinkan operator mengelola misi dengan bantuan otomatisasi.
Dalam pernyataan perusahaan setelah menerima penghargaan, Soraccel menyebut pendanaan 300 ribu euro akan digunakan untuk melanjutkan pengembangan sistem misi AI dan persiapan pengujian lanjutan pada 2027. Perusahaan menekankan ambisinya mengembangkan robot otonom yang mampu membantu operator menjalankan tugas kompleks, termasuk di wilayah tanpa akses GPS.
Namun, pengumuman EDA tidak merinci seluruh metode navigasi yang digunakan Soraccel maupun tingkat ketelitian sistem dalam setiap kondisi pengujian. Kemampuan menjalankan navigasi tanpa GPS juga tidak dapat langsung disamakan dengan kemampuan senjata untuk memilih dan menyerang sasaran secara mandiri.
Penggunaan kecerdasan buatan dalam navigasi mempunyai fungsi berbeda dari pengambilan keputusan penggunaan kekuatan mematikan. Informasi yang tersedia belum membuktikan bahwa sistem Soraccel mempunyai kewenangan atau kemampuan operasional untuk melaksanakan serangan tanpa kendali manusia.

51 menit yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·