Eks Bos Mossad Akui Israel Korbankan Warga Iran untuk Lindungi Agen

1 jam yang lalu 2

Orang-orang berjalan melewati papan reklame besar yang mendukung Palestina menjelang demonstrasi Hari Al-Quds, di alun-alun Vali-Asr di pusat kota Teheran, Iran, Kamis (13/4/2023).

TEL AVIV -- Mantan kepala Mossad, David Barnea, mengatakan bahwa Israel sengaja merilis gambar-gambar operasi rahasia mereka di Iran selama konflik Juni 2025 untuk memicu penangkapan massal. Ini untuk menyulitkan pasukan Iran melacak agen-agen Israel yang sebenarnya.

“Salah satu alasan kami segera merilis video resmi pada pagi hari pelaksanaan Operasi Rising Lion—yang menyertakan logo Mossad—adalah untuk melindungi agen-agen yang berada di sana,” ujar Barnea, sebagaimana dilaporkan oleh The Jerusalem Post pada 25 Oktober.

Barnea menjelaskan bahwa pembocoran rekaman operasi Israel di Iran tersebut bukan sekadar upaya untuk memamerkan jangkauan Mossad, melainkan sebuah strategi untuk membuat badan kontraintelijen Iran kewalahan. Hal ini memicu penangkapan massal, yang pada gilirannya menyulitkan mereka untuk membedakan antara agen rahasia dan warga sipil biasa.

“Kami ingin memastikan mereka menangkap begitu banyak orang di Iran hingga mereka tidak lagi mampu memilah mana yang benar-benar terlibat dan mana yang tidak, sehingga pada akhirnya mereka terpaksa membebaskan semua orang tersebut,” katanya.

Barnea menyebutkan bahwa otoritas Iran menangkap 21.000 orang selama operasi tersebut berlangsung.

“Bayangkan, ketika Anda menangkap 21.000 orang—meskipun mungkin ada satu atau dua agen yang tertangkap—pada akhirnya Anda harus membebaskan mereka semua, karena keterangan yang mereka berikan pasti akan sama: ‘Saya sedang berjalan di jalan,’ atau ‘Saya sedang mengendarai mobil,’ lalu mereka menangkap saya,” ujarnya.

Barnea menambahkan bahwa banyak orang yang ditangkap atau dieksekusi atas tuduhan bekerja untuk Israel sebenarnya sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Mossad.

Pernyataan yang disampaikan dalam acara Priority Summit pada 22 Oktober di hadapan audiens terbatas telah memicu tanggapan keras dari Trita Parsi.

Parsi, wakil presiden eksekutif di Quincy Institute for Responsible Statecraft, menyebut pernyataan tersebut sebagai pengakuan bahwa Israel "menggunakan warga Iran biasa sebagai alat untuk melindungi agen Mossad" di negara itu.

"Jarang sekali Anda menemukan pengakuan yang begitu kasar mengenai bagaimana Israel secara sengaja dan sembrono menempatkan ribuan orang—yang mereka klaim ingin dibebaskan—ke dalam situasi yang membahayakan," tulis Parsi di platform X.

Baca Artikel Selengkapnya