Ekonom: Sinergi antar lembaga penting untuk stabilisasi kurs rupiah

3 jam yang lalu 2
Dalam stabilisasi rupiah, BI tidak bisa bekerja sendiri. Jadi BI sudah mengerjakan apa yang menjadi pekerjaannya, dan otoritas lain perlu mengerjakan pekerjaannya,

Bandung (ANTARA) - Ekonom yang juga Associate Faculty LPPI Ryan Kiryanto mengatakan, upaya stabilisasi nilai tukar rupiah tidak dapat hanya mengandalkan Bank Indonesia (BI), melainkan membutuhkan sinergi dengan otoritas lain guna menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Hal itu disampaikan Ryan merespons pelemahan nilai tukar rupiah dalam pekan ini yang menembus level Rp17.300 per dolar AS karena ketegangan geopolitik global yang meningkatkan ketidakpastian ekonomi.

"Dalam stabilisasi rupiah, BI tidak bisa bekerja sendiri. Jadi BI sudah mengerjakan apa yang menjadi pekerjaannya, dan otoritas lain perlu mengerjakan pekerjaannya," kata Ryan dalam diskusi dengan media di Bandung, Jawa Barat, Sabtu.

Menurutnya, beberapa strategi mikro sudah berjalan, namun perlu penguatan yang kolaboratif dan bersifat lintas sektor. Beberapa strategi yang sudah berjalan itu, antara lain, penyesuaian threshold (ambang batas) untuk pembelian valuta asing (valas) dolar AS terhadap rupiah di perbankan.

Baca juga: Ekonom nilai kombinasi kebijakan BI cegah rupiah tak jatuh lebih dalam

Ia juga mengusulkan agar perbankan yang memiliki debitur dengan eksposur pinjaman valuta asing (valas) yang besar, dalam tahap tertentu perlu mengkonversikannya ke rupiah untuk mengurangi tekanan nilai tukar.

Ryan juga mendorong perbaikan struktural perekonomian domestik, di antaranya dengan peningkatan penggunaan bahan baku substitusi impor seperti di industri farmasi. Hal ini dapat mengurangi permintaan valas sehingga tekanan terhadap rupiah berkurang.

Peran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), menurut Ryan, juga perlu diperkuat melalui harmonisasi kebijakan antarotoritas. Hal itu agar KSSK dapat menghasilkan kebijakan dengan nada yang lebih ramah pasar dan investor.

Adapun nilai tukar rupiah pada perdagangan akhir pekan atau Jumat (24/4) ditutup pada level Rp17.229 per dolar AS. Sehari sebelumnya, pada Kamis (23/4), nilai tukar rupiah melemah menembus level Rp17.304 per dolar AS atau level terlemah mata uang garuda selama ini.

Baca juga: Rupiah menguat seiring posisi kuat APBN hadapi dampak konflik AS-Iran

Untuk langkah stabilisasi nilai tukar ke depan, Ryan berpandangan asumsi kurs rupiah dalam APBN 2026 dapat menjadi acuan titik keseimbangan yakni di sekitar Rp16.500 per dolar AS.

"Asumsi APBN kita itu adalah titik ekuilibrium, yang perlu pelan-pelan kita arahkan. Tentu ini ada dasarnya, mungkin saat menetapkan kurs di level itu, itu merupakan angka yang bisa menyenangkan eksportir dan importir," ujarnya.

Dengan eskalasi ketegangan geopolitik global yang berimbas pada volatilitas harga minyak dan komoditas, Ryan berpandangan risiko terhadap ekonomi Indonesia kian meningkat.

Risiko itu akan bertransmisi pada perdagangan, keuangan, dan investasi. Karena itu ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga ke depan, kata dia, menjadi kian terbatas.

Baca juga: Rupiah terima sentimen risk-off akibat ketidakpastian di Timur Tengah

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya