Ekonom proyeksikan ekonomi RI tetap resilien di tengah dinamika global

1 hari yang lalu 13

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), Irman Faiz memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh kuat (resilien) di tengah dinamika pasar keuangan dan ketidakpastian global.

Ia memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh sekitar 5,2 persen year on year (yoy) pada 2026, didukung oleh investasi, belanja pemerintah, aktivitas ekonomi domestik yang masih solid, dan kebijakan pemerintah yang mendorong aktivitas ekonomi nasional.

"Aktivitas investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara peluang dari hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah hingga panjang," ujar Irman sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Irman mengatakan bahwa investasi asing langsung (FDI) terus menunjukkan tren positif, terutama pada sektor hilirisasi, industri logam dasar, serta pengembangan pusat data (data center) yang mulai menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

Di sisi lain, Ia mengingatkan tetap adanya berbagai risiko eksternal, diantaranya defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya seiring tingginya impor energi dan perlambatan ekonomi sejumlah mitra dagang utama.

Selain itu, lanjutnya, volatilitas pasar keuangan global dan perubahan arah kebijakan moneter negara maju berpotensi mempengaruhi pergerakan arus modal dan nilai tukar rupiah.

Namun demikian, Ia juga mengingatkan bahwa Bank Indonesia (BI) terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan yang mendukung pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar valuta asing domestik.

Ia menilai pasar valuta asing yang lebih dalam, likuid, dan berdaya tahan, semakin penting untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan perubahan arus modal internasional.

Sementara itu, Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Yansen Lokanata, menjelaskan bahwa BI telah mengimplementasikan berbagai kebijakan untuk memperkuat pasar valuta asing domestik.

Adapun, berbagai kebijakan itu diantaranya pengembangan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction), penyempurnaan ketentuan transaksi pasar valuta asing, hingga implementasi Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra (VASTRA).

Ia menjelaskan, kebijakan VASTRA dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai rupiah di pasar domestik.

Selain memperkuat daya tarik aset keuangan Indonesia, lanjutnya, kebijakan tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan likuiditas pasar valuta asing domestik, memperbaiki transparansi transaksi, serta mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.

"Pendalaman pasar valuta asing merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Berbagai kebijakan yang terus disempurnakan Bank Indonesia bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pasar, memperluas akses investor, serta mendorong terciptanya pasar keuangan yang lebih inklusif dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika global," ujar Yansen.

Baca juga: Bappenas: Pertumbuhan ekonomi harus diikuti peningkatan produktivitas

Baca juga: Setahun menjabat Menkeu, Purbaya: Ekonomi sudah siap tumbuh 6 persen

Baca juga: Kadin: Dunia usaha harus bergerak kejar pertumbuhan 6 persen

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya