Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz mengingatkan pengelolaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) akan menjadi salah satu ujian kebijakan dalam jangka pendek, usai pergantian kepemimpinan Menteri Keuangan (Menkeu) dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara.
“Pada akhirnya, SAL seharusnya tetap berfungsi sebagai penyangga fiskal, bukan menjadi sumber likuiditas perbankan secara permanen,” kata Faiz dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Faiz menambahkan, setiap normalisasi penempatan dana perlu dilakukan secara bertahap, terukur, dan terkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk meminimalkan tekanan terhadap likuiditas dan biaya pendanaan.
Selain itu, ia juga mengingatkan tantangan untuk menyeimbangkan agenda pertumbuhan pemerintah yang ambisius dengan ruang fiskal yang semakin terbatas.
Untuk diketahui, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0 persen dan defisit fiskal sebesar 2,40 persen terhadap PDB pada 2027.
Faiz menyampaikan bahwa pihaknya mempertahankan proyeksi pertumbuhan yang lebih konservatif sebesar 5,1 persen dan memperkirakan defisit berada di sekitar 2,75 persen terhadap PDB, yang masih berada dalam batas aturan fiskal 3 persen.
“Hal ini semakin menegaskan perlunya menjaga kredibilitas fiskal sembari mengalihkan prioritas dari belanja dengan multiplier rendah menuju belanja yang lebih produktif,” kata dia.
Secara umum, ia memandang perombakan kabinet (reshuffle) untuk posisi Menteri Keuangan bukan diartikan sebagai perubahan rezim fiskal Indonesia melainkan sinyal kesinambungan kebijakan fiskal.
Pengalaman panjang Suahasil di Kementerian Keuangan diperkirakan dapat membatasi risiko transisi, sementara latar belakangnya sebagai teknokrat memberikan kesinambungan kelembagaan dalam pengelolaan APBN.
Secara keseluruhan, tim ekonom Bank Danamon memperkirakan kebijakan fiskal akan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap mempertahankan batas defisit fiskal 3 persen sebagai jangkar utama kredibilitas.
“Ke depan, prioritas kebijakan seharusnya semakin bergeser dari sekadar memperbesar belanja menuju peningkatan kualitas, multiplier, dan keberlanjutan belanja,” kata Faiz.
Diberitakan sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa dalam seremoni di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/9).
Suahasil dilantik sebagai Menkeu yang baru sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 97P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri Keuangan Kabinet Merah Putih Sisa Jabatan 2024–2029 yang ditetapkan pada 14 September 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pernyataannya usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Suahasil mengaku mendapat arahan dari Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara, terutama APBN.
Menurutnya, APBN sebagai bagian dari keuangan negara harus tetap sehat agar mampu membiayai dan menjalankan berbagai program prioritas pemerintah. Selain sehat, ia menekankan pentingnya menjaga kredibilitas APBN sehingga anggaran negara tetap dapat dipercaya.
Baca juga: Menkeu Purbaya tambah penempatan dana SAL di Himbara Rp40 triliun
Baca juga: OJK berharap pertumbuhan kredit bisa di atas 10 persen pada akhir 2026
Baca juga: Ada atau tak ada SAL, BTN jaga LDR pada kisaran 92-95 persen
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·