Ekonom: Panda Bond perdalam akses RI ke pasar domestik Tiongkok

3 jam yang lalu 1
... obligasi Panda memberi akses yang lebih langsung dan lebih dalam kepada tabungan domestik Tiongkok...

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede memandang, penerbitan Panda Bond memperdalam akses Indonesia ke pasar domestik Tiongkok sekaligus membentuk acuan harga obligasi Indonesia di pasar tersebut.

Pasar Panda berpotensi mendukung ukuran penerbitan yang lebih besar dan berulang, meski persyaratan administrasi, pelaporan berbahasa Mandarin, pemeringkatan lokal, persetujuan regulator, serta pengaturan pemindahan dana biasanya lebih rumit.

“Artinya, obligasi Panda menawarkan kedalaman pasar yang lebih baik, sedangkan obligasi Dim Sum menawarkan keluwesan pelaksanaan yang lebih tinggi,” kata Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.

Josua menjelaskan, perbedaan utama Panda Bond dan Dim Sum Bond terletak pada pasar penerbitannya. Obligasi Panda diterbitkan di pasar domestik Tiongkok dan terutama menjangkau investor institusi yang memiliki dana dalam renminbi di Tiongkok.

Sedangkan obligasi Dim Sum diterbitkan di luar Tiongkok, terutama melalui Hong Kong, dan lebih banyak menjangkau investor internasional yang mengelola dana renminbi luar negeri.

“Dengan demikian, obligasi Panda memberi akses yang lebih langsung dan lebih dalam kepada tabungan domestik Tiongkok, sedangkan obligasi Dim Sum memiliki keunggulan dalam fleksibilitas pemanfaatan serta pemindahan dana lintas negara,” jelas Josua.

Ketika ditanya mengenai seberapa besar potensi permintaan investor domestik Tiongkok, Josua menilai potensi permintaannya cukup kuat meski tetap bergantung pada harga.

Menurutnya, jumlah penerbitan perdana yang dibatasi sekitar 7 miliar renminbi relatif terkendali dibandingkan kapasitas pasar domestik Tiongkok.

Dukungan Bank Sentral Tiongkok, keterlibatan bank-bank besar seperti Bank of China, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), China International Capital Corporation (CICC), China International Trust Investment Corporation (CITIC), China Construction Bank, dan China Eximbank, serta peringkat AAA domestik juga menjadi modal penting untuk menarik investor.

Menurut Josua, salah satu faktor terpenting yang menentukan tingkat kepercayaan dan minat investor yakni imbal hasil relatif terhadap obligasi pemerintah dan bank kebijakan Tiongkok. Investor akan meminta tambahan imbal hasil yang cukup untuk menanggung risiko Indonesia, meskipun peringkat lokalnya tinggi.

Faktor kedua adalah disiplin fiskal, arah rasio utang, kemampuan menjaga pertumbuhan, cadangan devisa, dan stabilitas rupiah.

Sebagai catatan, Lianhe memberikan peringkat tertinggi karena pertumbuhan Indonesia tetap di atas 5 persen, cadangan devisa memadai, utang luar negeri relatif rendah, dan rasio utang pemerintah sekitar 40 persen terhadap PDB.

Faktor berikutnya adalah kemudahan pemindahan pembayaran, kepastian perpajakan, ketersediaan transaksi lindung nilai, likuiditas perdagangan setelah penerbitan, dan adanya bank yang secara aktif menyediakan harga jual-beli.

“Investor juga akan menilai apakah pemerintah akan hadir secara teratur atau hanya melakukan penerbitan satu kali,” kata Josua.

Ia mengatakan bahwa penerbitan yang berulang dalam jumlah terukur akan membentuk kurva imbal hasil dan meningkatkan likuiditas, sehingga biaya penerbitan berikutnya berpotensi semakin rendah.

Sebaliknya, kelebihan permintaan pada tahap awal tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai permintaan yang tidak terbatas karena dapat pula muncul akibat penawaran imbal hasil awal yang terlalu tinggi.

Secara umum, Josua memandang penerbitan obligasi Panda merupakan langkah yang layak dan strategis, terutama untuk memperluas basis investor, mengurangi konsentrasi pembiayaan dolar AS, memperdalam penggunaan renminbi, dan membuka jalur pembiayaan bagi penerbit Indonesia lainnya.

Biaya kuponnya sangat mungkin lebih rendah daripada obligasi global dolar AS, tetapi biaya pinjaman menyeluruh belum tentu lebih murah setelah memperhitungkan penukaran mata uang dan lindung nilai.

Menurutnya, pemerintah sebaiknya mempertahankan pendekatan bertahap antara lain membatasi penerbitan perdana, mengevaluasi biaya menyeluruh dalam rupiah, memantau perdagangan setelah penerbitan, dan kembali ke pasar hanya apabila terdapat penghematan nyata atau manfaat strategis yang jelas.

Obligasi Panda juga harus ditempatkan sebagai pelengkap, bukan pengganti penuh obligasi dolar AS, karena pasar dolar tetap dibutuhkan untuk memperoleh pembiayaan berjangka sangat panjang dan menjangkau investor global.

“Yang perlu dihindari adalah menjadikan penerbitan renminbi sekadar simbol pengurangan ketergantungan terhadap dolar atau sarana menutupi pelebaran kebutuhan pembiayaan. Keberhasilannya pada akhirnya tetap ditentukan oleh kredibilitas fiskal, pengelolaan risiko mata uang, transparansi biaya, dan konsistensi strategi utang pemerintah,” kata Josua.

Baca juga: Purbaya nilai rating AAA Panda Bond cerminkan kredibilitas fiskal RI

Baca juga: Purbaya sebut Panda Bond bantu kurangi ketergantungan dolar

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya