Ekonom: Literasi dan pendalaman keuangan bangun kesiapan finansial

1 jam yang lalu 1

Jakarta (ANTARA) - ASEAN Economist United Overseas Bank (UOB) Enrico Tanuwidjaja menilai pendalaman sektor keuangan Indonesia perlu berjalan beriringan dengan penguatan literasi untuk membangun kesiapan finansial masyarakat.

Menurut dia, Indonesia masih memiliki ruang besar untuk memperdalam sektor keuangan karena sejumlah indikator menunjukkan tingkat kedalaman dan akses keuangan relatif rendah dibandingkan beberapa negara ASEAN.

“Indonesia itu penetrasi kreditnya paling rendah. Artinya apa, masih banyak yang bisa digali,” kata Enrico dalam UOB Media Editors Circle 2026 di Jakarta, Rabu.

Dalam data komparatif UOB yang bersumber dari World Bank, rasio utang swasta terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat 36 persen, dibandingkan Filipina 48 persen, Malaysia 117 persen, Singapura 129 persen dan Thailand 154 persen.

Sementara itu, kapitalisasi pasar perusahaan domestik tercatat terhadap PDB Indonesia berada pada 46 persen, lebih rendah dibandingkan Filipina 59 persen, Malaysia 94 persen, Thailand 122 persen dan Singapura 124 persen.

Dari sisi akses keuangan, tingkat kepemilikan rekening bank pada penduduk berusia 15 tahun ke atas tercatat 52 persen di Indonesia, dibandingkan 51 persen di Filipina, 88 persen di Malaysia, 96 persen di Thailand dan 98 persen di Singapura.

Adapun penduduk berusia 15 tahun ke atas yang melakukan atau menerima pembayaran digital tercatat 39 persen di Indonesia, sama dengan Filipina, tetapi lebih rendah dibandingkan Malaysia 76 persen, Thailand 88 persen dan Singapura 93 persen.

Enrico menilai kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat potensi untuk memperluas pemanfaatan pembiayaan maupun berbagai layanan keuangan di Indonesia.

Namun, menurut dia, perluasan akses tidak cukup apabila masyarakat tidak dibekali kemampuan memahami dan mengelola produk keuangan secara bertanggung jawab.

“Jadi literasi finansial harus berjalan bersamaan dengan pendalaman finansial untuk membangun kesiapan finansial, baru kita akan bertumbuhnya very sound, very solid,” ujarnya.

Enrico secara khusus menyoroti generasi muda yang memiliki pola konsumsi semakin berorientasi pada pengalaman, seperti perjalanan dan hiburan.

Menurut dia, kemampuan konsumsi tersebut perlu diimbangi kesiapan dalam mengelola keuangan. Ia mengingatkan konsumsi yang meningkat tanpa kebiasaan menabung dan pengelolaan keuangan yang baik dapat meningkatkan risiko ketergantungan terhadap utang.

“Kalau anak muda konsumtif doang itu half the good story. You need to be financially responsible. Kalau enggak sekarang nabung nih, jalan-jalan doang. Nah entar kalau enggak ada duit, ngutang terus, pinjol, whatever it is ya, itu enggak bagus,” ucap Enrico.

Karena itu, menurut dia, pendalaman keuangan seharusnya tidak hanya memperbesar penggunaan produk keuangan, tetapi juga membantu masyarakat mengambil keputusan finansial secara lebih bertanggung jawab.

Di dalam negeri, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilaksanakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen dan indeks inklusi keuangan 80,51 persen.

Kedua indeks tersebut meningkat dibandingkan SNLIK 2024, ketika literasi keuangan tercatat 65,43 persen dan inklusi keuangan 75,02 persen. Namun, masih terdapat selisih 14,05 poin persentase antara tingkat literasi dan inklusi pada 2025.

Untuk memperkuat pemahaman masyarakat seiring dengan perluasan akses, Bank Indonesia (BI) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Maret 2026 meluncurkan Program Kuatkan Literasi dan Inklusi Keuangan untuk Kesejahteraan (AKSI KLIK), yang diarahkan pada penguatan literasi dan akses pembiayaan produktif.

BI bersama Kementerian Keuangan, OJK dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga menjalankan Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2026 dengan perhatian khusus pada generasi muda. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan mengambil keputusan finansial secara bijak sekaligus memperluas basis investor domestik.

Menurut Enrico, penguatan literasi dan pendalaman sektor keuangan pada akhirnya perlu berjalan bersama agar meningkatnya akses terhadap layanan keuangan dapat ditransformasikan menjadi kesiapan finansial yang lebih kuat di masyarakat.

Baca juga: OJK: Peningkatan literasi keuangan di Bali dorong kesejahteraan

Baca juga: OJK: Indeks literasi dan inklusi keuangan 2026 melampaui target RPJMN

Baca juga: Pegadaian perkuat literasi keuangan pekerja informal di Tangerang

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya