BCA: Ekonomi sulit diprediksi dorong nasabah proteksi kekayaan

1 jam yang lalu 2

Jakarta (ANTARA) - Executive Vice President Wealth Management BCA Indrawan B mengatakan kondisi ekonomi kini yang semakin sulit diprediksi mendorong kebutuhan nasabah bank terhadap solusi perlindungan kekayaan dalam jangka panjang.

Indrawan mengatakan perubahan ekonomi yang berlangsung cepat membuat proyeksi kondisi ekonomi dalam lima hingga 10 tahun ke depan semakin sulit dilakukan secara akurat.

“Kalau kita bicara ini kan ketidakpastian. Kita agak sulit untuk prediksi misalnya lima tahun ke depan mau bagaimana, 10 tahun ke depan mau bagaimana. Karena perubahannya sangat cepat,” kata Indrawan dalam acara konferensi pers Wealth Prestige Protection di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, kondisi ekonomi global dan domestik saat ini juga semakin terhubung sehingga perubahan yang terjadi di suatu negara dapat berdampak terhadap negara lainnya.

Dalam konteks tersebut, kebutuhan perlindungan kekayaan menjadi semakin relevan karena masyarakat perlu mengantisipasi berbagai risiko dalam jangka panjang, termasuk inflasi dan perubahan nilai tukar.

Indrawan mengatakan nilai kekayaan dalam nominal yang sama dapat memiliki daya beli yang berbeda pada masa mendatang akibat inflasi.

“Uang Rp1 miliar sekarang dengan uang Rp1 miliar 10 tahun lagi mungkin akan sangat berbeda,” ujarnya.

Dia menuturkan kecenderungan nilai rupiah terhadap dolar AS serta potensi inflasi menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan ketika masyarakat merencanakan perlindungan kekayaan untuk jangka panjang.

Atas dasar itu, BCA menghadirkan solusi perlindungan seperti Prestige Pro bekerja sama dengan AIA Indonesia yang dirancang untuk memberikan perlindungan dalam jangka panjang hingga usia 99 tahun.

Menurut Indrawan, penggunaan denominasi dolar AS dalam produk tersebut juga menjadi salah satu upaya untuk mengantisipasi ketidakpastian nilai rupiah dalam jangka panjang.

Dia menambahkan solusi perlindungan kekayaan perlu dirancang dengan mempertimbangkan berbagai risiko sehingga nilai yang diperoleh nasabah tidak hanya diharapkan stabil, tetapi juga dapat tumbuh untuk mengimbangi tekanan inflasi.

“Harus up supaya bisa meng-cover inflasi dan segala macam. Termasuk currency-nya,” katanya.

Lebih lanjut, Indrawan mengatakan BCA tidak menetapkan target penjualan produk tertentu yang kemudian harus dikejar oleh tenaga pemasar.

Menurut dia, pendekatan tersebut dilakukan agar kebutuhan nasabah tetap menjadi dasar dalam menawarkan solusi wealth management.

“Kita tidak mau penjualan kita itu di-drive dari keinginan kita menjual. Yang kita mau adalah kita menjual berdasarkan angka yang nasabah kita butuh,” ujarnya.

Indrawan mengatakan dengan pendekatan kebutuhan nasabah solusi dapat lebih tepat sasaran dan sesuai preferensi karakter nasabah yang dituju.

Baca juga: DBS Indonesia bidik bisnis wealth management tumbuh dua digit di 2026

Baca juga: Dirut BRI Finance ungkap strategi pengelolaan kekayaan untuk hari tua

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya