Jakarta (ANTARA) - Ekonom Bank BTN memandang, BI-Rate yang kembali diputuskan naik pada Kamis, menunjukkan kehati-hatian Bank Indonesia terhadap masih adanya risiko tekanan pada nilai tukar rupiah serta potensi dampak lanjutan inflasi impor.
Suku bunga acuan (BI-Rate) kembali naik sebesar 25 basis poin melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulanan periode Juni 2026. Dengan kenaikan terbaru, posisi BI-Rate kini berada pada level 5,75 persen.
“Kami memandang keputusan ini mencerminkan fokus Bank Indonesia yang tetap mengutamakan stabilitas makroekonomi, khususnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global,” kata Chief Economist BTN Myrdal Gunarto dalam publikasinya di Jakarta, Kamis.
Di sisi lain, catat tim ekonom BTN, kebijakan tersebut juga mencerminkan respons bank sentral Indonesia terhadap dinamika likuiditas domestik maupun eksternal.
“Risiko pelebaran defisit transaksi berjalan, meningkatnya kebutuhan devisa untuk impor energi dan pembayaran dividen korporasi, serta dinamika arus modal global menjadi faktor yang turut memengaruhi arah kebijakan moneter saat ini,” jelas Myrdal.
Tim ekonom BTN juga melihat langkah ini sebagai bagian dari strategi antisipatif BI dalam menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah potensi perubahan arah kebijakan moneter global maupun dinamika arus modal internasional.
Meskipun minat investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan perbaikan, BI tetap mengambil langkah preventif untuk memperkuat kepercayaan pasar dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Tingginya minat investor pada lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dengan nilai penyerapan mencapai sekitar Rp43 triliun dan tingkat imbal hasil yang masih berada di atas 7 persen, menunjukkan instrumen moneter BI masih efektif dalam mendukung stabilitas pasar keuangan domestik.
Kondisi tersebut sekaligus memberikan ruang bagi BI untuk terus menjaga stabilitas likuiditas dan nilai tukar apabila volatilitas global kembali meningkat.
Dalam jangka pendek, tim ekonom BTN memperkirakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek masih akan berada di atas 7 persen, sementara yield SUN tenor 10 tahun diperkirakan bergerak pada kisaran 6,87–7,41 persen.
Myrdal memproyeksikan bahwa ke depan, ruang penyesuaian BI-Rate semakin terbatas dan akan sangat bergantung pada perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi domestik, harga energi global, serta dinamika arus modal internasional.
“Selama tekanan eksternal mulai mereda dan harga minyak dunia tetap terkendali, kami memperkirakan BI-Rate berpotensi dipertahankan pada level 5,75 persen hingga akhir tahun,” kata dia.
Dengan asumsi tersebut, prospek perekonomian Indonesia diperkirakan tetap terjaga dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,17 persen pada 2026 dan inflasi sebesar 3,09 persen.
Sementara itu, pertumbuhan intermediasi perbankan diperkirakan berlangsung lebih moderat dengan pertumbuhan kredit di bawah 9 persen.
Menurut tim ekonom BTN, sektor-sektor yang diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan pembiayaan meliputi ketahanan pangan, transportasi, konstruksi, industri makanan dan minuman, energi, besi dan baja, kelapa sawit, serta properti residensial.
Sebagai catatan, dalam waktu satu bulan, kenaikan BI-Rate secara kumulatif tercatat sebesar 100 bps.
Dalam RDG pada 19-20 Mei 2026, BI-Rate naik sebesar 50 basis poin (bps), menjadikannya langkah penyesuaian pertama setelah dipertahankan di level 4,75 persen sejak September 2025.
Namun, nilai tukar rupiah terus melemah hingga menyentuh level Rp18.000-an per dolar AS sehingga BI-Rate kembali dinaikkan sebesar 25 bps melalui RDG Mingguan pada 9 Juni 2026 atau di luar jadwal reguler.
Terbaru pada Kamis (18/6) melalui RDG Bulanan, bank sentral memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps.
Baca juga: BI nilai pertumbuhan ekonomi nasional terjaga meskipun BI-Rate naik
Baca juga: BCA Syariah perkuat sumber dana murah seiring kenaikan BI-Rate
Baca juga: BI naikkan suku bunga acuan BI-Rate jadi 5,75 persen
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·