Ebola Melonjak, Warga Malah Bakar Fasilitas Medis, Kongo Chaos

1 jam yang lalu 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dilaporkan semakin memburuk. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menaikkan status risiko penyebaran wabah menjadi “sangat tinggi” di tingkat nasional di tengah lonjakan kasus, lemahnya fasilitas kesehatan, hingga meningkatnya kemarahan warga yang mulai sulit dikendalikan.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan wabah Ebola di Kongo kini menyebar dengan cepat dan berpotensi semakin sulit dikendalikan.

“Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menyebar dengan cepat,” kata Tedros. “Kami sekarang merevisi penilaian risiko menjadi sangat tinggi di tingkat nasional.”

WHO mencatat hingga kini terdapat 82 kasus Ebola terkonfirmasi dengan tujuh kematian. Namun badan kesehatan PBB itu memperingatkan skala wabah sebenarnya diyakini jauh lebih besar, dengan hampir 750 kasus suspek dan 177 kematian yang diduga terkait Ebola.

Situasi di lapangan semakin kacau setelah warga mulai melawan protokol kesehatan yang diterapkan otoritas. Pada Kamis, massa membakar pusat perawatan Ebola di Kota Rwampara, wilayah timur Kongo, setelah mereka dilarang mengambil jenazah seorang pria yang diduga meninggal akibat Ebola.

Insiden itu memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara masyarakat dan petugas kesehatan di tengah wabah yang terus meluas. Sejumlah saksi menyebut kelompok pemuda setempat marah karena tidak diizinkan membawa pulang jenazah untuk dimakamkan sesuai tradisi lokal, sebagaimana diberitakan CBS News pada Jumat (22/5/2026).

Seorang saksi mengatakan polisi sempat mencoba meredakan situasi, namun gagal mengendalikan massa yang akhirnya membakar fasilitas perawatan tersebut.

Jurnalis Associated Press bahkan melihat warga menerobos masuk ke pusat perawatan dan membakar berbagai benda di dalamnya, termasuk jenazah yang diduga korban Ebola. Para pekerja kemanusiaan dilaporkan melarikan diri menggunakan kendaraan saat kerusuhan pecah.

Kondisi itu menjadi tantangan besar bagi tenaga kesehatan dan organisasi bantuan internasional yang berupaya menahan laju penyebaran virus mematikan tersebut. Penanganan Ebola sering berbenturan dengan tradisi pemakaman masyarakat setempat karena jenazah korban Ebola sangat menular dan dapat memicu penyebaran baru.

Baca Artikel Selengkapnya