Doa Rasulullah agar Betah di Tanah Rantau 

1 bulan yang lalu 25

Merantau tidak selalu terasa mudah pada awalnya. Ada rindu yang diam-diam menetap, tubuh yang lelah menyesuaikan diri, dan hati yang belum sepenuhnya berpisah dari kampung halaman. Tempat baru sering kali terasa asing, sementara kenangan tentang rumah terus datang silih berganti.

Hal itulah yang juga pernah dirasakan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat ketika hijrah ke Madinah. Mereka tidak hanya memulai perjalanan baru, tetapi juga menghadapi rasa asing yang sangat manusiawi.

Saat itu, Madinah belum seperti yang kita kenal sekarang. Dalam riwayat Sayyidah Aisyah, beberapa sahabat mengalami demam setelah hijrah, di antaranya Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Bilal bin Rabah. Di tengah suasana itulah Rasulullah SAW memanjatkan doa agar kota baru mereka dipenuhi ketenteraman dan keberkahan.

Adapun doa agar betah di tanah rantau berikut; 

اَللّٰهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِيْنَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، اَللّٰهُمَّ صَحِّحْهَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ صَاعِهَا وَمُدِّهَا، وَانْقُلْ حُمَّاهَا فَاجْعَلْهَا بِالْجُحْفَةِ

Allâhumma ḥabbib ilainal-madînata kaḥubbinâ makkata aw asyadd, allâhumma ṣaḥḥiḥhâ, wa bârik lanâ fî ṣâ‘ihâ wa muddihâ, wanqul ḥummâhâ faj‘alhâ bil-Juḥfah.

Artinya, “Ya Allah, tanamkanlah rasa cinta terhadap Madinah kepada kami, sebagaimana cinta kami kepada Makkah, atau lebih kuat lagi. Ya Allah, perbaikilah Madinah, berkahilah sha’ dan mudd-nya untuk kami, dan hilangkanlah penyebab sakit demam, lalu jadikanlah ia berada di Juhfah.” (Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Shahih Bukhari, [Beirut, Dar Thawq al-Najah, cet. 1, 1422 H], juz III, hlm. 23).

Doa ini juga dikutip oleh Dr. Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buthi ketika menuturkan masa awal Sayyidah Aisyah di Madinah. Ia menjelaskan bahwa Allah mengabulkan doa Rasul-Nya, sehingga Madinah yang sebelumnya dikenal berat iklimnya berubah menjadi negeri yang baik dan dicintai.

Kisah ini ia tempatkan dalam pembahasan hijrah dan permulaan kehidupan Aisyah bersama keluarga Nabi Muhammad SAW di Madinah (Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buthi, ‘Aisyah Umm al-Mu’minin: Ayyamuha wa Siratuha al-Kamilah fi Shafahat, [Damaskus, Maktabah al-Farabi, 1997 M/1418 H], hlm. 13–14).

Menariknya, Nabi tidak memulai doanya dengan meminta bangunan, kekuasaan, atau kemenangan yang tampak besar di mata manusia. Rasulullah memulainya dengan meminta cinta, “Ya Allah, tanamkanlah rasa cinta terhadap Madinah kepada kami.” Ini mengajarkan bahwa sebelum seseorang kuat tinggal di sebuah tempat, ia perlu lebih dahulu diberi hati yang lapang untuk menerimanya.

Praktiknya, ketika kita merantau, misalnya ke Jakarta, atau tinggal di tempat baru yang awalnya terasa asing, doa Nabi SAW di atas juga sangat relevan untuk diamalkan. Sebab tidak semua orang langsung nyaman dengan hiruk-pikuk ibu kota, kemacetan, tekanan pekerjaan, biaya hidup, dan rasa sepi yang kadang datang diam-diam. Lafalkan misalnya seperti ini:

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Jakarta sebagaimana kami mencintai kampung halaman kami, atau bahkan lebih dari itu. Ya Allah, sehatkanlah tempat tinggal kami di Jakarta, berkahilah rezeki dan kehidupan kami di dalamnya, serta jauhkanlah kami dari segala kesulitan, penyakit, dan keburukan yang ada di sana.”

Cinta kepada tempat tidak selalu datang seketika. Kadang ia tumbuh pelan-pelan dari sabar, dari sakit yang sembuh, dari tetangga yang mulai dikenal, dan dari jalan yang semula asing lalu menjadi akrab. Maka doa ini terasa dekat bagi siapa pun yang sedang merantau, pindah rumah, masuk pesantren, memulai pekerjaan baru, atau menjalani fase hidup yang belum sepenuhnya ia mengerti.

Dari doa ini, kita belajar bahwa siapa pun yang merantau atau menempati tempat baru akan merasa khawatir. Oleh sebab itu, kita perlu berupaya, salah satunya melalui doa agar diberikan keberkahan oleh Allah. Madinah menjadi bukti bahwa tempat yang semula asing bisa berubah menjadi tempat paling dirindukan, ketika Allah menanamkan cinta di hati para penghuninya. Wallahu a'lam.

---------------
Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta.

Baca Artikel Selengkapnya