CORE optimistis kredit tumbuh dua digit tapi kredit riil melambat

2 jam yang lalu 3
dua digit masih mungkin, BI target 8–12 persen. Tapi, mungkin lebih karena mengandalkan pencairan kredit yang sudah disetujui, bukan ekspansi baru

Jakarta (ANTARA) - Direktur Riset Bidang Keuangan dan Ekonomi Digital Center of Reform on Economics (CORE) Etika Karyani Suwondo mengatakan pertumbuhan kredit masih dapat mencapai dua digit tahun ini, meskipun ada potensi perlambatan permintaan di sektor riil.

Ia menyatakan pertumbuhan tersebut kemungkinan besar akan didorong oleh pencairan kredit dari pengajuan yang sudah disetujui sebelumnya.

“(Pertumbuhan) dua digit masih mungkin, BI (Bank Indonesia) target 8–12 persen. Tapi, mungkin lebih karena mengandalkan pencairan kredit yang sudah disetujui, bukan ekspansi baru,” ucap Etika Karyani Suwondo saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

BI mengungkapkan kredit perbankan tumbuh sebesar 9,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Maret 2026, lebih tinggi dibandingkan pada Februari 2026 sebesar 9,37 persen yoy.

Berdasarkan kelompok penggunaan, peningkatan tersebut didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja dan kredit konsumsi yang pada Maret 2026 masing-masing tumbuh sebesar 20,85 persen yoy, 4,38 persen yoy, dan 5,88 persen yoy.

Baca juga: Ekonom: Pemerataan jadi tantangan meski kredit tumbuh kuat pada Q1

Baca juga: Pemerintah catat pertumbuhan kredit 10,42 persen pada kuartal I 2026

Etika menilai pertumbuhan kredit perbankan tersebut utamanya tidak didorong oleh permintaan riil, tapi karena turunnya suku bunga acuan BI (BI-Rate) sebesar 150 basis poin (bps) sejak September 2024 yang diiringi dengan banjir likuiditas.

Ia menuturkan hal tersebut mencerminkan mekanisme transmisi (transmission mechanism) yang masih tersendat antara penyesuaian kebijakan bank sentral dan pengaruhnya terhadap sektor riil.

Ia pun khawatir kondisi tersebut akan semakin memperlambat permintaan kredit di sektor riil, apalagi jika perekonomian dunia semakin tidak menentu akibat berlanjutnya Perang AS-Israel dan Iran.

Etika mengatakan saat ini konflik di Timur Tengah tersebut memang belum banyak berdampak langsung terhadap penyaluran kredit perbankan di dalam negeri.

Namun, ia meminta semua pihak untuk mewaspadai dan melakukan mitigasi sedini mungkin terhadap berbagai indikator risiko yang mulai muncul.

Sejumlah indikator risiko tersebut, lanjut dia, antara lain nilai tukar rupiah yang melemah menyentuh Rp17.304 per dolar AS pada Kamis siang kemarin (23/4) serta arus modal keluar (capital outflow) yang mencapai 1,7 miliar dolar AS pada Januari-Maret 2026.

“OJK juga sudah warning NPL (Non-Performing Loan/kredit macet) potensial (terjadi) di sektor energi dan logistik. Kalau perang berkepanjangan, dampaknya akan masuk lewat kenaikan harga energi dan tekanan daya beli,” ujar Etika.

Baca juga: Perbanas sebut kolaborasi bank-P2P lending dorong pertumbuhan kredit

Baca juga: Ekonom sebut kredit bank masih berpotensi tumbuh sesuai target BI

Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya