China Melesat, AS Kebut Jet Tempur Siluman Generasi Berikutnya

34 menit yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Amerika Serikat mempercepat langkah menentukan masa depan kekuatan udara kapal induknya di tengah pesatnya modernisasi militer China. Pentagon disebut telah memilih perusahaan yang akan membangun jet tempur siluman generasi berikutnya untuk Angkatan Laut AS, F/A-XX, dan pemenangnya dapat diumumkan dalam beberapa pekan mendatang atau bahkan lebih cepat.

Boeing dan Northrop Grumman bersaing memperoleh kontrak strategis tersebut. Nilai keseluruhan proyek belum diumumkan karena banyak bagian program masih diklasifikasikan, tetapi program tempur sejenis sebelumnya menunjukkan kontrak itu dapat bernilai puluhan miliar dolar AS sepanjang masa pengembangan dan produksinya.

Keputusan tersebut menjadi semakin mendesak karena China dengan cepat menambah pesawat tempur siluman, memperluas armada kapal induk, dan mengembangkan pesawat yang oleh Beijing digambarkan sebagai generasi keenam. Bagi Washington, penundaan F/A-XX bukan lagi sekadar masalah pengadaan senjata, tetapi dapat menentukan apakah kapal induk Amerika masih mampu memproyeksikan kekuatan jauh ke kawasan Indo-Pasifik pada 2030-an.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa penundaan lebih jauh berisiko membuat Angkatan Laut tidak mempunyai jet tempur modern berbasis kapal induk yang mampu beroperasi efektif pada dekade 2030-an dan setelahnya. Kondisi itu berpotensi mengurangi kemampuan Washington beroperasi di wilayah yang dipenuhi sistem pertahanan udara, rudal antikapal, sensor jarak jauh dan pesawat tempur canggih lawan.

“Kami terus bekerja untuk memberikan kontrak F/A-XX dalam waktu dekat. Tidak ada informasi tambahan saat ini,” kata juru bicara Pentagon, sebagaimana diberitakan Reuters pada Selasa, 8 September 2026. Pernyataan itu memperkuat laporan bahwa proses pemilihan sudah memasuki tahap akhir.

China Ubah Kalkulasi

F/A-XX dirancang ketika lingkungan operasi kapal induk Amerika berubah secara mendasar. Kapal induk AS selama puluhan tahun dapat beroperasi relatif dekat dengan wilayah konflik, tetapi perkembangan rudal jarak jauh, sistem pertahanan udara, drone, dan sensor modern membuat pendekatan semacam itu semakin berisiko.

China berada di pusat perubahan kalkulasi tersebut. Beijing telah mengembangkan jet siluman J-20 dan J-35A, sementara varian J-35 juga dirancang untuk beroperasi dari kapal induk China.

Kemampuan sesungguhnya dari J-35 dan pesawat tempur China lainnya tetap sulit diverifikasi karena Beijing mengungkap relatif sedikit data teknis. Para analis yang diwawancarai Reuters sebelumnya mengingatkan program militer China kerap menjadi “kotak hitam”, sehingga kemampuan mesin, sensor, teknologi siluman dan avioniknya tidak sepenuhnya diketahui publik.

China pada saat yang sama telah memperlihatkan sejumlah desain pesawat baru tanpa ekor yang oleh Beijing dan media pemerintahnya dikaitkan dengan teknologi generasi berikutnya. Amerika tidak dapat berasumsi bahwa semua kemampuan yang diklaim China sudah matang, tetapi kemunculan pesawat tersebut cukup untuk meningkatkan tekanan terhadap Pentagon agar tidak membiarkan program F/A-XX kembali tertunda.

Persaingan itu semakin penting karena China tidak hanya membangun pesawat tempur. Beijing juga memperluas kekuatan lautnya dan saat ini mengoperasikan tiga kapal induk, Liaoning, Shandong dan Fujian, sementara pada April 2026 militer China memberi petunjuk mengenai kemungkinan kapal induk keempat yang dapat menjadi kapal induk bertenaga nuklir pertamanya.

Jika kemampuan pesawat berbasis kapal induk China terus meningkat, keunggulan historis Amerika dalam operasi udara laut dapat semakin tergerus. Karena itu, F/A-XX pada dasarnya merupakan bagian dari perlombaan yang lebih luas mengenai siapa yang mampu mengendalikan ruang udara dan laut di kawasan Indo-Pasifik.

Baca Artikel Selengkapnya