Sebagai orang tua, bunda atau ayah mungkin pernah menceritakan keburukan anak kepada orang lain, kepada saudara, teman dekat, atau tetangga. Entah itu karena disengaja, tanpa disadari, sebagai bahan candaan, atau sekadar dijadikan konten di media sosial.
Nah, kebiasaan seperti ini sebaiknya dihindari dan mulai dihentikan. Sebab, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak.
Misalnya, saat berbincang dengan saudara atau tetangga, Ayah atau Bunda mungkin pernah bercerita dengan kalimat seperti ini:
“Rijal, anakku yang bontot itu, kemarin berbohong kepadaku, Mbak. Bagaimana cara menanamkan kejujuran bagi anak-anak kita, iya, Mbak?”
Iya, benar. Mungkin tujuan Bunda ingin berkonsultasi dengan sesama orang tua supaya anak-anak tidak berbohong. Ingin berbagi pengalaman pola asuh yang baik. Tujuan utamanya baik: supaya anak-anak tidak biasa berbohong.
Namun, alangkah baiknya jika kalimatnya diganti dengan yang tidak menghakimi anak, misal:
“Anak-anak kita sekarang mulai besar, Mbak. Pengaruh buruk dari teman bermain atau teman sekolah tentu ada, termasuk kebiasaan berbohong. Bagaimana cara menanamkan sifat jujur kepada mereka, ya, supaya tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik?”
Esensi dua pertanyaan ini sama, ingin menggali informasi bagaimana pola asuh yang baik untuk menanamkan kejujuran. Namun, kalimat pertama dengan menyebutkan secara spesifik nama anak dan kalimat kedua tanpa ada nama, memiliki efek yang berbeda.
Coba bayangkan, saat Bunda bercerita dengan kalimat penghakiman, seperti kalimat pertama, lalu anak tersebut mendengarkannya. Mungkin, pada saat itu hanya mengeluarkan ekspresi wajah cemberut atau ekspresi tidak setuju sesuai umurnya.
Akan tetapi, menurut para psikolog, jika hal ini terus-menerus dilakukan, anak itu akan merasa malu, tidak dihargai, akan membuat jarak antara anak dan orang tua, dan pada akhirnya akan membentuk pola pikir negatif tentang dirinya. Efek terparahnya adalah anak tersebut akan mengalami kesulitan membangun rasa percaya diri saat dewasa.
Dalam Islam pun, menceritakan keburukan kepada orang lain hukumnya haram, termasuk menceritakan keburukan anak sendiri. Jangankan hal buruk, menceritakan hal tidak disukai saja dilarang.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dikatakan bahwa ketika ada dua orang duduk bersama. Mengobrol, bercerita tentang apa pun itu. Mereka berdua telah membawa sebuah amanah yang tidak halal baginya untuk disebarkan kepada orang lain.
Dalam hal ini, tentu antara Bunda dan anak-anak tidak hanya pernah duduk bersama, tapi setiap hari bersama. Artinya, setiap aktivitas sehari-hari yang baik maupun buruk merupakan amanah yang wajib dijaga, termasuk aktivitas bersama anak.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا يَتَجَالَسُ الْمُتَجَالِسَانِ بِالْأَمَانَةِ فَلَا يَحِلُّ لِأَحَدِهِمَا أَنْ يُفْشِيَ عَلَى صَاحِبِهِ مَا يَكْرَهُ
Artinya, “Dua orang dapat duduk berkumpul dengan membawa amanat, salah seorang di antara keduanya tidak halal untuk menyebarkan rahasia saudaranya yang ia tidak sukai (untuk diketahui publik).” (HR. Imam Al-Baihaqi).
Esensi hadits ini, sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Faidhul Qadir, adalah perintah untuk menjaga setiap rahasia yang kita ketahui, termasuk rahasia di antara Bunda dan anaknya. Di dalam kitab tersebut disebutkan:
قَالَ البَيْهَقِيُّ فِيهِ حِفْظُ المُسْلِمِ سِرَّ أَخِيهِ، وَتَأَكُّدُ الاِحْتِيَاطِ لِحِفْظِ الأَسْرَارِ لَا سِيَّمَا عَنِ الأَشْرَارِ وَالفُجَّارِ
Artinya, "Imam Al-Baihaqi berkata, ‘di dalam hadits ini terdapat (perintah) penjagaan seorang muslim pada rahasia saudaranya dan anjuran kuat untuk berhati-hati dalam menjaga rahasia-rahasia, terutama dari orang-orang jahat dan ahli maksiat’." (Syekh Zainuddin Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, 1356 H], jilid II, hlm. 569).
Jadi, menceritakan keburukan anak-anak kepada orang lain tidak hanya dilarang secara ilmu psikologi karena berefek pada pertumbuhan mereka, tapi secara agama pun memang dilarang.
Ketika ditelisik lebih jauh, lantas, mengapa Islam melarang seseorang menyebarkan rahasia atau keburukan orang lain?
Alasannya tidak jauh berbeda dengan penjelasan para psikolog di muka. Setidaknya, ada dua hal yang perlu diperhatikan: pertama, perbuatan tersebut dapat menyakiti perasaan orang yang diceritakan; kedua, perbuatan tersebut dapat merendahkan dan mengabaikan privasi orang lain yang semestinya dijaga. Dua alasan ini dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin (Beirut: Dar al-Ma'rifah, t.t., jilid III, hlm. 132).
Walhasil, efek membuat anak merasa malu, tidak dihargai, dan semua efek negatif yang telah dikemukakan di atas merupakan bahasa lain dari menyakiti perasaan hati anak. Dengan kata lain, uraian para psikolog tentang efek negatif dari menceritakan keburukan anak sudah sangat Islami.
Oleh karena itu, sebagai orang tua yang sama-sama ingin melihat anak-anak kita tumbuh dengan penuh percaya diri dan tidak meninggalkan luka batin saat dewasa, mari hilangkan kebiasaan menceritakan keburukan anak.
Hukumnya sudah jelas. Efeknya negatifnya terhadap anak tidak main-main, bahkan bisa sampai dewasa. Manfaatnya pun bisa dikatakan tidak ada. Jadi, jangan pernah melakukannya, bagi yang sudah telanjur, tidak ada alasan untuk menghilangkan kebiasaan itu. Wallâhu a'lam bis-shawâb.
--------------
Syifaul Qulub Amin, alumnus PP Nurul Cholil, Perumus LBM Nurul Cholil, dan Pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan.

4 hari yang lalu
6



English (US) ·
Indonesian (ID) ·