Pontianak (ANTARA) - Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Barat (Kalbar) mendorong perluasan penggunaan QRIS Antarnegara sebagai instrumen pembayaran digital untuk memperkuat konektivitas ekonomi Kalimantan Barat dengan negara tetangga.
"Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Kalimantan Barat memiliki potensi besar dalam adopsi QRIS Antarnegara," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Doni Septadijaya di Pontianak, Selasa.
Ia mengatakan posisi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia menjadi peluang strategis untuk memperluas transaksi digital lintas negara.
Menurut dia, penguatan transaksi digital lintas negara tidak hanya menyangkut sistem pembayaran, tetapi juga dapat mendukung aktivitas perdagangan, pariwisata, serta sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Barat.
BI Kalbar kemudian menggagas QRIS Betang atau (Bangun Ekosistem Transaksi Antar Negara) sebagai pendekatan terpadu untuk memperluas pemanfaatan QRIS Antarnegara di berbagai sektor.
Doni menjelaskan QRIS Betang mencakup tiga pendekatan, yakni QRIS Betang Perbatasan, QRIS Betang Perbankan, serta QRIS Betang Kegiatan dan Komunitas.
Melalui QRIS Betang Perbatasan, BI mendorong digitalisasi pembayaran di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN), termasuk pada pasar wisata, perhotelan, serta sektor makanan dan minuman. Program tersebut telah diperluas ke tiga PLBN pada 2026, yakni Entikong, Badau, dan Jagoi Babang.
"Melanjutkan kesuksesan program Layanan Batas Negara atau LENTERA yang diinisiasi di PLBN Aruk tahun lalu, kami memperluas program ke tiga PLBN di 2026," katanya.
Sementara itu, melalui QRIS Betang Perbankan, BI mendorong industri perbankan memperluas transaksi QRIS Antarnegara melalui program edukasi serta kompetisi transaksi inbound. Upaya tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan pemahaman merchant mengenai mekanisme QRIS Cross-Border.
Adapun QRIS Betang Kegiatan dan Komunitas dikembangkan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, pelaku pariwisata, pemerintah daerah, serta komunitas. Salah satunya melalui agenda Summer School lintas negara bersama Universitas Tanjungpura dan universitas dari Malaysia.
Doni mengatakan perkembangan ekosistem QRIS di Kalimantan Barat menunjukkan tren positif. Hingga Juni 2026, jumlah merchant QRIS mencapai 552.673 atau tumbuh 28,94 persen secara tahunan dengan 74,17 persen di antaranya merupakan usaha mikro.
Dari sisi transaksi, nilai transaksi QRIS di Kalbar hingga Juni 2026 mencapai Rp6,5 triliun atau tumbuh 112,04 persen secara tahunan. Sementara volume transaksi mencapai 62,9 juta transaksi atau tumbuh 131,97 persen, dengan jumlah pengguna mencapai 875,4 ribu orang.
Ia menilai pertumbuhan tersebut menjadi modal penting untuk memperluas penggunaan pembayaran digital, termasuk untuk mendukung mobilitas masyarakat dan wisatawan dari negara tetangga.
Selain QRIS Antarnegara, BI Kalbar juga terus memperluas digitalisasi pembayaran pada berbagai sektor. Implementasinya antara lain QRIS Tap pada transportasi darat DAMRI, QRIS pada transportasi air sampan Bardan-Siantan, serta perluasan pembayaran digital pada sektor ritel dan pariwisata.
"Kami berharap QRIS Betang dapat menjadi gerakan bersama, bukan hanya inisiatif Bank Indonesia, tetapi juga kolaborasi pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, komunitas, perguruan tinggi, dan masyarakat," kata Doni.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·