Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa aliran investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 hingga 14 Agustus 2026 mencatat net inflows sebesar 1,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Rabu, menyampaikan bahwa perkembangan ini ditopang penerbitan global bond pemerintah serta inflows pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Secara umum, BI memandang kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat untuk mendukung ketahanan eksternal.
Neraca perdagangan periode Januari hingga Juni 2026 secara kumulatif mencatat surplus 3,58 miliar dolar AS, dengan perkembangan Juni 2026 mencatat defisit 0,45 miliar dolar AS.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tetap terjaga sebesar 145,3 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
"Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan ketahanan eksternal tetap kuat ditopang sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menghadapi gejolak global," kata Destry.
BI mencatat bahwa nilai tukar rupiah menguat didukung respons kebijakan stabilisasi Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah pada 18 Agustus 2026 tercatat Rp17.855 per dolar AS, menguat 0,78 persen (point to point/ptp) dibandingkan dengan level akhir Juli 2026.
Destry mengatakan perkembangan ini didukung strategi Bank Indonesia dalam mengoptimalkan seluruh instrumen moneter dan memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).
Insentif bagi swap jual lindung nilai dinaikkan menjadi sebesar 12,5 persen dan insentif bagi DNDF jual lindung nilai diberikan sebesar 15 persen.
Selain itu, insentif juga diberikan untuk meningkatkan local currency transaction (LCT) dengan negara mitra berupa premi swap beli lindung nilai sebesar 10 persen dan pengurangan premi DNDF jual lindung nilai sebesar 10 persen.
"Bank Indonesia akan terus menempuh berbagai strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ke depan, nilai tukar rupiah diprakirakan tetap stabil didukung penguatan respons kebijakan stabilisasi Bank Indonesia," kata Destry.
Baca juga: BI: Modal asing masuk triwulan II 2026 capai 8,5 miliar dolar AS
Baca juga: BI: Kenaikan BI-Rate picu inflow SBN-SRBI Rp105 triliun pada Juni-Juli
Baca juga: Ekonom: Pasar nantikan arah komunikasi BI pada RDG Agustus 2026
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·