Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) melaporkan, Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia sepanjang 2025 mencatat peningkatan kewajiban neto menjadi 272,6 miliar dolar AS dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2024 yang sebesar 245,7 miliar dolar AS.
“Peningkatan kewajiban neto PII tersebut bersumber dari kenaikan posisi KFLN sebesar 61,9 miliar dolar AS (8,0 persen, yoy) yang lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan posisi AFLN sebesar 34,9 miliar dolar AS (6,7 persen, yoy),” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Lebih lanjut, kenaikan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) terutama dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi langsung yang disertai dengan kenaikan harga saham domestik.
Sementara itu, kenaikan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) dipengaruhi oleh peningkatan posisi pada seluruh komponen, baik dalam bentuk investasi langsung, investasi portofolio, investasi lainnya, maupun cadangan devisa.
Baca juga: BI: Penjualan eceran pada Februari 2026 diprakirakan meningkat
Secara triwulanan, PII Indonesia juga mencatat kewajiban neto yang meningkat dari 261,8 miliar dolar AS pada akhir triwulan III 2025 menjadi 272,6 miliar dolar AS pada akhir triwulan IV 2025.
Peningkatan kewajiban neto tersebut dipengaruhi oleh kenaikan posisi KFLN yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan posisi AFLN.
Posisi KFLN Indonesia pada akhir triwulan IV 2025 tercatat sebesar 831,1 miliar dolar AS, meningkat dari 807,3 miliar dolar AS pada akhir triwulan III 2025.
Peningkatan posisi KFLN tersebut terutama bersumber dari aliran masuk modal asing pada investasi portofolio, investasi langsung, dan investasi lainnya yang mencerminkan terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi Indonesia.
Baca juga: Analis: Ruang penguatan rupiah masih sempit seiring sensitivitas pasar
Selain itu, peningkatan posisi KFLN juga dipengaruhi oleh penguatan indeks harga saham domestik.
Sedangkan posisi AFLN pada akhir triwulan IV 2025 tercatat sebesar 558,5 miliar dolar AS, meningkat dari 545,5 miliar dolar AS pada akhir triwulan III 2025.
Sebagian besar komponen AFLN mencatatkan peningkatan posisi. Selain cadangan devisa, kenaikan AFLN juga didorong oleh investasi langsung dan investasi portofolio.
BI mencatat bahwa peningkatan posisi AFLN juga dipengaruhi oleh kenaikan harga emas dan indeks harga saham global.
Baca juga: BI umumkan penyesuaian kegiatan operasional selama libur Lebaran 2026
Secara umum, BI memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan IV 2025 dan keseluruhan tahun 2025 tetap terjaga, sehingga mendukung ketahanan eksternal.
Hal ini tercermin dari rasio PII Indonesia terhadap PDB pada tahun 2025 yang tetap terjaga sebesar 18,8 persen serta struktur kewajiban PII Indonesia yang didominasi oleh instrumen berjangka panjang (93,2 persen), terutama dalam bentuk investasi langsung.
Bank sentral menyampaikan bahwa ke depan, pihaknya senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat mempengaruhi prospek PII Indonesia.
BI juga terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal.
Baca juga: BI umumkan penyesuaian kegiatan operasional selama libur Lebaran 2026
Selain itu, bank sentral akan terus memantau potensi risiko terkait perkembangan kewajiban neto PII terhadap perekonomian Indonesia.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·