BI Kepri dorong kemandirian ponpes lewat jual beli komoditas dan jasa

1 bulan yang lalu 22
Misalnya ada yang produksi cabai merah, lalu pesantren lain butuh cabai, ya beli dari situ. Begitu juga komoditas lain seperti semangka, jasa laundry, hingga daging bebek

Batam (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (KPw BI Kepri) mendorong pemberdayaan pondok pesantren (ponpes) dengan membangun ekosistem jual beli komoditas dan jasa antarpesantren, guna mewujudkan kemandirian ekonomi.

Kepala KPw BI Kepri Rony Widijarto mengatakan pihaknya menargetkan pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga mandiri secara ekonomi.

“Selama ini kan ekonomi konvensional yang dominan. Kita ingin ekonomi syariah juga tumbuh. Salah satunya pesantren kita targetkan menjadi pesantren yang mandiri secara ekonomi dan bisa berkembang masing-masing,” ujarnya di Batam, Rabu.

Menurut Rony, konsep yang dibangun adalah membentuk ekosistem bisnis antarpesantren melalui Himpunan Bisnis Pesantren (Hebitren).

Dari total 59 pesantren yang terdata, kata dia, saat ini sekitar 14 pesantren mulai aktif dan berkembang dalam skema percontohan tersebut.

Rony menjelaskan skema yang diterapkan adalah ponpes saling terhubung dalam aktivitas jual beli komoditas dan jasa dengan harga yang lebih kompetitif dibanding pasar umum.

“Pesantren saling beli komoditas. Misalnya ada yang produksi cabai merah, lalu pesantren lain butuh cabai, ya beli dari situ. Begitu juga komoditas lain seperti semangka, jasa laundry, hingga daging bebek,” kata dia.

Pada pembukaan Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA) 2026, perwakilan dari pondok pesantren menandatangani kerjasama antar pesantren untuk skema tersebut.

Beberapa kerja sama yang akan berjalan antara lain Ponpes Al Gontory Batam dengan Al Himmah Karimun untuk komoditas cabai merah, Ponpes Imam Syafiie Batam dengan Al Kautsar Tanjungpinang untuk cabai merah dan cabai hijau, serta Al Gontory Batam dengan Wali Songo Batam untuk komoditas bebek pedaging.

Terdapat 10 kerjasama antar pesantren yang ditandatangani, dengan jumlah bantuan pendukung sebanyak Rp1,4 miliar.

Rony menyebutkan, seluruh pesantren dalam ekosistem ini didorong agar memiliki unit usaha yang saling menopang.

“Kita ingin pertama kemandirian pesantren masing-masing. Setelah itu naik tingkat ke kemandirian Hebitren. Kalau sudah kuat, baru menjual kepada masyarakat. Sehingga ekonomi syariahnya meningkat,” katanya.

Untuk mendukung program tersebut, BI Kepri menyiapkan dukungan sarana prasarana dan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pesantren.

“Kita bisa memberi bantuan sarpras, bantuan pelatihan atau studi banding keluar daerah. Kita bisa kirim ke pesantren yang sudah berpengalaman dan lebih canggih agar mereka bisa mendapatkan ilmu,” kata dia.

Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura mengapresiasi langkah BI Kepri dalam memajukan ekonomi syariah di provinsi itu.

“KURMA merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ekosistem syariah, dimana pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi tetapi juga inklusif,” katanya.

Baca juga: Wapres Gibran perkuat pesantren jadi pusat ekonomi berbasis teknologi

Baca juga: Pertamina bangun pertanian terintegrasi di pesantren melalui PFsains

Baca juga: Wamenkop dorong koperasi pesantren jadi pusat distribusi produk lokal

Pewarta: Amandine Nadja
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya