BI: Kenaikan bunga SRBI dorong modal asing masuk dan stabilkan rupiah

1 jam yang lalu 3

Jakarta (ANTARA) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan bahwa kenaikan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam dua bulan terakhir telah mendorong aliran masuk portofolio asing (foreign portfolio inflows) serta mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah.

Berdasarkan catatan BI, suku bunga SRBI meningkat menjadi 6,21 persen, 6,31 persen dan 6,45 persen masing-masing untuk tenor 6, 9 dan 12 bulan pada 13 Mei 2026.

“Itu (kenaikan bunga SRBI) berhasil mendorong portfolio inflow yang di triwulan I terjadi outflow yang besar dan kemudian kita kembalikan menjadi inflow dan mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu.

Di tengah gejolak global akibat perang Timur Tengah, BI mencatat bahwa aliran modal pada triwulan I 2026 mengalami net outflows sebesar 0,8 miliar dolar AS.

Berbagai respons kebijakan yang ditempuh pada akhirnya dapat mendorong kembali masuknya investasi portofolio asing pada triwulan II 2026 yang mencatatkan net inflows sebesar 5,5 miliar dolar AS (hingga 18 Mei 2026), terutama ditopang oleh aliran masuk modal asing ke SRBI dan SBN seiring meningkatnya imbal hasil pada kedua instrumen.

Adapun posisi instrumen moneter SRBI pada 18 Mei 2026 tercatat sebesar Rp921,88 triliun, dengan kepemilikan nonresiden yang meningkat menjadi Rp221,59 triliun (24,04 persen dari total outstanding) sehingga turut mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

BI juga terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan berbagai instrumen untuk menghadapi memburuknya gejolak global, di tengah tingginya permintaan musiman valas domestik.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI terus meningkatkan intensitas intervensi valuta asing, baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (offshore) maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.

Bank sentral juga memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold beli tunai valas terhadap rupiah tanpa underlying, peningkatan threshold jual DNDF/Forward, serta peningkatan threshold beli dan jual swap, yang berlaku sejak April 2026.

Selain itu, BI memperluas instrumen operasi moneter valas dengan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap Rupiah dan perluasan transaksi perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT).

Pada akhir April 2026, posisi cadangan devisa Indonesia tetap terjaga sebesar 146,2 miliar dolar AS. Jumlah ini setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, BI-Rate diputuskan naik sebesar 50 bps dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen.

Sebagai catatan, kenaikan BI-Rate ini menjadi langkah penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan dipertahankan di level 4,75 persen sejak September 2025.

Sepanjang 2025, BI sebelumnya telah memangkas bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan sebesar 125 bps.

Dengan berbagai kebijakan tersebut, BI meyakini nilai tukar rupiah cenderung menguat pada Juli dan Agustus mendatang, usai permintaan valas domestik melandai.

Baca juga: BI catat "inflow" asing capai 3,3 miliar dolar AS selama April

Baca juga: Analis: Kurs rupiah dapat membaik jika ada kepastian arah kebijakan

Baca juga: BI perkuat struktur bunga SRBI guna stabilisasi nilai tukar rupiah

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya