Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) mendorong masyarakat tidak sekadar menggunakan rupiah sebagai alat pembayaran, tetapi juga menghargai dan memperlakukannya dengan baik sebagai simbol kedaulatan negara.
Direktur BI Budi Sudaryono mengatakan penghormatan terhadap rupiah dapat dianalogikan dengan sikap masyarakat ketika menghormati bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
“Karena kita sadar bahwa itu adalah simbol kedaulatan kita, sama seperti kita menghormati bendera Merah Putih, kita menyanyikan Indonesia Raya dengan khidmat, maka rupiah layak juga mendapatkan penghormatan,” kata Budi dalam diskusi Rupiah untuk Indonesia Berdaulat di Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Jakarta, Jumat.
Ia menyampaikan bahwa rupiah memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan masyarakat. Proses tersebut dimulai dari bahan baku kapas, pembuatan kertas uang, pencetakan, hingga distribusi ke berbagai wilayah Indonesia melalui jaringan BI dan perbankan.
Menurut dia, panjangnya proses tersebut menjadi alasan masyarakat perlu memiliki rasa syukur dan menghargai rupiah. Terlebih, rupiah bukan sekadar lembaran kertas atau kepingan logam, melainkan simbol kedaulatan Indonesia.
Ia menekankan, rasa cinta terhadap rupiah tidak cukup hanya diwujudkan melalui penggunaan dalam transaksi. Masyarakat juga perlu memperlakukan rupiah dengan baik dan bijak.
Baca juga: Deputi Gubernur BI sebut rupiah jadi simbol jaga kedaulatan negara
Baca juga: BI Jatim dan TNI AL perkuat kedaulatan rupiah di kepulauan lewat ERB
Budi mengajak masyarakat untuk memiliki tiga sikap terhadap rupiah, yakni cinta, bangga, dan memahami cara memperlakukannya dengan bijak.
“Saya berharap kita semua punya cukup rasa syukur dan terima kasih untuk kemudian memperlakukannya dengan penuh hormat, dengan penuh cinta, banggalah dengan dia, dan pahamilah bagaimana memperlakukannya dengan bijak,” ujarnya.
Budi mengatakan penghormatan terhadap rupiah juga berkaitan dengan upaya menjaga kedaulatan moneter Indonesia. Menurutnya, Indonesia patut bersyukur karena tidak hanya merdeka, tetapi juga memiliki mata uang sendiri dan kewenangan untuk mengatur kebutuhan serta peredaran rupiah.
Kedaulatan tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk menentukan jumlah uang yang dibutuhkan, mengatur peredarannya hingga ke berbagai pelosok, serta menjaga kelancaran transaksi masyarakat.
Dengan sistem pembayaran yang stabil dan ketersediaan rupiah yang memadai, BI berharap stabilitas ekonomi dapat terus terjaga, termasuk mendukung pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
“Tanpa rupiah yang berdaulat, kita tidak bisa memiliki darah perekonomian yang pas,” ujar Budi.
Karena itu, ia menilai penghormatan masyarakat terhadap rupiah bukan sekadar persoalan simbolik, tetapi bagian dari upaya memaknai dan menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia.
Baca juga: BI perkuat kedaulatan rupiah di perbatasan Entikong
Baca juga: Mengukir kedaulatan rupiah hingga pelosok Negeri Seribu Rempah
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·