Benarkah minyak bumi akan habis dalam 40 tahun? Ini faktanya

8 jam yang lalu 3

Jakarta (ANTARA) - Minyak bumi masih menjadi salah satu sumber energi utama yang digunakan di berbagai negara. Bahan bakar kendaraan, penerbangan, industri hingga berbagai produk petrokimia masih bergantung pada komoditas yang terbentuk dari proses geologi selama jutaan tahun tersebut.

Karena penggunaannya terus berlangsung, pertanyaan mengenai kapan minyak bumi akan habis pun kerap muncul. Apakah dunia benar-benar akan kehabisan minyak dalam beberapa puluh tahun mendatang?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana menghitung jumlah cadangan minyak yang ada saat ini lalu membaginya dengan konsumsi tahunan.

Menurut data Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dalam Annual Statistical Bulletin 2026, permintaan minyak dunia mencapai rata-rata 105,15 juta barel per hari pada 2025. Sementara itu, produksi minyak mentah dunia mencapai rata-rata 74,85 juta barel per hari. OPEC juga mencatat cadangan minyak mentah terbukti dunia hingga akhir 2024 mencapai sekitar 1,567 triliun barel.

Jika cadangan terbukti sebesar 1,567 triliun barel dibandingkan secara sederhana dengan konsumsi sekitar 105,15 juta barel per hari, hasilnya memang berada di kisaran 40 tahun.

Namun, angka tersebut bukan berarti minyak bumi akan benar-benar habis sekitar 40 tahun lagi.

Baca juga: OPEC+8 sepakat naikkan produksi 206 ribu barel per hari pada Mei

Cadangan terbukti (proved reserves) merupakan minyak yang secara geologi dan teknis diperkirakan dapat dipulihkan dengan tingkat kepastian tertentu berdasarkan kondisi ekonomi dan teknologi yang berlaku. Jumlahnya dapat berubah seiring ditemukannya cadangan baru, perkembangan teknologi, perubahan harga minyak dan perubahan kondisi produksi.

Karena itu, angka cadangan tidak bisa dianggap seperti isi sebuah tangki yang jumlahnya terus berkurang tanpa ada perubahan.

U.S. Energy Information Administration (EIA) menjelaskan bahwa rasio cadangan terhadap produksi sering digunakan untuk memperkirakan berapa lama cadangan minyak dapat bertahan. Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa ukuran ini dapat menyesatkan jika digunakan sebagai prediksi jangka panjang.

Pasalnya, cadangan terbukti hanya mencakup sumber daya yang diketahui dan dapat diproduksi secara ekonomis berdasarkan kondisi tertentu. Seiring berkembangnya teknologi dan ditemukannya proyek baru, jumlah cadangan yang dapat diproduksi juga dapat berubah.

Artinya, dunia tidak harus menunggu sampai satu hari ketika seluruh minyak di dalam bumi benar-benar kosong untuk kemudian berhenti menggunakannya.

Justru, perubahan teknologi, harga, kebijakan energi dan munculnya sumber energi alternatif dapat membuat permintaan minyak menurun sebelum cadangan bumi benar-benar habis.

Baca juga: Iran targetkan kapasitas kilang minyak bumi pulih hingga 80 persen

Kapan penggunaan minyak diperkirakan mencapai puncak?

Di sinilah prediksi para ahli energi menjadi menarik.

Dalam World Energy Outlook 2025, International Energy Agency (IEA) memproyeksikan bahwa dalam skenario Stated Policies Scenario atau STEPS, permintaan minyak dunia akan mencapai sekitar 102 juta barel per hari pada sekitar 2030 sebelum kemudian berangsur menurun. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah meningkatnya penggunaan kendaraan listrik.

IEA juga mencatat dalam laporan Oil 2025 bahwa berdasarkan kebijakan dan tren pasar yang ada saat laporan tersebut dibuat, permintaan minyak global diperkirakan meningkat hingga sekitar 105,5 juta barel per hari pada akhir dekade sebelum memasuki fase datar dan mulai mengalami penurunan kecil pada 2030.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu prediksi tunggal mengenai masa depan minyak bumi. Hasilnya sangat bergantung pada asumsi mengenai kebijakan pemerintah, pertumbuhan ekonomi, perkembangan kendaraan listrik, teknologi energi bersih serta kondisi pasar.

Baca juga: Perang Timur Tengah picu AS lepas 172 juta barel cadangan minyak bumi

Ketika membicarakan berkurangnya penggunaan minyak, kendaraan bermotor sering menjadi perhatian utama. Namun, minyak bumi juga digunakan untuk berbagai kebutuhan lain.

IEA mencatat permintaan minyak untuk sektor petrokimia dan penerbangan masih diperkirakan meningkat dalam jangka panjang. Artinya, meskipun kendaraan listrik mengurangi penggunaan bensin dan solar, kebutuhan minyak tidak otomatis menghilang begitu saja.

Minyak juga menjadi bahan baku berbagai produk petrokimia yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, transisi energi tidak hanya berkaitan dengan mengganti kendaraan berbahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik, tetapi juga mencari alternatif untuk berbagai penggunaan minyak lainnya.

Jadi, kapan minyak bumi akan habis?

Belum ada tahun yang dapat disebut sebagai tanggal pasti habisnya minyak bumi dunia.

Jika hanya menggunakan perhitungan sederhana antara cadangan terbukti dan konsumsi saat ini, cadangan minyak dunia terlihat masih dapat bertahan selama beberapa puluh tahun. Namun, EIA menegaskan bahwa pendekatan tersebut bukan ukuran yang tepat untuk memprediksi kapan seluruh sumber daya minyak akan habis.

Perkembangan teknologi, penemuan cadangan baru, tingkat produksi, harga, kebijakan energi dan perubahan permintaan dapat mengubah perhitungannya dari waktu ke waktu.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan sekadar "kapan minyak bumi habis?", melainkan seberapa cepat dunia mengurangi ketergantungannya terhadap minyak dan bagaimana kebutuhan energi akan dipenuhi ketika permintaannya mulai menurun.

Dengan tren transisi energi saat ini, dunia berpotensi mengalami perubahan besar dalam penggunaan minyak jauh sebelum seluruh cadangan minyak di dalam bumi benar-benar habis.

Baca juga: MPR: RUU Migas penting untuk perkuat ketahanan energi

Baca juga: Ratifikasi kesepakatan berbagi minyak ASEAN selesai sebelum KTT ke-49

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya