7 energi alternatif pengganti minyak bumi, apa saja?

2 jam yang lalu 3

Jakarta (ANTARA) - Minyak bumi selama ini menjadi salah satu sumber energi utama dunia. Bahan bakar kendaraan, pesawat, kapal hingga berbagai kegiatan industri masih banyak bergantung pada hasil pengolahan minyak bumi.

Namun, minyak bumi merupakan sumber energi fosil yang jumlahnya terbatas. Penggunaannya juga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Karena itu, pengembangan energi alternatif menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Energi alternatif tidak berarti satu sumber energi bisa langsung menggantikan seluruh fungsi minyak bumi. Ada sumber yang lebih cocok untuk menghasilkan listrik, sementara lainnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan atau bahan baku industri.

Berikut tujuh energi alternatif yang banyak dikembangkan.

1. Energi surya

Energi surya memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan listrik menggunakan panel fotovoltaik. Sumber energi ini menjadi salah satu teknologi yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

International Renewable Energy Agency (IRENA) mencatat tenaga surya menjadi penyumbang terbesar penambahan kapasitas energi terbarukan dunia pada 2024. Dari total 582 gigawatt (GW) kapasitas energi terbarukan baru yang terpasang pada tahun tersebut, sekitar 452,1 GW berasal dari tenaga surya.

Tenaga surya juga tidak membutuhkan pembakaran bahan bakar saat menghasilkan listrik sehingga tidak menghasilkan emisi langsung dari proses pembangkitan.

Namun, produksi listrik dari panel surya bergantung pada ketersediaan sinar matahari. Karena itu, baterai dan sistem jaringan listrik yang baik dibutuhkan agar listrik tetap tersedia ketika matahari tidak bersinar.

Baca juga: MedcoEnergi bukukan laba bersih 101 juta dolar AS pada 2025

2. Energi angin

Energi angin menggunakan turbin untuk mengubah gerakan angin menjadi listrik. Turbin dapat ditempatkan di daratan maupun wilayah lepas pantai.

IRENA mencatat tenaga angin menjadi sumber terbesar kedua dalam penambahan kapasitas energi terbarukan global pada 2024 dengan tambahan sekitar 114,3 GW.

Sama seperti tenaga surya, pembangkit listrik tenaga angin tidak membutuhkan pembakaran minyak atau batu bara ketika menghasilkan listrik.

Kelemahannya, produksi listrik bergantung pada kondisi angin sehingga membutuhkan pengelolaan jaringan dan penyimpanan energi yang sesuai.

3. Energi air

Pembangkit listrik tenaga air memanfaatkan aliran atau jatuhan air untuk menggerakkan turbin. Teknologi ini sudah digunakan di berbagai negara dan termasuk salah satu sumber energi terbarukan yang telah matang.

Menurut IRENA, kapasitas pembangkit listrik tenaga air dunia mencapai sekitar 1.277 GW pada akhir 2024, belum termasuk kapasitas pumped storage.

Keunggulan lainnya adalah pembangkit tenaga air dapat memberikan fleksibilitas pada sistem kelistrikan. Namun, pembangunan bendungan dan proyek pembangkit skala besar dapat memberikan dampak terhadap lingkungan serta membutuhkan lokasi dengan kondisi geografis yang sesuai.

Baca juga: Iran targetkan kapasitas kilang minyak bumi pulih hingga 80 persen

4. Energi panas bumi

Indonesia termasuk negara yang memiliki potensi panas bumi besar. Energi ini memanfaatkan panas dari dalam bumi untuk menghasilkan listrik maupun panas yang dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu.

Panas bumi memiliki keunggulan karena pembangkitnya dapat beroperasi secara relatif stabil dan tidak bergantung pada sinar matahari atau angin.

IRENA mencatat kapasitas panas bumi terpasang dunia mencapai sekitar 15,4 GW pada akhir 2024. Indonesia termasuk lima negara dengan kapasitas panas bumi terpasang terbesar di dunia.

Meski demikian, pengembangan proyek panas bumi membutuhkan eksplorasi dan investasi awal yang besar. Lokasi pembangkit juga bergantung pada keberadaan sumber panas bumi yang sesuai.

5. Bioenergi dan biofuel

Bioenergi berasal dari bahan organik seperti tanaman, limbah pertanian, limbah kayu atau bahan organik lainnya. Sumber ini dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, panas maupun bahan bakar.

Dalam sektor transportasi, biofuel dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Contohnya adalah biodiesel yang dapat dibuat dari minyak nabati dan digunakan sebagai campuran bahan bakar diesel.

Namun, bioenergi juga perlu dikelola dengan hati-hati. Pengembangan bahan baku energi tidak boleh menyebabkan deforestasi, mengganggu ketahanan pangan atau menimbulkan masalah lingkungan baru.

Baca juga: Ratifikasi kesepakatan berbagi minyak ASEAN selesai sebelum KTT ke-49

6. Hidrogen

Hidrogen menjadi salah satu energi alternatif yang banyak dibicarakan karena dapat digunakan sebagai bahan bakar maupun sebagai media penyimpanan energi.

Hidrogen dapat digunakan dalam fuel cell untuk menghasilkan listrik. Dalam proses tersebut, produk utamanya adalah air ketika hidrogen bereaksi dengan oksigen.

Meski begitu, hidrogen bukan sumber energi primer seperti matahari atau angin. Hidrogen perlu diproduksi terlebih dahulu menggunakan sumber energi tertentu. Karena itu, dampak lingkungan hidrogen sangat bergantung pada bagaimana hidrogen tersebut diproduksi.

Hidrogen yang dibuat menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan sering disebut hidrogen hijau.

7. Energi nuklir

Energi nuklir berbeda dari sumber energi terbarukan, tetapi sering masuk dalam pembahasan mengenai alternatif terhadap bahan bakar fosil.

Pembangkit listrik tenaga nuklir menghasilkan energi melalui reaksi fisi dan dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar secara stabil. Selama proses pembangkitan listrik, pembangkit nuklir tidak membakar minyak atau batu bara.

Namun, teknologi ini memiliki tantangan tersendiri, termasuk pengelolaan limbah radioaktif, keselamatan pembangkit dan kebutuhan investasi yang besar. Karena itu, nuklir memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda dibandingkan energi terbarukan.

Baca juga: Apa yang terjadi jika minyak bumi habis? Ini 6 dampaknya

Tidak semua energi alternatif langsung menggantikan minyak

Hal penting yang perlu dipahami adalah minyak bumi tidak hanya digunakan untuk menghasilkan energi.

Sebagian minyak digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia untuk menghasilkan plastik, bahan kimia dan berbagai produk lainnya. Karena itu, mengurangi ketergantungan terhadap minyak membutuhkan lebih dari sekadar mengganti bensin dengan kendaraan listrik.

Di sektor listrik, energi surya, angin, air dan panas bumi dapat menjadi alternatif penting. Sementara untuk transportasi, kendaraan listrik, biofuel dan hidrogen dapat digunakan pada sektor yang berbeda sesuai kebutuhan dan perkembangan teknologinya.

Perkembangan teknologi juga membuat energi terbarukan semakin kompetitif. IRENA mencatat 91 persen kapasitas pembangkit energi terbarukan skala utilitas yang baru beroperasi pada 2024 menghasilkan listrik dengan biaya lebih rendah dibandingkan alternatif pembangkit fosil baru yang paling murah.

Dengan begitu, transisi energi bukan berarti mencari satu sumber energi yang bisa menggantikan minyak bumi secara keseluruhan. Yang dilakukan adalah membangun kombinasi berbagai sumber energi sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing sektor.

Semakin beragam sumber energi yang tersedia, semakin besar pula peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi sekaligus membangun sistem energi yang lebih rendah emisi.

Baca juga: Benarkah minyak bumi akan habis dalam 40 tahun? Ini faktanya

Baca juga: OPEC+ tak kurangi produksi minyak karena permintaan global pulih

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya