BEI: Kami punya ekspektasi tinggi, RI tetap "emerging market" di MSCI

1 jam yang lalu 1
saya sampaikan, dari hal-hal konkret yang sudah kita lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi Indonesia akan tetap di 'emerging market'

Jakarta (ANTARA) - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan optimisme bahwa Indonesia tetap masuk dalam kategori emerging market pada indeks MSCI, seiring berbagai reformasi pasar modal yang telah dilakukan.

Untuk diketahui, MSCI pada Juni ini akan mengumumkan hasil Annual Market Classification Review yang menentukan status klasifikasi pasar suatu negara dalam indeks MSCI, termasuk Indonesia.

“Sekali lagi saya sampaikan, dari hal-hal konkret yang sudah kita lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi Indonesia akan tetap di emerging market,” kata Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik di BEI Jakarta, Kamis.

Pada kesempatan tersebut, Jeffrey juga mengklarifikasi informasi yang beredar di pasar yang menyebut MSCI menempatkan Indonesia ke dalam kategori frontier market.

Ia menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar, sekaligus mengimbau investor agar selalu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat.

“Tentu kami sekali lagi mengimbau agar investor check dan cross check atas informasi yang beredar di pasar sebelum mengambil keputusannya,” kata Jeffrey.

Menanggapi isu kepercayaan pasar di tengah koreksi IHSG yang sempat mencapai 3-4 persen, ia menegaskan bahwa reformasi pasar modal yang dilakukan bertujuan untuk memulihkan kepercayaan investor, baik domestik maupun global.

Baca juga: IHSG Kamis sore ditutup melemah 1,70 persen di level 5.839,78

Baca juga: IHSG sempat koreksi 3-4 persen, BEI tegaskan fundamental tetap solid

“Dengan kita meningkatkan transparansi, kita meningkatkan granularitas data, kita memberikan informasi terkait high shareholding concentration, itu seluruhnya adalah upaya kita untuk meningkatkan kembali kepercayaan investor kepada pasar kita,” kata Jeffrey.

Ia juga menegaskan bahwa fundamental pasar modal Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang baik.

Berdasarkan laporan keuangan seluruh emiten per akhir 2025, Jeffrey menyebut bahwa perusahaan tercatat membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21 persen.

Sementara itu, pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, khususnya pada saham-saham LQ45, laba bersih tumbuh hampir 30 persen atau 29,9 persen.

Dari sisi distribusi laba, pada kuartal I 2026 sebanyak 80 persen perusahaan tercatat membukukan laba bersih, tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Sebagai perbandingan, Jeffrey menyebutkan bahwa pada 2020 hanya 63 persen perusahaan yang membukukan laba, sedangkan pada periode 2021-2025 berada di kisaran 73-76 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa fundamental perusahaan tercatat saat ini berada dalam kondisi yang baik dan dapat menjadi landasan bagi investor dalam mengambil keputusan,” kata dia.

Sebagai informasi, lembaga penyedia indeks global MSCI pada 13 Mei 2026 telah mengumumkan hasil rebalancing indeks untuk saham-saham Indonesia.

Dalam hasil MSCI May 2026 Index Review, MSCI mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Sementara pada MSCI Small Cap Index, MSCI memasukkan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke dalam MSCI Global Small Cap Index.

Di sisi lain, MSCI juga menghapus sejumlah saham dari MSCI Global Small Cap Index, yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).

juga PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Baca juga: IHSG anjlok lebih dari 4 persen, analis soroti sentimen domestik

Baca juga: IHSG Kamis pagi dibuka melemah 0,36 persen ke level 5.919,56

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya