Jakarta (ANTARA) - PT Bank BCA Syariah (BCA Syariah) memperkuat penghimpunan sumber dana murah (current account savings account/CASA) dan meningkatkan kreativitas menjaring nasabah, seiring kenaikan BI-Rate sebesar 75 basis poin (bps) secara kumulatif menjadi 5,5 persen.
Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum mengakui bahwa kenaikan BI-Rate akan memberikan tekanan terhadap biaya dana (cost of fund).
“Pasti ada, dong. Pasti ada (dampak kenaikan BI-Rate ke biaya dana),” kata Yuli saat menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Senin.
Yuli mengatakan bahwa pada dasarnya, perseroan akan mengikuti kebijakan yang ditetapkan otoritas, termasuk terkait kenaikan suku bunga acuan (BI-Rate).
“Memang kita harus mengikuti. Apapun kan memang untuk kebaikan negara ini ya, tentu kondisinya kita harus ikut di dalamnya kan,” ujar Yuli.
Ketika ditanya mengenai efek meredanya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS), Yuli memandang industri perbankan masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait kondisi ekonomi domestik dan daya beli masyarakat menengah ke bawah.
Meski demikian, pihaknya tetap optimistis terhadap prospek bisnis ke depan mengingat Indonesia masih dipandang sebagai pasar yang potensial oleh pelaku usaha maupun investor.
Karena itu, Yuli menilai peluang pertumbuhan masih terbuka meski pelaku industri tetap terus mencermati dinamika perekonomian dan perubahan kondisi pasar.
“Jadi prospek masih ada, cuma kitanya yang mesti lebih tanggap dan lebih mencermati dinamikanya,” kata Yuli.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, total dana pihak ketiga (DPK) BCA Syariah mencapai Rp15,17 triliun per Mei 2026 atau tumbuh 15,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara penyaluran pembiayaan tumbuh sebesar 20,4 persen (yoy) mencapai Rp13,12 triliun per Mei 2026.
Secara industri, berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2026, DPK industri perbankan tumbuh sebesar 11,39 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp10.077 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 16,99 persen (yoy), 8,65 persen (yoy), dan 9,00 persen (yoy).
Di sisi lain, pada periode yang sama, penyaluran kredit industri perbankan tumbuh sebesar 9,98 persen (yoy) menjadi sebesar Rp8.755 triliun
Adapun Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada Selasa (9/6) menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen.
Sebelumnya dalam RDG Bulanan pada 19-20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps. Dengan demikian, kenaikan BI-Rate secara kumulatif sebesar 75 bps.
Kenaikan BI-Rate pada Mei 2026 menjadi langkah penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan dipertahankan di level 4,75 persen sejak September 2025. Sepanjang 2025, BI memangkas bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan sebesar 125 bps.
Selanjutnya, BI dijadwalkan kembali melaksanakan RDG Bulanan pada 17-18 Juni 2026.
Baca juga: BI: Modal asing ke SRBI dan SBN capai Rp19,02 T pascakenaikan BI-Rate
Baca juga: Bank Mandiri: Penyesuaian suku bunga akan mengacu kondisi pasar
Baca juga: BCA nilai kenaikan BI-Rate sebagai langkah strategis jaga rupiah
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·