REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belum genap sepekan berdiri di podium ruang konferensi pers Gedung Putih, Katie Zacharia harus mengakhiri tugasnya sebagai juru bicara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Perempuan berusia 41 tahun itu tersingkir pada Jumat (16/10/2026), hanya lima hari setelah mulai bekerja, menyusul penampilan perdananya yang menuai kritik dan kontroversi mengenai kredensial profesi hukumnya.
Namun, Zacharia tidak memilih menyerang Trump setelah kehilangan jabatan tersebut. Sebaliknya, ia justru melontarkan pujian kepada presiden yang baru beberapa hari sebelumnya mempercayakan salah satu posisi komunikasi paling penting dalam pemerintahan AS kepadanya.
"Presiden Trump adalah sosok yang baik hati, luar biasa, murah hati, penuh perhatian, antusias, dan pekerja keras," tulis Zacharia melalui akun media sosial X pada Jumat (16/10/2026). Ia juga menyebut bekerja untuk Trump sebagai sebuah kehormatan yang tidak akan dilupakannya.
"Saya berharap lebih banyak warga Amerika menghargai beliau. Tidak akan pernah ada orang yang mampu menjadikan Amerika hebat seperti yang telah dan terus beliau lakukan," lanjutnya.
Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah sejumlah media Amerika melaporkan berakhirnya masa tugas Zacharia. Associated Press (AP) menyebut kepergiannya terjadi setelah serangkaian pertanyaan mengenai latar belakang profesional dan kemampuannya menghadapi wartawan.
Sementara itu, Axios, mengutip dua pejabat senior pemerintahan Trump, melaporkan bahwa Zacharia telah dicopot dari posisinya. Keputusan tersebut menutup masa jabatan yang baru dimulai pada Senin (12/10/2026), setelah Trump mengumumkan penunjukannya pada 9 Oktober.
Konferensi Pers yang Menjadi Titik Balik
Masalah mulai terlihat ketika Zacharia tampil untuk pertama kalinya sebagai Sekretaris Pers Gedung Putih pada Selasa (13/10/2026). Di hadapan para wartawan yang memenuhi James S. Brady Press Briefing Room, ia hanya menggelar konferensi pers selama sekitar 14 menit.
Dari keseluruhan waktu tersebut, sesi tanya jawab berlangsung sekitar lima setengah menit. Zacharia hanya menerima tiga pertanyaan dari wartawan media yang cenderung konservatif atau bersahabat dengan pemerintahan Trump, yakni Breitbart, Fox News, dan Daily Mail.
Menurut laporan AP, Zacharia terlihat kurang nyaman ketika menyampaikan pernyataan dan menghadapi pertanyaan wartawan. Penampilannya menjadi sorotan karena seorang sekretaris pers diharapkan mampu menjelaskan kebijakan presiden sekaligus menghadapi pertanyaan kritis dari berbagai media.
Zacharia kemudian menjelaskan bahwa dirinya sengaja membatasi durasi konferensi pers agar Trump memiliki waktu lebih banyak untuk menjawab pertanyaan wartawan pada hari yang sama. Ia juga mengatakan belum mendapatkan pengarahan menyeluruh dari staf Gedung Putih sebelum tampil.
Gedung Putih semula memberikan penilaian positif terhadap penampilan perdananya. Dalam pernyataan resmi pada 13 Oktober, pemerintah menyebut Zacharia telah memperkenalkan diri dengan kuat sebagai Sekretaris Pers Gedung Putih ke-37 dan menegaskan komitmen pemerintahan Trump untuk memperluas akses media.
Namun, penilaian resmi itu tidak menghentikan kritik terhadap penampilannya. Axios kemudian melaporkan, berdasarkan keterangan seorang pejabat Gedung Putih, bahwa Trump tidak terkesan dengan konferensi pers tersebut.
Kontroversi semakin meluas ketika wartawan mulai mempertanyakan klaim Zacharia mengenai latar belakangnya sebagai pengacara. Persoalan ini menjadi lebih sensitif karena Trump sebelumnya memperkenalkannya sebagai seorang attorney ketika mengumumkan penunjukannya.
Kredensial Hukum Dipertanyakan
Zacharia merupakan lulusan sekolah hukum Pepperdine University di California. Namun, latar belakang pendidikan tersebut tidak otomatis memberikan kewenangan untuk menjalankan praktik hukum di Amerika Serikat, yang mensyaratkan pemenuhan ketentuan perizinan profesi.
ABC News, mengutip dua orang yang mengetahui langsung persoalan tersebut, melaporkan bahwa Zacharia tidak lulus ujian profesi pengacara atau bar exam di Amerika Serikat. Informasi itu kemudian menjadi salah satu pokok pertanyaan mengenai penggunaan sebutan pengacara dalam penampilan publiknya selama ini.
Zacharia akhirnya mengakui bahwa ia pernah mengikuti ujian profesi pengacara di California tetapi tidak berhasil lulus. Ia mengatakan tidak mengulang ujian tersebut karena kemudian pindah ke China.
Dalam wawancara dengan Fox News, Zacharia berusaha menjelaskan perbedaan penggunaan istilah lawyer dan attorney. Ia menyatakan tidak memberikan nasihat hukum maupun menjalankan praktik sebagai pengacara dalam kapasitas yang dipersoalkan wartawan.
Namun, penjelasan tersebut justru mendapat pertanyaan tajam dari pembawa acara Fox News, Sean Hannity, yang selama ini dikenal memiliki hubungan baik dengan Trump. Hannity mempertanyakan mengapa Zacharia tidak sejak awal menjelaskan secara sederhana bahwa ia merupakan lulusan sekolah hukum yang tidak lulus ujian profesi dan kemudian menempuh jalur karier berbeda.
Menurut laporan AP, kritik tersebut menunjukkan bahwa keraguan terhadap Zacharia tidak hanya datang dari media yang kerap berseberangan dengan Trump. Sejumlah figur media konservatif yang biasanya mendukung presiden juga mempertanyakan keterbukaan informasi mengenai latar belakang profesionalnya.
Meski demikian, Zacharia dan Trump sama-sama menegaskan bahwa ia direkrut untuk menangani komunikasi pemerintahan, bukan memberikan nasihat hukum. Persoalan yang muncul dengan demikian berkaitan dengan akurasi representasi kredensial profesionalnya, bukan dengan persyaratan formal bahwa sekretaris pers harus berprofesi sebagai pengacara.

1 minggu yang lalu
9





English (US) ·
Indonesian (ID) ·