Bank Mega Syariah: Penguatan dolar AS tidak kurangi peluang pembiayaan

4 jam yang lalu 1
Bank Mega Syariah melihat penguatan dolar AS sebagai salah satu dinamika global yang perlu dicermati.

Jakarta (ANTARA) - PT Bank Mega Syariah memandang, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) tidak mengurangi peluang pembiayaan pada sektor-sektor produktif yang memiliki fundamental usaha yang kuat dan prospek pertumbuhan yang positif.

Dalam hal ini, perseroan juga tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan pembiayaan komersial sepanjang tahun 2026, di tengah penguatan mata uang AS.

“Bank Mega Syariah melihat penguatan dolar AS sebagai salah satu dinamika global yang perlu dicermati. Namun kondisi tersebut tidak mengurangi peluang pertumbuhan pembiayaan korporasi. Kebutuhan pembiayaan pada sektor-sektor produktif masih tetap terbuka seiring aktivitas ekonomi yang terus berjalan,” kata Corporate & Business Banking Division Head Bank Mega Syariah Guritno dalam keterangannya, di Jakarta, Kamis.

Penguatan dolar AS, catat perseroan, menjadi salah satu faktor eksternal yang perlu dicermati, karena berpotensi mempengaruhi biaya usaha, arus kas, serta kebutuhan modal kerja pelaku usaha.

Namun demikian, aktivitas ekonomi domestik yang tetap berjalan dan kebutuhan pembiayaan di berbagai sektor strategis dinilai masih membuka ruang pertumbuhan yang menjanjikan.

Oleh sebab itu, Guritno mengatakan bahwa Bank Mega Syariah tetap fokus mendorong pembiayaan pada sektor-sektor yang memiliki ketahanan tinggi terhadap dinamika ekonomi global.

Pada sisi lain, penguatan dolar AS dinilai dapat menjadi momentum positif bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor. Nilai tukar yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia sekaligus mendorong peningkatan pendapatan perusahaan yang memiliki basis pendapatan dalam valuta asing.

Melihat peluang tersebut, perseroan menyatakan bahwa pihaknya secara aktif menjalin komunikasi dengan nasabah dan calon nasabah yang memiliki basis usaha berorientasi ekspor guna memahami kebutuhan pembiayaan serta rencana ekspansi bisnis mereka.

Selain itu, perseroan juga terus membuka peluang pembiayaan pada sektor-sektor yang memiliki prospek ekspor yang baik dan sejalan dengan strategi bisnis perusahaan.

Meski demikian, Bank Mega Syariah tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap penyaluran pembiayaan. Seluruh proses pembiayaan dilakukan melalui asesmen yang komprehensif terhadap profil risiko, kemampuan pembayaran, serta ketahanan usaha nasabah terhadap perubahan kondisi pasar global.

Per Mei 2026, total pembiayaan Bank Mega Syariah tumbuh sebesar 7,20 persen menjadi lebih dari Rp9,9 triliun, dibandingkan posisi Mei 2025 yang sebesar Rp9,3 triliun.

Outstanding pembiayaan komersial Bank Mega Syariah mencapai lebih dari Rp5,7 triliun. Secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd), angka tersebut tumbuh sebesar 13,22 persen dibandingkan posisi Desember 2025 yang tercatat sebesar Rp5,17 triliun.

Kinerja pembiayaan komersial ini ditopang oleh dua sub-segmen utama, yaitu pembiayaan korporasi dengan porsi sebesar 43,76 persen dari total pembiayaan bank atau lebih dari Rp4,4 triliun, serta Business Banking dengan kontribusi sebesar 13,86 persen atau senilai lebih dari Rp1,4 triliun pada Mei 2026.

Guritno mengatakan bahwa sektor pendidikan dan kesehatan masih menjadi kontributor utama pertumbuhan pembiayaan korporasi Bank Mega Syariah.

Kedua sektor tersebut dinilai memiliki fundamental yang kuat, kebutuhan yang relatif stabil, serta prospek pertumbuhan yang positif seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan.

Di samping itu, perseroan melihat peluang pembiayaan pada infrastruktur, komoditas, perdagangan, transportasi dan logistik, serta berbagai sektor jasa lainnya yang memiliki prospek usaha yang baik.

Baca juga: Laba sebelum pajak Bank Mega Syariah pada Q1 2026 tumbuh 51,67 persen

Baca juga: Bank Mega Syariah himpun DPK Rp709 miliar selama Ramadhan 2026

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya