Asal Usul Jakun dan Payudara dalam Kisah Nabi Adam: Fakta atau Mitos?

2 jam yang lalu 2

Banyak dari kita mungkin pernah mendengar cerita tentang Nabi Adam dan Hawa saat memakan buah terlarang. Kisah ini cukup populer dan sering diceritakan ulang, bahkan terasa seperti bagian dari pelajaran yang “wajib tahu”.

Dalam cerita yang beredar, diceritakan bahwa ketika Nabi Adam menelan buah tersebut hingga sampai di tenggorokan, beliau baru teringat akan larangan dari Allah. Akibatnya, bagian itu menjadi menonjol dan disebut sebagai jakun.

Sementara itu, Hawa disebut baru tersadar ketika buah tersebut sampai di bagian dadanya. Dari situlah kemudian dikaitkan dengan terbentuknya payudara.

Sekilas, cerita ini memang menarik, mudah diingat, dan sering dipakai untuk menggambarkan konsekuensi dari sebuah pelanggaran. Tidak heran kalau kisah ini terus berulang dari satu cerita ke cerita lainnya.

Tapi sebagai seorang muslim yang menghargai ilmu, kita tidak bisa langsung menerima begitu saja setiap cerita, terutama yang berkaitan dengan Nabi dan ajaran agama. Penting untuk mengecek kembali: apakah kisah ini benar-benar memiliki dasar yang kuat dalam sumber Islam yang sahih, atau hanya sekadar cerita yang berkembang di masyarakat atau bahkan hanya mitos belaka?

Jadi, sebenarnya bagaimana? Benarkah kisah tentang asal-usul jakun dan payudara ini bisa dipertanggungjawabkan dalam ajaran Islam? Mari kita telusuri lebih lanjut.

Adam dan Hawa Memakan Buah Terlarang

Kisah Nabi Adam dan Hawa saat memakan buah terlarang sebenarnya sudah dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur’an, tepatnya di Surat Al-A’raf ayat 19–22. Dalam ayat-ayat ini, Allah memerintahkan keduanya untuk tinggal di surga dan menikmati segala kenikmatannya. Namun, ada satu larangan penting: jangan mendekati pohon tertentu.

Sayangnya, godaan dan bisikan setan berhasil memengaruhi hati mereka. Setan tidak henti-hentinya membisikkan kata-kata manis, bahkan bersumpah bahwa ia sebenarnya adalah penasihat yang hanya ingin kebaikan bagi mereka.

Hingga akhirnya, terjadilah apa yang telah ditakdirkan. Ketika keduanya sudah mencicipi buah dari pohon tersebut, terbukalah aurat mereka masing-masing, dan mereka segera menutupinya dengan menempelkan daun-daun dari surga. Pada saat itulah seruan Allah datang mengingatkan mereka berdua, berikut sebagian kutipan ayatnya, Allah berfirman:

فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآَتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya, “Maka, ketika keduanya telah mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah pada keduanya auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (di) surga. Tuhan mereka menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?’” (QS. Al-A’raf, [7]: 22)

Merujuk pada penjelasan Fakhruddin ar-Razi (wafat 606 H), ia menyoroti penggunaan kata “dzaqaa” yang berarti “mencicipi” dalam ayat tersebut. Menurutnya, kata ini menunjukkan bahwa Adam dan Hawa kemungkinan hanya mengambil sedikit buah itu sekadar untuk mengetahui rasanya, bukan langsung memakannya sampai habis.

Bahkan, ar-Razi menjelaskan bahwa kalau saja tidak ada penjelasan di ayat lain yaitu dalam Surat Thaha ayat 121, yang menyebutkan bahwa mereka benar-benar memakannya, maka kata “mencicipi” saja belum tentu menunjukkan bahwa buah itu ditelan.

Sebab, dalam kehidupan sehari-hari pun, seseorang yang “mencicipi” sesuatu belum tentu menelannya. Bisa saja hanya dirasakan di lidah, lalu dibuang.

Simak penjelasannya berikut ini:

قَالَ تَعَالىَ: فَلَمَّا ذاقَا الشَّجَرَةَ. وَذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُمَا تَنَاوَلَا الْيَسِيرَ قَصْدًا إِلَى مَعْرِفَةِ طَعْمِهِ وَلَوْلَا أَنَّهُ تَعَالَى ذَكَرَ فِي آيَةٍ أُخْرَى أَنَّهُمَا أَكَلَا مِنْهَا لَكَانَ مَا فِي هَذِهِ الْآيَةِ لَا يَدُلُّ عَلَى الْأَكْلِ لِأَنَّ الذَّائِقَ قَدْ يَكُونُ ذَائِقًا مِنْ دُونِ أَكْلٍ

Artinya, “Allah berfirman: ‘Maka, ketika keduanya telah mencicipi (buah) pohon itu’. Dan itu menunjukkan bahwa keduanya benar-benar mencicipi meskipun sedikit dengan tujuan mengetahui rasanya.

Seandainya Allah tidak menyebutkan dalam ayat lain bahwa keduanya memakan buah itu, niscaya apa yang ada dalam ayat ini tidak menunjukkan perbuatan makan, karena orang yang mencicipi bisa jadi hanya sekadar mencicipi tanpa disertai proses memakan.” (Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut: Darul Ihya at-Turats, 1420 H], jilid XIV, halaman 220).

Dari penjelasan ini, sangat jelas terlihat bahwa peristiwa itu terjadi begitu cepat dan dampaknya pun langsung terasa. Begitu buah itu menyentuh lidah dan rasanya terasa, seketika itu pula aurat mereka tampak dan mereka menyadari kesalahannya.

Lalu muncul pertanyaan: benarkah cerita yang sering beredar bahwa kesadaran itu baru datang ketika buah sampai di tenggorokan atau dada, lalu menjadi sebab terbentuknya jakun dan payudara?

Jika ditelusuri lebih jauh, termasuk merujuk pada berbagai kitab tafsir klasik maupun kontemporer, tidak ditemukan penjelasan yang mendukung cerita tersebut. Tidak ada keterangan yang mengaitkan peristiwa itu dengan terbentuknya ciri fisik seperti jakun atau payudara.

Justru dari penjelasan para ulama, kesadaran itu muncul sejak rasa buah sampai di lidah, bahkan sebelum sempat ditelan. Artinya, tidak ada dasar yang kuat untuk menghubungkan kisah ini dengan proses di tenggorokan, dada, atau pembentukan bagian tubuh tertentu.

Jadi, cerita yang sering kita dengar itu lebih tepat dipahami sebagai kisah yang berkembang di masyarakat, bukan bersumber dari dalil yang jelas.

Dalam ayat yang lain, Allah swt berfirman:

فَأَكَلا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ

Artinya, “Lalu, mereka berdua memakannya sehingga tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga.” (QS. Thaha, [20]: 121).

Mengutip penjelasan Ibnu Abbas sebagaimana dicatat oleh Imam Ibnu Ajibah dalam kitab Al-Bahrul Madid fi Tafsiril Qur’an al-Majid, disebutkan bahwa ketika Adam dan Hawa memakan buah tersebut, maka hilanglah pakaian penutup yang sebelumnya Allah berikan kepada mereka, sehingga aurat keduanya hingga kemaluannya tampak seketika.

Simak penjelasan berikut ini:

قَالَ تَعَالىَ: فَأَكَلا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: عرِيَا عَنِ النُّورِ الَّذِي كَانَ الله تَعَالَى أَلْبَسَهُمَا حَتَّى بَدَتْ فُرُوجُهُمَا

Artinya, “Allah berfirman: ‘Lalu, mereka berdua memakannya sehingga tampaklah oleh keduanya aurat mereka.’ Ibnu Abbas berkata: ‘Mereka berdua terbuka dari cahaya yang sebelumnya telah dipakaikan Allah Ta’ala kepada mereka, hingga akhirnya terlihatlah kemaluan mereka’.” (Al-Bahrul Madid fi Tafsiril Qur’an al-Majid, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 2002 M], jilid IV, halaman 459).

Jika dalam beberapa referensi kitab-kitab tafsir dan yang lain tidak dijumpai penjelasan tersebut, lantas berasal dari mana kisah-kisah yang beredar bahwa kesadaran akan larangan itu baru muncul ketika buah sampai di tenggorokan atau dada, lalu menyebabkan terbentuknya jakun dan payudara? Mari kita lanjutkan.

Sebagaimana penulis kutip dari laman National Library of Medicine, National Center for Biotechnology Information, terdapat sebuah istilah dalam hal ini, yaitu “Adam’s Apple” yang berarti “jakun” dalam bahasa Indonesia. Pada laman tersebut, istilah “Adam’s Apple” diperkirakan muncul sebagai kiasan yang merujuk pada anggapan bahwa buah terlarang itu tersangkut di tenggorokan Nabi Adam.

Namun, sumber ini juga menegaskan bahwa kemungkinan besar nama tersebut justru berasal dari kesalahan penerjemahan istilah dalam bahasa Ibrani yang aslinya bermakna “tonjolan atau pembengkakan pada laki-laki”, yang kemudian disalahartikan dan dikaitkan secara harfiah dengan peristiwa buah yang tertinggal di kerongkongan.

Demikian pembahasan mengenai kisah yang sering beredar tentang asal-usul jakun dan payudara dalam peristiwa Nabi Adam dan Hawa. Berdasarkan penjelasan Al-Qur’an serta keterangan para ulama tafsir, dapat disimpulkan bahwa narasi tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dalam sumber ajaran Islam yang otentik.

Semoga tulisan ini bisa menambah pemahaman dan kehati-hatian kita dalam menerima serta menyebarkan informasi, terutama yang berkaitan dengan agama. Wallahu a’lam bisshawab.

-------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Baca Artikel Selengkapnya