Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump diklaim sempat menyiapkan mantan presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menjadi pengganti pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khameni usai tewas.
Media Amerika Serikat Times New York mengutip para pejabat Washington melaporkan Pemerintahan Trump dan Israel berencana menempatkan Ahmadinejad beberapa hari usai menggempur Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Times menyebut rencana AS-Israel mengangkat Ahmadinejad sebagai pemimpin baru Iran "adalah bagian rencana bertahap yang dikembangkan Israel untuk menggulingkan pemerintahan teokratis Iran," demikian dikutip Anadolu Agency, Rabu (20/5).
Para pejabat menyebut rencana "berani" itu dikembangkan Israel dengan persetujuan pemerintah AS untuk mengganti pemimpin Iran.
Trump, menurut laporan tersebut, menyarankan di awal perang akan lebih baik jika "seseorang dari dalam"Iran mengambil alih negara itu.
Orang tersebut yakni Ahmadinejad, eks presiden Iran yang dikenal karena pandangan garis keras, anit-Israel, dan anti-Amerika.
New York Times tak memberi rincian bagaimana Ahmadinejad jadi pilihan AS dan Israel. Namun, dia disebut sebagai "pilihan tak biasa" mengingat saat menjabat eks presiden itu berusaha menghapus Israel dari peta.
Gedung Putih juga tak menjawab apa peran Ahmadinejad dalam rencana perubahan rezim. Namun, mereka merilis pernyataan tentang arahan Amerika Serikat untuk perang di Iran.
"Sejak awal, Presiden Trump menjelaskan tujuannya untuk Operasi Epic Fury: menghancurkan rudal balistik Iran, membongkar fasilitas produksinya, menenggelamkan angkatan lautnya, dan melemahkan proksinya," kata juru bicara Gedung Putih Anna Kelly.
"Militer Amerika Serikat telah memenuhi atau melampaui semua tujuannya, dan sekarang, negara-negara tetangga kita sedang berupaya mencapai kesepakatan yang akan mengakhiri kemampuan nuklir Iran untuk selamanya," imbuh dia.
Ahmadinejad juga pendukung kuat program nuklir Iran, pengkritik AS, dan dikenal menindak keras perbedaan pendapat meski di internal.
Menurut pengakuan pejabat tujuan AS-Israel menggempur Iran untuk melenyapkan pemimpinnya, menghancurkan program nuklir hingga rudal balistik mereka. Serangan itu disebut-sebut juga untuk untuk membebaskan Ahmadinejad dari tahanan rumah.
Namun, rencana AS dan Israel berantakan. Gempuran mereka menyebabkan Ahmadinejad terluka di hari pertama perang imbas serangan Israel.
"[Baik Ahamdinejad maupun pejabat AS] jadi kecewa dengan rencana perubahan rezim," ujar pejabat itu.
Setelah terluka imbas ledakan, eks presiden itu belum pernah terlihat di depan publik dan tidak diketahui keberadaannya.
Rencana mengganti pemimpin Iran muncul setelah penangkapan Presiden Venezuela saat itu, Nicolas Maduro, pada Januari lalu. Pengganti Maduro adalah orang yang menurut Trump bisa diajak kerja sama dan menuruti kemauan dia.
(isa/bac)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
5









English (US) ·
Indonesian (ID) ·