AS Pertimbangkan Tiru Iran Bikin Markas Bawah Tanah

38 menit yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Amerika Serikat mempertimbangkan memindahkan sebagian pusat komando militernya di Timur Tengah ke fasilitas bawah tanah setelah serangan rudal dan drone Iran menyebabkan kerusakan serius pada pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain. Pilihan tersebut menyerupai strategi yang selama bertahun-tahun digunakan Iran untuk melindungi pusat komando, rudal, peluncur, dan fasilitas militernya dari serangan udara.

The Wall Street Journal melaporkan pejabat pertahanan AS sedang mengevaluasi sejumlah perubahan besar setelah Naval Support Activity Bahrain dihantam berulang kali sepanjang perang. Pilihan yang dibahas mencakup tidak membangun kembali sebagian struktur yang rusak, memindahkan pusat komando ke bawah tanah, menyebarkan kemampuan ke beberapa lokasi, hingga mengurangi ketergantungan terhadap satu pangkalan besar.

Pertimbangan itu mendapatkan sorotan baru setelah Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao secara terbuka mengakui besarnya kerusakan yang ditimbulkan Iran. Cao telah menjabat sebagai Acting Secretary of the Navy sejak 22 April 2026.

“Iran benar-benar menghantam Bahrain dengan sangat keras,” kata Cao dalam wawancara dengan The Epoch Times, sebagaimana dikutip Reuters pada Kamis, 10 September 2026. Pernyataan tersebut merujuk pada Naval Support Activity Bahrain, pangkalan yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.

Ucapan Cao menjadi salah satu pengakuan paling terbuka dari pejabat senior Amerika mengenai dampak serangan Iran terhadap infrastruktur militernya. Cao tidak mengatakan pangkalan tersebut hancur total, dan operasi Armada Kelima tetap berlangsung, tetapi kerusakan yang muncul cukup besar hingga Washington mulai mempertanyakan model pangkalan yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung kehadiran militernya di Teluk.

Pusat Komando hingga Satelit Rusak

Serangan terhadap pangkalan Bahrain dimulai sejak hari pertama perang pada 28 Februari 2026. USNI News ketika itu melaporkan rudal Iran menghantam markas Armada Kelima di Manama, sementara sebuah drone serang juga menghantam Naval Support Activity Bahrain dan tampak menghancurkan sebuah radome yang berkaitan dengan kemampuan komunikasi atau sensor.

Tidak ada korban jiwa AS yang dilaporkan akibat serangan awal di pangkalan tersebut. Namun, investigasi The Wall Street Journal kemudian menemukan serangan rudal dan drone antara Februari dan Juni merusak pusat komando, sejumlah bangunan, serta terminal komunikasi satelit.

Sebagian besar personel sempat dievakuasi, meskipun operasi militer tetap berlangsung. Biaya pembangunan kembali Naval Support Activity Bahrain saja diperkirakan dapat mencapai sekitar 400 juta dolar AS.

Kerusakan tersebut memunculkan pertanyaan mendasar di Pentagon. Pangkalan besar dan permanen memang memberikan keuntungan logistik, tetapi fasilitas semacam itu sekaligus menjadi sasaran bernilai tinggi ketika lawan memiliki rudal presisi dan drone yang mampu menjangkau lokasi militer AS di kawasan.

Karena itu, salah satu pilihan yang dipertimbangkan adalah menempatkan pusat komando di bawah tanah. Pendekatan lain adalah menyebarkan personel, sistem komunikasi, dan kemampuan operasional ke sejumlah lokasi sehingga satu serangan tidak dapat melumpuhkan bagian penting dari rantai komando.

Baca Artikel Selengkapnya