Jakarta, CNN Indonesia --
Remaja asal Singapura, Malone Lam, mengaku tidak menyangka penangkapannya membuat kehebohan usai melakukan pencurian uang kripto Rp4,2 triliun dan konspirasi pemerasan (racketeering).
"Kami sering membicarakan bagaimana jadinya jika saya tertangkap, tetapi tidak pernah menyangka akan seheboh ini," ujar Lam dikutip dari CNN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lam mengaku bersalah di pengadilan Amerika Serikat setelah didakwa 20 tahun penjara karena mendalangi pencurian uang kripto lebih dari US$260 juta atau setara Rp4,2 triliun. Kejahatan itu dilakukan Lam pada 2024.
Dalam persidangan yang berlangsung pekan ini, Selasa (8/9), Warga Negara Singapura itu mengaku bersalah. Lam mengakui mengatur dan memimpin jaringan tersebut sebelum ditangkap pada September 2024.
Lam mengaku bersalah bersekongkol dengan teman-temannya untuk mencuri bitcoin senilai hampir seperempat miliar dolar dari seorang warga Washington, D.C. Total ada 18 orang yang didakwa melakukan pencurian uang kripto dalam kasus Lam. Ini merupakan salah satu pencurian mata uang kripto terbesar dalam sejarah AS.
Lam kemudian menghabiskan uang hasil pencucian aset tersebut secara besar-besaran. Pria 22 tahun itu kemudian menghabiskan uang kripto curiannya untuk membeli mobil mewah, jam mewah, hingga pesta di kelab malam.
Pihak berwenang mengatakan Malone Lam menghabiskan jutaan dolar di kelab malam, termasuk US$569 ribu (setara Rp10 miliar) dalam satu malam di sebuah kelab di Los Angeles.
Menurut FBI, Lam membeli jam tangan seharga US$2 juta (setara Rp35,2 miliar) dan lebih dari 30 mobil, termasuk Porsche, Lamborghini, dan Ferrari yang dimodifikasi khusus.
Menariknya, Lam mengaku tidak semua kendaraan-kendaraan mewah yang ia beli berdasarkan pilihannya sendiri. Ada kendaraan yang dibeli oleh orang lain.
Ketika hakim bertanya apakah ia ingat kendaraan mana saja yang ia beli secara pribadi, Malone Lam mengatakan, "Saya butuh waktu [untuk mengingatnya]."
(har/bac)

49 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·