REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Amerika Serikat menggelar pembicaraan mengenai masa depan pertahanan NATO bersama sejumlah negara Eropa melalui format kecil yang dikenal sebagai Bergen Group. Namun, tidak dilibatkannya Inggris, Prancis, serta tiga negara Baltik memunculkan pertanyaan mengenai arah hubungan Washington dengan para sekutunya di tengah perubahan besar struktur pertahanan trans-Atlantik.
Euronews pada Senin (5/10/2026) melaporkan pembicaraan dipimpin pejabat senior Pentagon yang membidangi kebijakan pertahanan, Elbridge Colby. Negara yang disebut terlibat dalam pembicaraan terbaru adalah Swedia, Finlandia, Polandia, Jerman, dan Belanda.
Format tersebut dikenal sebagai Bergen Group setelah pertemuan awal di Bergen, Norwegia. Laporan Berliner Zeitung menyebut Colby sebelumnya telah menggelar dua pertemuan serupa yang melibatkan Norwegia, Swedia, Finlandia, Polandia, Jerman, dan Belanda.
Inggris, Prancis, Estonia, Latvia, dan Lithuania tidak termasuk dalam kelompok yang diundang. Padahal, negara-negara itu memiliki posisi penting dalam arsitektur pertahanan NATO, baik karena kemampuan militernya maupun letak geografisnya yang berhadapan langsung dengan Rusia.
Le Monde juga melaporkan Pentagon mengundang sejumlah sekutu untuk membicarakan masa depan NATO tanpa menyertakan Inggris, Prancis, dan negara-negara Baltik. Media Prancis tersebut, dengan merujuk laporan Politico dan enam diplomat yang mengetahui persiapan pertemuan, menyebut format itu sebagai kelompok kerja informal yang membahas arah masa depan aliansi.
Berliner Zeitung pada 1 Oktober menyampaikan informasi serupa. Media Jerman itu melaporkan sejumlah diplomat mempertanyakan dasar pemilihan negara peserta karena beberapa negara yang tidak diundang justru termasuk pemain pertahanan penting Eropa.
Namun, Bergen Group bukan struktur resmi baru di dalam NATO. Seorang diplomat dari negara peserta mengatakan kelompok kecil tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan gagasan yang nantinya dapat dibawa ke seluruh anggota NATO untuk dibahas lebih lanjut.
NATO juga berusaha meredam kekhawatiran mengenai keberadaan format tersebut. Seorang pejabat NATO mengatakan kepada Euronews bahwa pertemuan sekelompok sekutu dalam format yang lebih kecil bukan sesuatu yang tidak biasa di dalam aliansi.
Pertanyaan soal 'Negara Pilihan'
Kontroversi muncul karena komposisi kelompok tersebut dianggap dapat menciptakan kesan bahwa Washington memiliki kelompok sekutu pilihan. Fabrice Pothier, CEO Rasmussen Global dan mantan pejabat perencanaan kebijakan NATO, memperingatkan pengelompokan semacam itu dapat menjadi masalah bagi aliansi yang bergantung pada prinsip pertahanan kolektif.
Menurut Pothier, kelompok kecil memang lazim digunakan untuk menghasilkan gagasan baru dalam organisasi besar. Namun, pemilihan sebagian sekutu dan tidak dilibatkannya negara lain menimbulkan pertanyaan jika forum tersebut membahas arah strategis NATO secara keseluruhan.
Colby sebelumnya memberi alasan lebih praktis. Seusai pertemuan pertama Bergen Group, ia menggambarkan negara-negara peserta sebagai sekutu yang cepat memenuhi komitmen belanja pertahanan, mempunyai skala kemampuan militer yang cukup, dan siap bergerak pada persoalan-persoalan praktis.
Tujuannya, menurut Colby, bukan membentuk NATO tandingan. Ia mengatakan kelompok tersebut diharapkan dapat mendorong seluruh aliansi bergerak menuju struktur pertahanan yang memberikan peran jauh lebih besar kepada negara-negara Eropa.

48 menit yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·