Jakarta (ANTARA) - Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menyampaikan, kenaikan harga nikel berpotensi memberikan tambahan kontribusi terhadap pendapatan dan laba PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam
Dalam pernyataan di Jakarta, Rabu, ia mengatakan, kenaikan harga nikel akan meningkatkan harga jual rata-rata nikel perseroan, sehingga margin keuntungan dan profitabilitas segmen tersebut ikut menguat.
“Dari perspektif pasar saham, penguatan harga nikel juga dapat memperbaiki ekspektasi investor terhadap prospek laba dan mendorong revaluasi saham ANTM. Namun, keberlanjutan katalis ini tetap bergantung pada konsistensi kenaikan harga nikel, volume penjualan, biaya produksi, serta kebijakan kuota produksi dan hilirisasi,” ujar dia.
Investor, kata Nafan, juga perlu mewaspadai risiko kelebihan pasokan global yang dapat membatasi kenaikan harga komoditas tersebut. Artinya, konfirmasi tren harga nikel dan kinerja keuangan tetap diperlukan sebelum menyimpulkan bahwa kenaikan saham akan berlanjut.
Harga nikel diketahui berada di sekitar 16.000 dolar AS per ton di London Metal Exchange (LME).
Adapun hingga September 2026, Antam membukukan laba bersih sebesar Rp9,66 triliun, meningkat 46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,61 triliun. Pada periode tersebut, pendapatan perseroan naik 23 persen menjadi Rp88,4 triliun dari Rp72 triliun.
Penjualan domestik berkontribusi sebesar Rp83,86 triliun atau setara 95 persen dari total pendapatan. Jumlah tersebut meningkat 21 persen, mencerminkan kuatnya penyerapan emas, bijih nikel, dan bijih bauksit perseroan.
Segmen nikel yang mencakup feronikel dan bijih nikel menyumbang 19 persen terhadap total pendapatan Antam hingga September 2026. Pendapatan dari segmen tersebut mencapai Rp16,98 triliun, meningkat 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp11,15 triliun.
Sejalan dengan upaya optimalisasi kegiatan penambangan dan pengelolaan operasional, Antam memproduksi bijih nikel sebanyak 12,16 juta wet metric ton (wmt) hingga September 2026, dengan penjualan mencapai 10,73 juta wmt.
Sementara itu, produksi feronikel mencapai 11.638 ton nikel dalam feronikel (TNi), didukung stabilitas operasional serta ketersediaan bahan baku yang memadai. Secara kumulatif, penjualan feronikel mencapai 13.971 TNi, meningkat 71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 8.182 TNi.
BNI Sekuritas memprediksi laba bersih perseroan tumbuh 92 persen menjadi Rp12,4 triliun pada 2026. Selain itu, saham perusahaan negara ini dinilai diperdagangkan cukup murah dengan rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) sebesar 5,3 kali.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arini Kasmira mengatakan, kinerja nikel pada semester pertama tahun ini menunjukkan pentingnya diversifikasi portofolio komoditas dalam menjaga kualitas kinerja perseroan.
"Penguatan kontribusi bisnis nikel pada semester I 2026 menjadi bagian dari upaya perseroan menjaga keseimbangan portofolio di tengah dinamika pasar komoditas," ujar Arini.
Arini menambahkan, perseroan akan tetap mencermati perkembangan pasar dan menjaga fleksibilitas strategi bisnis dalam mengoptimalkan potensi masing-masing komoditas.
"Fokus kami adalah menjaga pertumbuhan yang sehat melalui pengelolaan portofolio secara disiplin, penguatan efisiensi, serta pengembangan bisnis yang terukur agar dapat terus memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perseroan," ucap Arini.
Baca juga: Periklindo nilai insentif EV berbasis baterai nikel perlu dikaji
Baca juga: Bahlil bidik nilai ekspor nikel tembus 50 miliar dolar AS pada 2026
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·